Pedagang Mengeluh, Retribusi Dipungut Tapi Sampah Tak Diangkut

573
Pesona Indonesia
Tumpukan sampah dipinggir jalan Bengkongsadai. Foto: Johannes Saragih/ Batam Pos
Tumpukan sampah dipinggir jalan Bengkongsadai. Foto: Johannes Saragih/ Batam Pos

batampos.co.id – Pedagang Kakilima (PKL) di sekitar Cikitsu mengeluhkan pungutan oleh Dinas Kebersihan Pertamanan (DKP) Kota Batam. Pasalnya pungutan harian tersebut tak disertai dengan pengangkutan yang rutin juga.

“Kita tetap bayar, kemarin saja gak diangkut sampah ku. Memang jualan seperti ini tak banyak sampahnya, paling sekantong sehari,” kata salah satu penjual es campur yang enggan disebutkan namanya, kemarin. (31/3).

Dia juga mengeluhkan pemungut retribusi kadang beda setiap harinya. “Harusnya tetap orangnya,” tambahnya.

Pedagang Kakilima yang lain yakni penjual es jagung hawai, Suratmin Bangun mengatakan kadang sampah dari jualan mereka dibakar jika tak diangkut. “Ini bekas kita bakar,” ucapnya sambil menunjukkan lokasi tempat dibakarnya sampah.

Padahal menurutnya dia diharuskan membayar Rp 2 ribu perhari. “Sebulan Rp 60 ribu juga. Kadang pakai baju bebas,” katanya.

Sementara itu Kabid Kebersihan DKP Kota Batam, Yudi Admaji menegaskan pihaknya tetap melakukan pengangkutan di wilayah tersebut. Bahkan pihaknya telah menyediakan satu armada jenis pick up yang khusus untuk mengangkut sampah pinggir jalan.

“Mana pula, gak mungkin itu. Yang bakar ada mungkin tapi tak semua,” tegas Yudi saat dihubungi.

Menurutnya jika tak diangkut, bisa menghubungi call center DKP atau langsung menyampaikan pada petugas yang memungut.

Menjawab keraguan masyarakat soal petugas, dia mengatakan masyarakat dapat meminta surat tugas pada petugas serta melihat seragam yang dikenakan petugas yang bersangkutan.

“Minta surat tugasnya. Seragamnya itu ada yang biru dengan lis kuning, ada juga yang biru dongker, tak bisa pakai seragam bebas,” jelas Yudi.

Selain itu masyarakat juga berhak meminta karcis setelah membayar retribusi. (cr13)

Respon Anda?

komentar