Batas Pembayaran Tebusan Berakhir Hari Ini, Menlu: 10 WNI yang Disandera Masih Hidup

1017
Pesona Indonesia
Menlu RI Retno Marsudi. Foto: reuters
Menlu RI Retno Marsudi. Foto: reuters

batampos.co.id – Menteri Luar Negeri (Menlu) RI Retno Marsudi menjelaskan, pihaknya terus melakukan komunikasi intensif dalam tiga hari terakhir terkait upaya penyelamatan 10 ABK WNI. Begitu juga dengan menteri Indonesia lain yang terkait. Hal tersebut dilakukan agar langkah yang dilakukan benar-benar efektif.

’’Komunikasi saya dengan Menlu Filipina (Jose Rene Almendras, red) sangat intensif. Sejak pagi ini saya sudah beberapa kali melakukan telepon secara personal dengan dia. Terkahir saya berbicara pukul 16.30,’’ ujarnya saat dihubungi Jawa Pos (grup batampos.co.id) Kamis malam (31/3/2016).

Terkait kondisi WNI, dia mengindikasikan bahwa saat ini semua sandera masih dalam keadaan selamat. Dia pun mengaku bahwa informasi mengenai pergerakan dan posisi para korban terus diperoleh dari berbagai sumber.

’’Kami terus melakukan komunikasi kepada pihak keluarga ABK mengenai hal tersebut,’’ imbuhnya.

Sayangnya, dia menolak untuk meberikan informasi detil mengenai opsi apa yang terbuka atau akan diambil. Dia hanya mengaku bahwa pihaknya terus melakukan penjajakan terhadap opsi terbaik. Opsi tersebut dijajaki berdasarkan prioritas pemeirntah yakni keselamatan  ABK WNI.

’’Dukungan Pemerintah Filipina sangat krusial bagi upaya yang akan kita lakukan. Indonesia menghargai kerja sama dan dukungan yang baik yang diberikan Pemerintah Filipina sejauh ini,’’ terangnya.

Saat dikonfirmasi beberapa rumor mengenai kasus tersebut. Misalnya, kabar bahwa hari ini (1/4/2016) menjadi tenggat waktu pembayaran tebusan terhadap perompak. Sayangnya, Retno sama sekali tidak merespon pertanyaan tersebut.

Dari Istana, Sekretaris Kabinet Pramono Anung menegaskan bahwa pemerintah masih akan menunggu tindakan lebih lanjut dari pemerintah Filipina.

’’Kita bersabar menunggu, dan masih koordinasi dengan pemerintah Filipina agar ada jaminan warga negara kita yang ditawan segera bisa diebaskan,’’ terangnya di kompleks Istana Kepresidenan.

Selain itu, pemerintah juga tidak akan berbicara mengenai tebusan yag nilainya mencapai 50 juta Peso.

’’Pemerintah tidak mau ditekan dan tidak mau kemudian kalau harus membayar 50 juta peso,’’ lanjut politikus PDIP itu. Baik tekanan oleh para pelaku atau milisi yang ada di belakangnya.

Kepala Badan Intelijen Negara Sutiyoso menjelaskan, pihaknya masih terus berkomunikasi dengan Perwakilan BIN Luar Negeri (Perbinlu) did Filipina. Informasi-informasi yang didapat langsung diteruskan kepada pemerintah, termasuk dnegan TNI.

’’Keselamatan sandera adalah propritas utama,’’ tutur mantan Gubernur DKI Jakarta itu.

Secara politis, tutur Sutiyoso, tidak mudah untuk membuat opsi menyerang langsung. Pun demikian apabila Filipina  menolak tawaran bantuan dari Indonesia krn persoalan harga diri.

“Yang jelas, saat ini pemerintah mengutamakan jalan negosiasi agar para sandera dapat segera dibebaskan,” ujarnya. (bil/byu/jpg)

Baca Juga:
> Filipina Tolak TNI Ikut Bebaskan Sandera Abu Sayyaf
> Peter Cs Disandera Militan Abu Sayyaf Bersama 11 WNA
> Lokasi 10 WNI Disandera Sudah Diketahui, Tapi…
> Kalau Abang Tak Berangkat Kita Makan Apa? Eh, Ditangkap Militan Abu Sayyaf
> Tolong Selamatkan Peter dari Penyanderaan Militan Abu Sayyaf…!
> Menhan RI Kontak Menhan Filipina untuk Operasi Pembebasan Sandera
> Kapten Kapal yang Disandera Militan Abu Sayyaf Ber-KTP Batam
> Inilah Kekuatan Operasi Pembebasan 10 WNI yang Disandera Militan Abu Sayyaf
> 10 WNI Disandera Militan Abu Sayyaf, Jokowi Kumpulkan Petinggi TNI
> Menanti Pasukan Khusus TNI Selamatkan 10 WNI yang Disandera di Filipina
> Ini Foto-Foto Kapten Kapal TB Brahma 12 yang Disandera Militan Abu Sayyaf
> Kapal WNI yang Disandera Bawa 7.000 Ton Batu Bara
> 10 WNI Disandera, Militan Abu Sayyaf Minta Rp 15 Miliar

Respon Anda?

komentar