Kuasa Hukum Wardiaman Sebut Dakwaan Jaksa Tak Jelas

867
Pesona Indonesia
Wardiaman Zebua saat sidang pembacaan eksepsi di PN Batam, Selasa (29/3/2016). Foto: yashinta/batampos
Wardiaman Zebua saat sidang pembacaan eksepsi di PN Batam, Selasa (29/3/2016). Foto: yashinta/batampos

batampos.co.id – Pengadilan Negeri Batam kembali menggelar sidang kasus pembunuhan Dian Milenia Trisna Afiefa dengan agenda pembacaan eksepsi, Selasa (29/3/2016). Pihak terdakwa menilai semua dakwaan jaksa kabur dan tidak ada bukti kuat yang menguatkan bahwa Wardiaman Zebua adalah pelaku pembunuhan tersebut.

Dalam eksepsinya, kuasa hukum Wardiaman menjabarkan beberapa poin alasan menolak dakwaan jaksa. Yang pertama, berkas perkara cacat hukum dikarenakan adanya unsur dugaan rekayasa dalam penetapan Wardiaman sebagai tersangka pembunuhan.

Dalam keterangan beberapa saksi mengatakan mereka pernah diberhentikan seseorang yang mirip dengan Wardiaman. Hanya dengan keterangan itu, penyidik mengambil kesimpulan bahwa Wardiaman adalah pelaku pembunuhan. Polisi kemudian menculik Wardiaman.

Apalagi, Wardiaman yang diamankan sebelum ditetapkan sebagai tersangka sempat tak sadarkan diri. Sehingga ada kemungkinan penyidik sengaja mengambil sampel darah dan bulu Wardiaman agar bisa dikaitkan dengan kematian Nia.

Penyidik diduga tak memiliki bukti pemulaan dan alat bukti yang sah. Padahal untuk menetapkan seseorang sebagai tersangka harus ada dua alat bukti yang kuat.

“JPU juga menyatakan berkas perkara yang cacat hukum lengkap, tanpa meneliti berkas perkara secara benar,” terang Utusan Sarumaha, salah satu kuasa hukum Wardiaman.

Poin lainnya adalah dakwaan jaksa kabur karena uraian dakwaan primer dan subsidair sama. Padahal seharusnya antara dakwaan yang satu dengan yang lain harus memiliki unsur yang berbeda. Namun pada dakwaan pembunuhan ini, tak ada perbedaan antara dakwaan primair dan subsidair. Uraian sistematik dakwaan juga tak jelas. Jaksa juga dinilai mencampur unsur pidana yang satu dengan yang lain.

“Surat dakwaan harus memiliki syarat formil dan materil, dan harus diuraikan secara cermat. Kabur karena tak diuraikan secara lengkap,” sebut Utusan.

Tak hanya itu, kuasa hukum juga menilai dakwaan pelanggaran pasal 340 KUHP tentang pembunuhan berencana juga tak masuk akal. Karena tidak mungkin melakukan pembunuhan berencana terhadap orang yang tak dikenal terdakwa. Jaksa juga tak bisa menjelaskan bagaimana pelaksanaan pembunuhan dilakukan karena tak pernah diakui terdakwa.

“Uraian pasal pembunuhan berencana tidak diuraikan secara cermat,” tegas Utusan.

Atas penolakaan dakwaan itu, lanjut Utusan,layaklah majelis hakim menjatuhkan putusan sela dengan menerima esepsi atau keberatan Wardiaman, menyatakan rumusan dakwaan JPU tidak cermat, kabur dan batal demi hukum.

“Memerintahkan terdakwa Wardiaman dibebaskan dalam putusan sela. Serta membebankan biaya perkara kepada negara,” sebut tim kuasa hukum Wardiaman lainnya.

Usai mendengar esepsi tim kuasa hukum terdakwa, JPU Bani Immanuel Ginting dan Rumondang meminta waktu dua hari untuk menjawab keberatan terdakwa. Sidang pun ditunda hingga Kamis (1/4/2016) depan. (she/eggi/bp)

Baca Juga:
> Pengacara Wardiaman Siapkan 10 Halaman Pembelaan
> Kakak Wardiaman Sebut Tuduhan JPU Rekayasa
> Wardiaman Bantah Semua Tuduhan Jaksa
> Ini Hasil Uji Kebohongan Wardiaman, Terdakwa Pembunuh Nia
> Di BAP, Polisi Sebut Wardiaman Tusuk Punggung Nia Sebelum Dinodai
> Sidang Perdana, Wardiaman Didampingi 8 Pengacara
> Sidang Perdana Dimulai, Wardiaman Tampak Tenang
> Tes Kejiwaan di Mabes Polri, Wardiaman Wajib Didampingi Pengacara
> Kuasa Hukum: Wardiaman Zebua Korban Salah Tangkap
> Mungkinkah Wardiaman Zebua Pembunuh Anggi dan Chintya?
> Wardiaman Tersangka Pembunuh Nia Memilih Bungkam
> Wardiaman Zebua (WZ), Resmi Tersangka

Respon Anda?

komentar