Menhan RI Kontak Menhan Filipina untuk Operasi Pembebasan Sandera

1688
Pesona Indonesia
Menhan RI Ryamizard Ryacudu. Foto: istimewa
Menhan RI Ryamizard Ryacudu. Foto: istimewa

batampos.co.id – Menteri Pertahanan (Menhan) RI, Ryamizard Ryacudu menjelaskan, pihaknya saat ini terus melakukan koordinasi dengan pihak Menhan Filipina. Tujuaannya untuk melakukan langkah-langkah penyelamatan 10 WNI yang disandera kelompok militan Abu Sayyaf.

Koordinasi ini penting karena posisi tahanan berada di wilayah kedaulatan Filipina, sehingga TNI tidak bisa langsung masuk begitu saja.

Menhan memastikan, TNI dalam posisi siap siaga, jika sewaktu-waktu diperlukan Filipina untuk melakukan pembebasan.

’’Kami monitor terus. Kapal patroli AL sudah siap di dekat Ambalat,’’ ujarnya di Kantor Kemhan, Jakarta kemarin. Namun jika pihak Filipina menyatakan kesiapannya, Indonesia tidak akan memberikan bantuan militer.

Sementara terkait negosiasi, dia menegaskan jika hal tersebut menjadi domain Kementerian Luar Negeri. Termasuk kemungkinan melakukan penebusan atau tidak. ’’Kalau kita bisa lepas tanpa bayar ya buat apa bayar,’’ imbuhnya.

Mantan Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) itu mensinyalir, perompak memanfaatkan ketegangan Laut Cina Selatan untuk melakukan aksinya. ’’Sudah saya sampaikan dari dulu, harus ada patroli bersama. Kalau ada patroli bersama tak akan ada perompak pencuri ikan,’’ tuturnya.

Kepala Penerangan Komando Pasukan Khusus (Kopassus) Letkol Inf Joko Tri Hadimantoyo menyampaikan hal yang sama. Anggota Kopassus berada dalam keadaan siap siaga.

TB Brahma 12 saat masih berada di Sungai Puting Kalimantan Selatan 14 Maret 20167. Foto: peter/facebook
TB Brahma 12 saat masih berada di Sungai Puting Kalimantan Selatan 14 Maret 20167. Foto: peter/facebook

“Setiap waktu diminta siap. Itu kan kewenangan pemerintah. Kalau Danjen kita disuruh siap,’’ ujarnya saat dihubungi. Untuk peristiwa khusus, lanjutnya, selain Kopassus, satuan lainnya adalah Paskhas dan Denjaka.

Kepala Dinas Penerangan TNI AL Kolonel Edi Sucipto menambahkan, ada atau tidak ada penyanderaan, KRI TNI AL sudah siaga di berbagai lokasi di sekitar perairan utara Indonesia. ’’Kami selalu siap, kalau ada perintah,’’ terangnya saat dihubungi Jawa Pos (grup batampos.co.id).

Sementara Kepala Divisi Hubungan Internasional Polri Irjen Ketut Untung Yoga menuturkan bahwa saat ini sedang koordinasi bersama untuk mengetahui lokasi kapal yang telah disandera tersebut. Pemerintah Indonesia tentu akan berupaya keras menemukannya. ’’Yang pasti harus ada melindungi WNI,’’ terangnya.

Teknisnya, TNI dan Polri juga ikut terlibat di lapangan untuk ikut membantu. Upaya itu tentunya didukung dengan informasi intelijen. ’’Saat ini semuanya masih dalam proses,’’ terang jenderal berbintang dua tersebut.

Soal lokasi pencarian, hingga saat ini juga masih belum diketahui. Yang pasti, kapal itu tentu disandarkan di pulau yang ada di Filipina. ’’Kan semuanya masih proses ini,’’ ujar mantan Kasespimti Lemdikpol Polri tersebut.

Dia menuturkan, sebenarnya semua saat ini masih cukup rancu. Misalnya, soal apakah ada kru yang dilepaskan dari Kapal Brahma 12, mengingat kapal tersebut sudah ditangan pemerintah Filipina. ’’Ya, semua ini masih dalam klarifikasi, belum pasti,’’ paparnya.

Apakah memungkinkan dilakukan operasi pembebasan? Dia mengatakan bahwa terkait rencana tindakan semua yang terjadi di perbatasan itu pasti ditangani TNI. ’’Kekuatan TNI yang di sana pasti disiapkan, dikoordinasikan,’’ terangnya.

Bagian lain, Kadivhumas Mabes Polri Irjen Anton Charliyan mengatakan, Polri telah berkomunikasi dengan Interpol untuk bisa melakukan langkah-langkah selanjutnya. ’’Kan ada jalur diplomatik,’’ jelasnya.

Namun begitu, Polri akan siap bila sewaktu-waktu diminta bantuannya untuk mendukung kebijakan pemerintah terkait masalah penyanderaan kapal tersebut. ’’Densus 88 Anti Teror dan Brimob siap untuk dikerahkan,’’ tegasnya.

Dia menjelaskan, harapannya semua  WNI yang disandera bisa diselamatkan dan tidak ada korban dalam masalah tersebut. ’’Karena itu, tentunya perlu respon yang akurat dalam menghadapi masalah tersebut,’’ terangnya.

Menteri Luar Negeri (Menlu) RI, Retno Marsudi mengaku pihaknya mengerahkan seluruh konsentrasi untuk menyelesaikan kasus ini. Termasuk berkoordinasi secara langsung Menlu Filipina Jose Rene Dimataga Almendras. ’’Prioritas kami saat ini adalah keselamatan 10 WNI yang disandera,’’ tegasnya. (bil/far/idr/byu/bay/jpgrup)

Baca Juga:
> Kapten Kapal yang Disandera Militan Abu Sayyaf Ber-KTP Batam
> Inilah Kekuatan Operasi Pembebasan 10 WNI yang Disandera Militan Abu Sayyaf
> 10 WNI Disandera Militan Abu Sayyaf, Jokowi Kumpulkan Petinggi TNI
> Menanti Pasukan Khusus TNI Selamatkan 10 WNI yang Disandera di Filipina
> Ini Foto-Foto Kapten Kapal TB Brahma 12 yang Disandera Militan Abu Sayyaf
> Kapal WNI yang Disandera Bawa 7.000 Ton Batu Bara
> 10 WNI Disandera, Militan Abu Sayyaf Minta Rp 15 Miliar

Respon Anda?

komentar