Tolong Selamatkan Peter dari Penyanderaan Militan Abu Sayyaf…!

752
Pesona Indonesia
Peter Tonsen, kapten kapal Brahma 12 berfoto di ruang kapten saat perjalanan menuju Filipina dari Kalimantan Selatan sebelum kapalnya dibajak dan dirinya diasandera. Foto: peter/facebook
Peter Tonsen, kapten kapal Brahma 12 berfoto di ruang kapten saat perjalanan menuju Filipina dari Kalimantan Selatan sebelum kapalnya dibajak dan dirinya diasandera. Foto: peter/facebook

batampos.co.id – Keluarga besar Peter Tonsen Barahama, kapten Tugboat Brahma 12 yang disandera bersama sembilan ABK lainnya oleh kelompok radikal Abu Sayyaf di Filipina, menaruh harapan besarpada pemerintah untuksegera membebaskan Peter. Mereka mengaku cepas karena hingga saat ini belum ada kabar sama sekali kondisi Peter dari pihak manapun.

“Kami benar-benar bingung sekarang. Kamis hanya bisa memantau informasi dari siaran televisi dan media massa lainnya,” ujar Kris Ishak, paman Peter saat ditemui di kediaman Rene Deskartes (kakak Peter) di perumahan Villa Paradise blok J/8, Batuaji, Rabu (30/3/2016).

Kris mengaku, sejauh ini informasi yang didapat baru sebatas penyampaian awal bahwa Peter dan kawan-kawannya disandera. Itupun kabarnya dari salah satu rekan kerja Peter di Jakarta.

Sementera informasi resmi atau tindak lanjut dari pihak pemerintah, aparat keamanan, ataupun perusahaan tempat Peter kerja belum disampaikan secara langsung ke pihak keluarga.

“Padahal kami butuh informasi perkembangnnya. Takut kenapa-kenapa dengan anak kami ini. Kami benar-benar minta tolongpada pemerintah untuk membebaskan anak kami,” ujar Kris.

Polisi, diakui Kris, memang sudah beberapa kali mendatangi rumah Rene. Hanya saja, polisi tidak bisa memberikan keterangan apa-apa terkait keberadaan dan keadaan Peter. Polisi hanya sebatas meminta data indetitas dan foto Peter maupun Rene.

“Tapi tak apa-apa, kami percaya kepada negara dan aparat keamanan untuk segera membebaskan anak kami,” ujar Kris lagi.

Sementara Hendrik Sahabat, adik sepupu Peter juga berharap yang sama. Keluarga besar Peter saat ini memang hanya bisa pasrah dan berharap pada pemerintah untuk menyelematkan Peter dan kawan-kawannya secepat mungkin.

“Kami hanya bisa berdoa semoga dia selamat,” katanya.

Informasi mengenai upaya aparat keamanan negara yang dikerahkan untuk membebaskan Peter dan kawan-kawannya sudah diketahui keluarga melalui siaran televisi maupun koran. Mereka berharap misi tersebut berhasil dan Peter serta rekan-rekannya selamat.

“Kalau mereka merampok saja, tidak terlalu bermasalah. Ini penculikan, bagaimana kami keluarga tak cemas,” ujar Hendrik lagi.

Kecemasan serupa juga dirasakan Charlos Barahama dan Sopip C Selemburu, kedua orangtua Peter yang berada di Sangir, Sulawesa Utara. Orangtua Peter itu benar-benar bimbang atas informasi penculikan itu.

“Setiap saat mereka (kedua orangtua Peter) selalu cek informasi terbaru. Ya paling yang bisa kami jelaskan ya seperti yang terlihat di televisi,” ujar Hendrik.

Kabar penculikan Peter ini juga membuat Kristeli, gadis pujaan hati Peter, di kampung halamannya di Sangir risau. “Pacarnya juga sudah tahu, dia cukup cemas, karena mereka sudah lama pacaran,” kata Hendrik.

Selain berharap kepada pemerintah, keluarga besar Peter juga rutin menggelar doa untuk keselamatannya. “Besok (hari ini) jemaat dari gereja kami akan ibadah di sini. Berdoa secara khusus untuk keselamatan Peter,” tutup Hendrik.

Sementara Pemerintah Kota (Pemko) Batam menyatakan tak memiliki kekuatan diplomasi untuk membebaskan Peter. “Kita tidak bisa pergi ke Filipina, karena kewenangan diplomasi luar negeri itu ada di tingkat negara,” ujar Wakil Wali Kota Batam, Amsakar Achmad, Rabu (30/3).

Amsakar menyerahkan sepenuhnya upaya diplomasi maupun penyelematan warganya tersebut ke pemerintah pusat. Ia pun mengaku yakin pemerintah punya solusi serius untuk membebaskan Peter yang merupakan lulusan Sekolah Tinggi Ilmu Pelayaran (STIP) Jakarta tersebut.

“Di tingkat Kemenlu (Kementerian Luar Negeri) sudah ada langkah-langkah untuk penyelamatan,” jelas Wakil Wali Kota.

Menurut Amsakar, setelah mendengar berita tentang warga Batam yang disandera di Filipina, ia langsung mengecek langsung ke tingkat kecamatan. Setelah mendapat laporan pasti identitas dan alamat warga itu, Wakil Wali Kota mengungkap ia langsung melaporkan hal itu ke tingkat provinsi.

“Saya langsung forward (teruskan) ke Wakil Gubernur Kepri untuk diteruskan ke pusat,” kata dia.

Pemko Batam, sambung dia, kini menunggu langkah yang ditempuh pemerintah pusat sembari terus memantau perkembangan lewat media. “Kita doakan saja,” kata dia. (eja/rna/bp)

Respon Anda?

komentar