Malam Ini, Baca Puisi Lawen untuk Lawen di Tepi Laut

1499
Pesona Indonesia
Junewal Muchtar yang akrab disapa Lawen saat membaca puisinya di Tepi Laut Tanjungpinang, beberapa waktu lalu. Foto:Yusnadi/Batam Pos
Junewal Muchtar yang akrab disapa Lawen saat membaca puisinya di Tepi Laut Tanjungpinang, beberapa waktu lalu. Foto:Yusnadi/Batam Pos

batampos.co.id – Penyair Junewal Muchtar boleh terbaring sakit sejak awal pekan silam. Tapi, api dalam puisi-puisinya tidak pernah padam. Selama berproses kreatif, penyair yang akrab disapa Lawen ini telah menulis banyak puisi. Maka dari itu, Dewan Kesenian Provinsi Kepulauan Riau mengajak semua orang peduli dengan menggelar Malam Apresiasi dan Donasi ‘Pada Sajak-sajak Lawen’, Rabu (30/3) malam ini di Taman Tepi Laut Tanjungpinang.

“Jangan sok tau tentang kebudayaan, ngomong bangga Gurindam 12 lahir di sini. Tapi untuk peduli dengan puisi bagian dari kebudayaan saja tidak berani,” kata Ketua Dewan Kesenian Kepri, Husnizar Hood, Selasa (29/3).

Husnizar menegaskan, tidak ada alasan untuk tidak menemani Lawen berjuang melawan penyakitnya. Sebagai seorang pelaku seni yang menempuh jalan sunyi, di mata Husnizar, Lawen sudah melakukannya dengan gagah berani. Itu pula yang menjadi titik api agar harapan semua orang bisa ikut peduli. “Negeri ini dibesarkan dengan karya-karya sastra yang disebut-sebut banyak orang. Jangan hanya numpang bangga tapi tidak berbuat apa-apa,” tegasnya.

Setiap rupiah yang terkumpul nantinya bakal digunakan untuk dua hal penting. Pertama, adalah membantu biaya pemulihan kesehatan Lawen yang hingga kini masih terbaring di bangsal Mawar RSUD Kota Tanjungpinang. Kedua, adalah penerbitan buku ‘Retak Topeng Batu’, bunga rampai puisi-puisi pilihan terbaik Lawen selama ini.

Buku puisi ini akan menjadi sumbangsih penting Lawen setelah Batu Api (1999), Perjalanan Darah ke Kota; Retak Mencari Belah (2003), dan Topeng Makyong (2008). Arti penting keberadaan Lawen sebagai penyair di Provinsi Kepri sudah diutarakan kritikus sastra Maman S. Mahayana.

“Dalam serangkaian pembacaan puisinya, Lawen kerap tampil menderapkan spontanitas, kecepatan berpikir, dan improvisasi, sebagaimana yang menjadi semangat dasar berpantun, dan mabuk ekspresif sebagai representasi segala rasa dalam memandang situasi sosial di sekitarnya. Mungkin ia bermaksud memberontak, mencemooh, menyampaikan kritik sosial, mencoba memberi penyadaran atau mengungkap kecintaan,” tulis Maman.

Karena itu, siapa pun yang mengaku peduli kebudayaan, Husnizar meminta mereka untuk datang. Ada acara bincang-bincang seputar karya Lawen, pembacaan puisinya, serta galang dana. Jatuh sakitnya seorang penyair, kata Husnizar, adalah kesedihan bagi penyair lain. “Selain tetap mendoakan agar Lawen tetap semangat melawan penyakitnya, seniman lain tidak boleh berdiam diri,” ungkap Husnizar melalui sambungan telepon.

Bagi Husnizar, yang membela seniman adalah seniman. Kalau seniman sudah tutup mata dengan seniman lain, siapa yang hendak peduli. Maka seniman lain harus turun tangan berbuat sesuatu demi kesembuhan Lawen.”Kami akan membacakan puisi-puisi Lawen. Setiap yang datang bisa memberikan bantuan ala kadarnya buat biaya pengobatan Lawen,” pungkas Husnizar. (muf/bpos)

Respon Anda?

komentar