Hanya Turun Rp 500, Premium dan Solar Masih Mahal

733
Pesona Indonesia
Seorang wanita cantik mengisi BBM ke kendaraan roda empat. Foto: jpgrup/rpg
Seorang wanita cantik mengisi BBM ke kendaraan roda empat. Foto: jpgrup/rpg

batampos.co.id – Pemerintah hanya menurunkan harga premium dan solar sebesar Rp 500 per liter. Dengan penurunan itu, harga BBM yang diatur pemerintah tersebut masih tergolong mahal karena berada di atas harga keekonomian. Pemerintah tidak ingin menurunkan harga BBM terlalu rendah karena mempertimbangkan potensi tren kenaikan harga minyak dunia.

Harga premium di Jawa, Madura, Bali (Jamali) yang sebelumnya Rp 7.050 per liter akan turun menjadi Rp 6.550 per liter. Adapun premium di luar Jamali turun dari Rp 6.950 per liter menjadi Rp 6.450 per liter. Sedangkan solar untuk seluruh wilayah Indonesia turun dari Rp 5.650 per liter menjadi Rp 5.150 per liter. Harga ini berlaku mulai 1 April 2016.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Sudirman Said mengatakan, meski pemerintah memiliki kebijakan evaluasi harga premium dan solar tiap tiga bulan, harga baru ini diharapkan bisa bertahan enam bulan. Tujuannya, agar pada saat evaluasi Juni nanti, jika harga minyak mentah dunia naik, tidak perlu ada kenaikan harga BBM.

“Pertimbangannya, Juni-Juli kan puasa (dan Lebaran), supaya bisa membantu masyarakat,” kata usai rapat terbatas di Kantor Presiden, Jakarta, Rabu (30/3/2016).

Pemerintah memang tengah mewaspadai tren kenaikan harga minyak dunia. Sejak pertengahan Januari 2016, harga minyak dunia memang tengah memanas. Hingga kemarin sore, harga minyak jenis West Texas Intermediate (WTI) dan Brent yang menjadistandar harga minyak dunia memang menunjukkan tren naik. Misalnya, minyak WTI kemarin ada di posisi USD 38,94 per barel, naik 1,72 persen dibanding hari sebelumnya. Adapun minyak Brent ada di posisi USD 39,68 per barel, naik 1,38 persen.

Jika dilihat tren sejak awal tahun, harga minyak yang sempat merosot tajam, kini memang mulai menggeliat. Minyak WTI yang sempat mencapai rekor terendah pada 20 Januari 2016 di posisi USD 26,55 per barel, terus naik dan sempat menyentuh evel tertinggi sepanjang 2016 pada 22 Maret lalu di posisi USD 41,45 per barel. Demikian pula minyak Brent yang sempat menyentuh titik nadir di level USD 28,55 per barel pada 18 Januari lalu, bergerak ke atas hingga level tertinggi USD 41,79 per barel pada 22 Maret lalu.

Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi (Migas) ESDM Wiratmaja Puja mengakui, banyak proyeksi menyebut arga minyak memang dalam tren naik dalam beberapa bulan ke depan. Salah satunya International Energy
Agency (IEA).

”Itu jadi pertimbangan kita dalam penentuan harga kali ini,” ujar Guru Besar Migas dari Institut Teknologi Bandung (ITB).

Namun, saat ditanya berapa harga keekonomian premium dan solar berdasar harga minyak Januari-Maret, Wiratmaja enggan menyebutkan detilnya. Dia hanya mengatakan bahwa harga premium dan solar saat ini memperhitungkan kenaikan harga minyak dalam enam bulan ke depan.

“Kalkulasi kami, harga minyak memang akan naik, tapi naiknya tidak tajam. Jadi harga saat ini mudah-mudahan bisa bertahan sampai September,” jelasnya.

Sementara itu, Direktur Utama PT Pertamina Dwi Soetjipto menyebut, selain premium dan solar, Pertamina juga telah menurunkan harga BBM jenis Pertamax cs sebanyak dua kali dengan total Rp 400 per liter. Dengan begitu, dia berharap penurunan harga BBM bisa membantu pemerintah menjaga inflasi.

“Mudah-mudahan, sampai September nanti tidak ada gejolak,” ujarnya. (jpgrup)

Respon Anda?

komentar