Megawati: Kalau Tidak Begitu Nanti Poco-Poco Terus

563
Pesona Indonesia
Presiden RI ke-5 Megawati Soekarnoputri. Foto: dokumen JPNN.Com
Presiden RI ke-5 Megawati Soekarnoputri.
Foto: dokumen JPNN.Com

batampos.co.id –  Presiden RI ke-5 Megawati Soekarnoputri kembali menyuarakan ide tentang amandemen Undang-undang Dasar (UUD). Menurutnya, amandemen itu untuk mengembalikan Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) RI sebagai lembaga tertinggi negara.

Megawati menyampaikan hal itu ketika menjadi pembicara kunci dalam Konvensi Nasional Tentang Haluan Negara d9 JCC Senayan, Jakarta, Rabu (30/3). Hadir dalam acara itu mantan Wakil Presiden Try Sutrisno, Ketua MPR Zulkifli Hasan, serta sejumlah tokoh seperti mantan Wakil Ketua DPR Akbar Tandjung dan Ketua Umum Golkar Aburizal Bakrie.

“MPR itu mestinya naik lagi, tinggi musti tertinggi. Kalau tidak begitu nanti poco-poco terus,” kata Megawati dalam acara yang juga dihadiri para rektor berbagai perguruan tinggi.

Poco-poco yang dimaksud Megawati adalah gaya tari yang maju selangkah, tapi mundur dua langkah, lanats kembali ke tempat semula. Artinya, pembangunan pun hanya berjalan di tempat.

Dalam forum itu Megawati juga mengingatkan  pentingnya haluan bagi pembangunan negara. Di era Bung Karno, kata Megawati, ada Pola Pembangunan Nasional Semesta Berencana.

Megawati menambahkan, sejak reformasi 1998, liberalisasi telah masuk dalam keseluruhan sendi-sendi kehidupan negara. Liberalisasi di bidang politik dan ekonomi berjalan simultan sebagai konsekuensi penandatanganan letter of intent Dana Moneter Internasional (IMF) di era Presiden Soeharto dengan IMF. Praktik demokrasi di Indonesia pun berubah drastis.

Karenanya Megawati mendukung upaya untuk meloloskan amandemen UUD 1945. Soal proses pelaksanaannya, ketua umum PDI Perjuangan itu menyerahkannya ke MPR.

Namun, ia mengingatkan bahwa amandemen  harus dilakukan secara terbatas. Tujuannya agar amandemen tidak melebar.

“Ini harus satu kata, amandemen terbatas. Kalau tidak dikunci pasti ke mana-mana,” ujarnya.(fat/jpnn)

Respon Anda?

komentar