Qatar Dituding Kerja Paksa Bangun Stadion Piala Dunia

938
Pesona Indonesia
Desain Khalifa International Stadium, Doha Qatar. Stadion megah ini akan digunakan pada piala dunia 2022 mendatang. Foto: istimewa
Desain Khalifa International Stadium, Doha Qatar. Stadion megah ini akan digunakan pada piala dunia 2022 mendatang. Foto: istimewa

batampos.co.id –Dipercaya sebagai tuan rumah Piala Dunia 2022, pemerintah Qatar langsung ngebut. Mereka membangun stadion standar internasional di berbagai tempat, khususnya di Doha.

Namun sayang, kerja cepat itu menuai kritik dari Amnesty International. Organisasi nonpemerintah yang berbasis di London, Inggris, tersebut, Kamis (31/3/2016) merilis laporan bahwa hak-hak para pekerja di stadion tersebut telah dilanggar. Mereka menjalani kerja paksa. Yang lebih parah, FIFA dituding mengetahui hal itu, tetapi membiarkan begitu saja.

Amnesty International mewawancarai 132 pekerja yang terlibat dalam pembangunan Khalifa International Stadium. Dari hasil wawancara tersebut diketahui bahwa gaji pekerja kerap terlambat dibayarkan. Akomodasi untuk para pekerja juga jauh dari kata layak.

Mereka harus tinggal di tenda-tenda yang jorok. Upah mereka juga kerap dipotong dan harus membayar biaya perekrutan yang besar. Para pekerja migran yang mayoritas berasal dari Nepal dan India tersebut tidak bisa pulang ke negara asal begitu saja karena paspor mereka disita.

Tujuh warga Nepal yang bekerja di stadion tersebut mengungkapkan, pascagempa di negara mereka pada 2015, mereka ingin pulang untuk mengetahui kondisi keluarga. Namun, subkontraktor yang mempekerjakan mereka melarang. Pekerja lainnya menyatakan, atasannya memarahinya dan mengancam menunda pembayaran gaji saat dia bilang ingin berhenti bekerja.

Kenyataan tersebut tentu berbanding terbalik dengan pernyataan Qatar sebelumnya bahwa mereka akan memperbaiki kondisi pekerja migran. Peneliti Amnesty International di negara-negara Teluk, Mustafa Qadri, mengungkapkan, kondisi ketenagakerjaan di Qatar memang meningkat di beberapa aspek. Misalnya, masalah keselamatan. Namun, banyak pelanggaran tersembunyi yang terjadi seperti ancaman kepada para pekerja tersebut.

’’Di Qatar, para majikan masih menguasai hajat hidup para pekerja secara luas,’’ ujar Qadri.

Qatar mengaku akan menyelidiki masalah tersebut. Namun, kepala Komite Qatar 2022 yang bertanggung jawab atas infrastruktur untuk Piala Dunia, Hassan al Thawadi, menegaskan bahwa Amnesty International menyoroti malapraktik yang terjadi pada sebagian kecil pekerja saja. Padahal, saat ini ada sekitar 5.100 orang yang mengerjakan kompleks olahraga tersebut.

Dalam dua tahun mendatang, pekerja di stadion tersebut ditambah menjadi 36 ribu orang. Masalah di Doha tersebut juga terjadi pada pembangunan konstruksi di seluruh dunia.

’’Kami tidak memiliki tongkat ajaib yang bisa langsung memperbaiki masalah seperti sedia kala. Namun, kami berusaha menyelesaikan masalah setiap hari,’’ ujar Thawadi.

Pembangunan Khalifa International Stadium diperkirakan menghabiskan anggaran USD 200 miliar atau setara Rp 2.644,2 triliun.

FIFA kemarin menegaskan akan mendesak pemerintah Qatar untuk mengambil tindakan secepatnya. Salah satunya, memastikan adanya standar ketenagakerjaan baru untuk proyek-proyek konstruksi di negara tersebut. (Reuters/AFP/jpgrup)

Respon Anda?

komentar