Bupati Lingga Buka 200 Hektar Lahan Kelapa Hibrida untuk Investasi PNS

1685
Pesona Indonesia

batampos.co.id – Bupati Lingga Alia Wello memulai Gerakan Menanam 1 April 2016 di Lingga dengan percetakan sawah hingga penenanaman kelapa hibrida di atas lahan 200 hektare di Pulau Talas, Desa Tanjung Kelit. Bupati yang biasa disapa Awe ini camping dan bermalam di sana bersama sejumlah kelompok pecinta alam dan jajarannya.

“Ini bukti keseriusan kita. Sebelum memerintah orang lain, kita harus mampu memerintah diri kita sendiri,” kata Awe yang selalu ramah itu, Jumat (1/4) pagi.

Cuaca dan langit pagi begitu cerah. Tenda-tenda berwarna biru langit yang sehari sebelumnya telah dibangun mulai hiruk-pikuk memulai aktifitas. Waktu baru menunjukkan pukul 07.30 WIB. Awe, yang menginap di sana sudah siap-siap dengan sepatu larasnya, menyerukan rekan-rekannya untuk mulai bekerja. Satu unit alat berat pun mulai dinyalakan, membuka lahan yang semula hanya semak belukar. Pulau tidur, yang berusaha dibangunkan Awe untuk ditanam tunas-tunas kelapa yang hijau.

“Tadi malam kita tidur di sini. Semuanya masih semak. Pagi ini kita buka dengan alat berat. Sudah bisa kita lihat langsung, seluas mata memandang sudah terang terbuka lahannya. Tanahnya bagus dan siap untuk kita tanami,” sambung Awe.

Pulau perawan itu, bernama Pulau Talas. Luasnya, kata Awe, berkisar 400 hektar. Seluas 200 hektar akan dibuka untuk koperasi dan investasi pegawainya mulai dari PNS sampai PTT ia libatkan. Untuk perdana, 500 benih kelapa dari Guntung, Indragiri Hilir, ia datangkan. Bersama pimpro Ady Indra Pawennari, prospek kelapa yang menjanjikan dalam 3 tahun kedepan dengan konsep hijau dari Gerakan Menanam akan segera dibuktikan.

“Sekarang lebih kurang 2 hektar lebih yang terbuka. Ini investasi bagi pegawai. Bukan untuk saya. Nanti, warga dan saudara-saudara kita di sini, orang-orang suku laut boleh ikut menanam. Seperti jagung, pisang dan ubi sambil menunggu kelapanya jadi,” sambung Awe.

Dari asumsi awal, jajaran Pemkab Lingga terdapat 3.400 PNS maupun PTT. Masing-masing berinvestasi Rp 60 ribu untuk 10 batang kelapa. Jika ditotalkan, jumlah pohon kelapa yang akan menghijaukan Pulau Talas berjumlah 34.000 batang. “Siapa yang menyangka. Baru tanggal 10 Maret kemarin kita rapat bersama, dalam 20 hari barang ini langsung kita kerjakan. Saya lihat, tidak ada satupun wajah optimis dari jajaran saya. Tapi saya tidak patah semangat. Ini akan saya buktikan,” sambung Awe penuh canda.

Lahan yang kini telah terbuka, bersih. Akar-akar kayu juga telah diratakan dan dibakar. Awe mengajak warga sekitar Desa Tanjung Kelit tidak terkecuali warga suku Laut yang selama ini bekerja sebagai pencari kayu hutan untuk ikut menanam. Hal ini, juga menjadi solusi, pembalakan liar dan membuka pekerjaan bagi warga Orang Laut untuk menanam.

“Kita libatkan semuanya. Nanti sore, 10 orang dari masing-masing dinas juga akan turun ke sini. Kita akan menginap lagi sampai besok,” tutup Awe. (mhb/bpos)

Respon Anda?

komentar