Theology Para Pengidap Sex, Alcohol, and Drugs (SAD)

826
Pesona Indonesia

Tak kenal maka tak sayang. Begitulah layaknya SAD merasuk generasi muda. Bukan hanya merasuk anak muda saja, kalangan warga berumur dan profesional, juga pejabat tak luput dari gempuran SAD.

Bagaikan sebuah fenomena alam. Semakin diberantas dengan segala kemampuan, dan keahlian. Para pemasok dan penyedia SAD tidak kenal jera. Bagaimana mau pupus. Generasi yang dilahirkan pun, memiliki inovasi baru dalam mengembangkan keahlian mengembangkan ketiga penyakit masyarakat tersebut.
Penulis tidak terlalu luas membicarakan untuk ukuran nasional. Namun, penulis melihat dari sudut pandang masyarakat lokal, khususnya Batam.

Batam My Love, The City I Living, The City I Given. Sebagai anggota masyarakat, dan besar di daerah ini. Batam sungguh tidak dapat dikecualikan dari kancah penyebaran penyakit masyarakat ini. Berbicara soal Alkohol ya sudahlah, berbicara soal Sex bukan salah Batam jika panti pijat, tempat prostitusi tumbuh subur. Tanyakan kepada pemberi izin.

Soal narkotika, ini yang paling parah! Dan tak bisa dipungkiri, selain merusak tatanan peradaban akan kebudayaan yang tinggi. Para produsen, pengedar, dan pemakai sama-sama mengimani narkoba sebagai the way of living mereka. Setiap sendi, termasuk oknum aparat mereka rasuki, demi usaha yang berpuluh-puluh tahun menggiurkan, bandar bergerilya di diskotik, maupun tempat hiburan malam.

Bagaimana pun menurut mereka yang berkecimpung di narkoba. Drugs is Our Theology of Living, Live and Die With it. Produsen, pengedar, pemakai seperti mata rantai yang tak terpisahkan sama-sama mendapatkan benefit dari setiap aksi yang mereka lakukan. Para pemain narkoba coba merubah tatanan kehidupan manusia dengan zat adiktif menjadi sarana ketergantungan, dan konsep the New wave generasi. Bisa dikatakan mereka coba mau membirukan generasi saat ini seperti langit, tak tersentuh tapi dapat dilihat.

Produsen narkoba dengan untung triliunan, mulai melengkapi arsenal mereka menghadapi berbagai kendala di lapangan. Usaha kecil-kecilan yang dimulai pada awal 1930-an ketiga awal pertama kali morfin ditemukan. Menjadi semacam kenyamanan tersendiri. Itu pun pertama kali yang menggunakan para veteran perang dunia I. Sesuai perkembangannya, zat adiktif tersebut dimanfaatkan untuk penghilang rasa sakit dan menenangkan para penggunanya, dari tujuan medis pada awalnya berkembang menjadi zat tusuk enak. Yah begitulah zaman. Suka tak suka, terus menggilas kita. Iman pada agama dan takut akan ganjaran negara diabaikan. Mereka mulai menyebar theology SAD. Ditambah lagi musikus, dan pemain film yang menjadi tokoh banyak menggunakan. Menambah popularitas narkoba sebagai gaya baru dalam bergaul.

Batam, Tanjung Balai Karimun, Tanjung Pinang, bahkan Natuna surga tersendiri bagi sindikat narkoba. Sejumlah kasus penyelundupan narkotika jenis Methamphitamine masiv dilakukan, tidak kenal batas, para bandar besar memanfaatkan posisi strategis ini guna masuk ke Indonesia. Kerja keras petugas Bea dan Cukai, BNN dan Kepolisian pun tentunya harus jeli.
?Jika pemerintah tidak membuatkan tekad memerangi narkoba, tentunya theology SAD berjalan mulus tanpa hambatan. Kerjasama para aparat gabungan pun bentuk kebulatan tekad dan komitmen dari pemerintahan Jokowi. Masyarakat mendukung.

Kasus paling memalukan baru-baru ini adalah tertangkap basahnya Bupati Ogan Ilir Ahmad Wazir Nofiadi. Bagaimana menyedihkan, seorang kepala daerah tukang madad, jungkies apalah namanya. Memimpin daerahnya. Gila! Memalukan. Apa pun ceritanya barang haram itu, jelas merusak otak, fisik. Jika sudah rusak sedemikian, bagaimana memimpin. Apa kita digiring rame-rame masuk neraka. Yang benar sajalah.

Langkah cepat pun, dilakukan Mendagri Tjahjo Kumolo. Peringatan bagi mereka yang merasa dirinya pemimpin, harus jauh dari Narkoba. Karena sebagai pemaparan yang penulis gambarkan di atas. Bandar narkoba sudah meyakini dengan menguasai pemimpinnya, otomatis mereka akan membangun imperiumnya berdasarkan azas kepercayaan masyarakat yang dipimpinnya.

Untuk Batam, khususnya di dunia hiburan malam. Lakukan pembersihan, jika diskotik ato tempat hiburan terindikasi mengedarkan narkoba segel. Batalkan izinnya. Kalau perlu diberi forbiden selamanya ke tempat hiburan tersebut. Jika izinnya kembali diberikan, pertanyaan siapa pemberi izin tempat hiburan tersebut, proses tanpa alasan apa pun.

Mengerikan dampak narkoba. Pria, wanita, remaja, harus diberikan kesadaran awal. Karena rentetan dampak psikotropika itu akan panjang. Seperti hancurnya rumah tangga, putusnya pertemanan, tingginya angka kriminalitas, dan bahkan menimbulkan keresahan dan kengerian di kalangan masyarakat, dunia usaha dan investasi.

Jika Theology SAD sukses dijalankan. Yang terjadi adalah tatanan sosial terdistorsi. Bahkan, tindakan anarkis menjadi salah satu alternatif untuk menyelesaikan masalah. Kondisi darurat narkoba sebenarnya sudah sejak lama mendarah daging di Indonesia tercinta ini.

Yang perlu kita lakukan adalah memberikan antitoksin pada Theology SAD. Sejak awal lagi. Ini juga tidak cukup, aparat penegek hukum juga harus bersih. Jangan main-main. Hukumannya pecat. Proses secara hukum. Sebab, sekali merasa dikasihani, upaya pemberantasan hanya angan-angan saja.
Tidak bermaksud mengajari apalagi menggurui. Serangan masiv para bandar narkoba khususnya dari Malaysia tidak kenal batas. Tidak sedikit, TKI kita yang dibujuk dan dijadikan kurir narkoba. Memang tidak lain tidak bukan, narkoba harus diganjar hukuman setimpal. Seperti yang diberlakukan di Malaysia dan Singapura.

Anehnya, justru narkoba di Malaysia bisa diselundupkan ke Indonesia. Bagaimana ini bisa terjadi? Entahlah. Solusi yang paling tepat adalah langsung ke sarang produsennya. Jika memang di Malaysia diproduksi. Harusnya kerjasama dengan aparat di negara tetangga tersebut harus berbentuk masive pula.
Bila perlu batas pemberantasan narkoba juga ditiadakan. Kejar para pengedar, kalau perlu lubang-lubang tempat bersarangnya dibasmi. Hama-hama seperti itu tidak perlu dikasihani. Sebab meruntuhkan Theology SAD butuh komitmen, dan strategi. Semoga pemberantasan narkoba tidak setengah hati. Semoga. ***

Hendri-Kremer

Respon Anda?

komentar