Jokowi Minta Ongkos Angkutan Umum Diturunkan

672
Pesona Indonesia
Angkutan umum jurusan Mukakuning-Batuaji saat ngetem di depan Plaza Batamindo. Foto: Dalil Harahap/ Batam Pos
Angkutan umum jurusan Mukakuning-Batuaji saat ngetem di depan Plaza Batamindo. Foto: Dalil Harahap/ Batam Pos

batampos.co.id – Presiden Joko Widodo (Jokowi) menyentil pengusaha angkutan umum yang seringkali menaikkan tarif saat harga BBM naik. Namun giliran harga BBM turun, mereka ogah-ogahan menurunkan tarif.

“Makanya nanti tarif transportasi juga harus turun. Jangan kalau (BBM) naik ikut naik (ber)lipat, kalau (BBM) turun diam saja,” ujarnya saat rapat Kabinet di Jakarta, Rabu (30/3/2016).

Hal itu pun langsung direspons Menteri Perhubungan Ignasius Jonan. Mantan dirut PT Kereta Api Indonesia (KAI) itu mengatakan, dirinya akan segera mengirim surat kepada semua kepala daerah agar menyesuaikan tarif angkutan umum. Berapa potensi penurunan tarifnya? “Rata-rata 3 persen,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala Grup Asesmen Departemen Kebijakan Ekonomi dan Moneter Bank Indonesia (BI) Arief Hartawan mengungkapkan bahwa penurunan harga BBM dapat memicu penurunan tekanan inflasi.

“Kalau melihat faktor-faktornya seperti ada penurunan harga minya dunia, lalu harga BBM turun, jelas inflasinya turun. Belum lagi hitung-hitungan soal penurunan tariff listrik. Kami menilai inflasi bukanlah menjadi isu utama, sebab masih relatif terjaga,” ujarnya kepada Jawa Pos (grup batampos.co.id), Rabu (30/3/2016).

Arief menambahkan bahwa penurunan harga BBM yang bisa dibilang terjadi di awal tahun tidak akan menimbulkan gejolak ataupun tekanan inflasi. Sebab, tren inflasi di awal tahun biasanya cenderung berada di level yang rendah dan terjaga.

“Penurunannya masih dalam range tiga bulan pertama di tahun ini, dan inflasi kita sejak awal tahun rendah dikisaran kurang dari 1 persen,” tambahnya.

Komponen lainnya yakni volatile food yang masih menjadi perhatian. Sebab, ada faktor cuaca yang membuat pasokan cabai, bawang, dan beras sedikit terganggu. Namun, inflasi diperikirakan masih tetap berada di level yang rendah.

“Perkiraan kami kalau dari survey sekitar 0,3 persen, atau bisa lebih tinggi sedikit, tapi kira-kira segitu. Masih rendah,” imbuhnya.

Arief menambahkan bahwa faktor-faktor lainnya seperti fluktuasi nilai tukar juga tetap patut dicermati. (owi/dee/sof/jpgrup)

Respon Anda?

komentar