Cara Pesantren Suryalaya Merehabilitasi Pengguna Narkoba

1206
Pesona Indonesia
 SUASANA terapi para pecandu narkoba di Pondok Pesantren Inabah VII, Tasikmalaya, Jumat (25/3) lalu.  F. Imam Husein/Jawa Pos-JPGRUP

SUASANA terapi para pecandu narkoba di Pondok Pesantren Inabah VII, Tasikmalaya, Jumat (25/3) lalu.
F. Imam Husein/Jawa Pos-JPGRUP

KESAN sebuah pondok pesantren kurang tampak pada rumah yang didiami KH Anwar Mahmud di Kampung Rawa, Desa Calincing, Kecamatan Sukahening, Tasikmalaya (25/3). Mirip rumah kampung kebanyakan. Meskipun, di serambi rumah dua lantai itu tertulis dengan jelas di sebuah papan 1 x 1 meter: Pondok Pesantren Inabah VII.

Setelah menunggu beberapa menit, Anwar si empunya rumah sekaligus pengasuh Inabah VII menyambut dengan ramah. Dia bersama istrinya, Yuyung Atika, tinggal di lantai 2. Lantai 1 dipakai untuk menerima tamu keluarga santrinya.

Pondok pesantren ternyata ada di bagian belakang rumahnya. Lokasinya cukup luas.

Denah kamar-kamar santrinya berbentuk huruf L. Di kompleks itu juga disiapkan aula untuk kegiatan keagamaan santri seperti salat berjamaah. ”Salat berjamaah jangan sampai putus. Itu kunci rehabilitasi di sini,” kata bapak 6 anak dan kakek 8 cucu itu.

Anwar bercerita, inabah (mengembalikan) adalah sebuah metode rehabilitasi penggunaan narkoba dan perilaku menyimpang lainnya. Inabah diciptakan Pengasuh Pesantren Suryalaya, Tasikmalaya, (almarhum) Syekh Ahmad Sohibul Wafa Tajul Arifin atau akrab disapa Abah Anom pada 1970-an.

Dalam perkembangannya, inabah yang awalnya menjadi semacam metode berkembang menjadi nama sebuah jejaring pesantren. Namanya juga Inabah. ”Mulai Inabah I sampai, kalau tidak salah, ada 60 Inabah,” terang Anwar. Selain di Indonesia, Pesantren Inabah merambah Malaysia dan Singapura.

Namun, ada juga pesantren Inabah yang tutup. Salah satu penyebabnya adalah pengurus intinya meninggal dunia. Contohnya, Inabah I di Ciamis, lokasinya tidak terlalu jauh dari Pesantren Suryalaya.

Setelah menunjukkan lokasi pesantren yang diasuhnya, Anwar memanggil tiga santri yang sedang menjalani masa rehabilitasi. Kemudian, diajak berbincang di ruang tamu lantai 2 sambil ditemani aneka jenis kerupuk dan camilan lainnya. ”Silakan kalian cerita pengalaman hidup. Siapa tahu menjadi hidayah bagi pembaca Jawa Pos,” tutur pria kelahiran Tasikmalaya, 16 Juli 1942, itu.

Sebut saja Atok. Dia adalah salah seorang santri rehabilitasi. Remaja 24 tahun asal Pontianak itu sempat menjalani hukuman kurungan empat tahun di kampung halamannya.  ”Jujur, enak tinggal di penjara. Lebih bebas,” katanya, disambut gelak tawa.

Atok mengatakan, dirinya merupakan pemakai aktif sabu-sabu. Rata-rata dalam sehari dia mengisap 0,5 gram bubuk putih itu. Dia mengaku awalnya dikasih cuma-cuma. Namun, setelah itu disuruh membeli Rp 800 ribu/gram. Dia dibui karena dijerat sebagai kurir narkoba.

Anak kedua di antara enam bersaudara itu sempat sering sakau ketika awal-awal tinggal di Inabah VII. Di pekan-pekan pertama, dia sempat beberapa kali sakau. Namun, bukan kejang-kejang atau teriak-teriak. ”Sakaunya itu malas saja. Malas makan dan malas lainnya,” tutur dia.

Setiap kali sakau, Anwar mengatakan, metode inabah memiliki cara sendiri untuk mengatasinya. Yakni, dimandikan saat dini hari. Setelah itu, diajak salat malam. Kemudian, berzikir sampai disambung salat Subuh.

Atok berjanji ingin mengikuti rehabilitasi sebaik-baiknya. Supaya bisa segera mendapatkan keterangan ”sehat”. Lalu, bisa berkumpul dengan keluarga kembali. Dia mengaku kapok dan mulai tidak kecanduan narkoba kembali setelah sekitar sebulan lebih di Inabah VII.

Cerita lain disampaikan Yoga (nama samaran). Kenakalan belia 18 tahun itu bisa dibilang komplet. Selain pernah ngincipi narkoba, remaja asal Aceh tersebut juga pembalap liar jalanan dan pemain judi kartu. Meski dia sudah menjalani rehabilitasi sekitar 1,5 tahun dan mengaku sudah tidak nakal, orang tuanya masih ogah menerimanya untuk pulang.

Menurut pengakuan Anwar, orang tua Yoga belum percaya polah anaknya itu. ”Mau dipulangkan, tapi orang tuanya takut nanti kabur dari rumah dan malah menjadi-jadi,” tuturnya. Karena ITU, akhirnya entah sampai kapan Yoga akan tinggal di Inabah VII.

Menurut Anwar, selama mengasuh Inabah VII sejak 11 Januari 1984, dirinya banyak merasakan suka dan duka. Senangnya karena bisa membantu mengatasi masalah yang dialami banyak keluarga. Urusan biaya, tidak ada patokan. Bahkan, ada santrinya yang baru membayar tidak sampai Rp 1 juta. Penyebabnya, Anwar kehilangan kontak dengan keluarga sang santri.

Kehilangan kontak dengan keluarga menjadi salah satu rasa duka. Dia mencontohkan, ada santrinya yang bernama Eko Setiono. Dulu dia datang ke Inabah VII diantar bapaknya yang beralamat di Jakarta. Namun, beberapa saat kemudian, ayah Eko hilang kontak. Dicari sampai sekarang tidak ketemu. Eko juga sulit menemukan keluarganya. ”Eko ini sudah 12 tahun tinggal di Inabah VII,” jelasnya.

Sampai saat ini di Inabah VII ada sekitar 4.900 santri dan 300 santriwati dengan beragam kasus. Selain pengguna narkoba, ada orang yang stres alias gila.

Profil peserta rehabilitasinya juga beragam. Mulai warga biasa, anak remaja, orang dewasa, oknum sipir penjara, sampai aparat kepolisian. Anwar mendapatkan informasi, salah seorang anggota polisi yang pernah direhabilitasi karena narkoba saat ini menjadi Kapolsek.

Anwar mengatakan sudah mewakafkan dirinya untuk urusan rehabilitasi itu. Dia mendapatkan restu untuk mendirikan Inabah VII setelah menjadi peserta aktif atau jamaah di Pesantren Suryalaya.

Dia memegang prinsip bahwa merehabilitasi pengguna narkoba yang efektif tidak bisa dilakukan dengan memberikan narkoba dengan dosis dikurangi. ”Di sini benar-benar distop,” tandasnya. Diganti dengan ibadah salat, zikir, dan puasa. Dia mengatakan, supaya rehabilitasi efektif, salat berjamaah tidak boleh putus.

Konsep lebih dalam tentang metode inabah dijelaskan KH Zaenal Abidin. Kiai kelahiran Tasikmalaya, 1 Mei 1930, itu adalah salah seorang pengemban amanah mengasuh Pesantren Suryalaya. Dia diberi amanah langsung oleh Abah Anom. ”Suryalaya. Surya itu adalah matahari dan laya itu hidup. Jadi, Suryalaya itu menjadi mataharinya kehidupan,” tuturnya.

Jumat pagi itu (25/3) Jawa Pos (grup Batam Pos) harus benar-benar pagi untuk berkunjung ke kediaman Zaenal yang tidak jauh dari gerbang Pesantren Suryalaya. Sebab, siang sedikit, sekitar pukul 08.00, yang sowan ke rumahnya sudah ramai. Di antaranya, para jamaah yang habis mengikuti ziarah di makam Abah Anom di dalam kompleks pesantren.

Zaenal menjelaskan, konsep inabah pada intinya adalah kembali memanusiakan manusia. Dia mengatakan, kondisi manusia yang sudah terlibat kejahatan seperti pecandu narkoba sedang rusak. Kerusakan itu mulai hati, pikiran, sampai keadaan fisiknya.

Hati yang seharusnya menerima yang benar itu baik justru sebaliknya. Yang benar dianggap tidak baik atau sebaliknya. Begitu pula pikiran yang seharusnya menerima logika yang benar, tidak berfungsi. ”Logika yang seharusnya 2+2 itu 4 sudah tidak berfungsi lagi,” katanya.

Demikian halnya dengan anggota badan atau fisik, sudah tidak peka lagi. Contohnya, telinga yang seharusnya menerima dengan baik alunan musik yang merdu malah terasa gelisah. Nah, ketika tiga titik itu sudah rusak, seseorang perlu dibenahi. Perlu direparasi jika diibaratkan mobil yang rusak.

Untuk konsep dan upaya teknis dari inabah sebagai metode rehabilitasi narkoba, sekarang sudah ada bukunya. Tidak tebal, hanya terdiri atas 15 halaman. Isinya cukup padat, berupa 42 amalan yang digunakan untuk rehabilitasi. Amalan itu dilakukan secara tertib mulai pukul 02.00 WIB.

Dimulai dari doa sebelum mandi, kemudian mandi tobat. Lalu, sejumlah salat sunah seperti salat sunah Tobat dan Tahajud. Kemudian, ada zikir dengan membaca kalimat syahadat sebanyak 150 kali.

Bacaan zikir diucapkan dengan nada yang keras mengentak. Kemudian, diikuti gerakan kepala menyesuaikan irama bacaan. ”Kenapa dibaca dengan keras dan mengentak? Karena untuk menghancurkan hati yang sudah membatu,” tutur Zaenal. (*/c10/sof)

Respon Anda?

komentar