Hanya Satu Kata “LAWAN!”

Oleh :Husnizar Hood

1884
Pesona Indonesia

Hanya satu kata “Lawan!”, itu ucapan kawan saya Mahmud pada malam kemarin. Saya tersenyum mendengar teriakan kawan saya itu karena saya tahu kalimat terkenal yang diucapkannya itu sebenarnya milik Wiji Thukul. Ya, Wiji yang meneriakkan pertama kalinya dalam sebuah puisi perlawanannya, Wiji Thukul adalah aktivis buruh, seorang penyair juga seniman teater yang handal, ia menolak tekanan rezim yang berkuasa kala itu dengan kediktatorannya, kemudian ia diburu dan kemudian ia hilang tak tau kemana rimbanya pada saat peristiwa Reformasi 1998 terjadi.

Hingga kini tak ada yang tahu akan nasib Wiji Thukul, kalau dia telah wafat, dimanakah kuburannya? Kalaupun ia hidup dimanakah alamatnya. Tak ada yang bisa menunjukkannya sampai hari ini dan banyak orang yang sudag beranggapan dia telah mati.

Tapi  dalam karyanya Wiji Thukul bagai tak pernah mati, ia selalu saja hidup ketika ada tekanan yang kita rasakan, ada kesewenang-wenangan yang dilakukan atau ada amanah yang tak dijalankan oleh pemegang kekuasaan, apalagi penguasa itu sudah tak mau mendengarkan suara rakyatnya lagi. Tak mau berseni-seni, kata Sutardji Calzoum Bachri yang tak suka dengan keindahan itu Iblis. Hmmm.

“Hanya satu kata “Lawan!”. Itulah yang bisa mewakili amarah dalam diri. Dan itu bagai terus terjadi hingga hari ini, kita begitu mudah dan merasakan kebahagiaan jika kita bisa melawan padahal seingat saya mulai dongeng, cerita komik dan legenda-legenda lainnya selalu saja yang menang bukan orang yang melawan tapi orang yang menghadapi perlawanan dengan kesabaran.

“Bukan main lagi semangat awak Mud…”, saya coba ajak kawan saya itu bergurau. Wajah kawan saya itu tetap serius, seperti ada api dalam badannya. Saya masih menduga-duga penyebab kenapa kawan saya itu mengutip puisi Wiji Thukul yang sangat paling fenomenal dan di kenang itu. Ya, itulah hebatnya penyair pikir saya, meskipun ia sudah tidak ada, suaranya masih terus saja menggema. Masih terus saja gelora menggelora. Saya menahan tawa teringat dengan kalimat “gelora menggelora” itu. Ada kenangan tersendiri dengan kalimat ini, itu kalimat puisi Mahmud yang diolok-olok oleh seseorang perempuan dan seseorang itu kini sudah menjadi wakil rakyat, seorang perempuan yang tak bisa kita olok-olok nasibnya sementara nasib Mahmud masih terus saja dengan gelora jiwanya.

“Apa yang awak panaskan dengan nak melawan itu Mud?, tanya saya. Kawan saya itu mulai nampak mereda. “Melawan kekuasaan bagi orang seperti kita ini selalunya bagai sia-sia, seberapa kuat suara kita yang akan didengar mereka, seberapa banyak suara yang bisa kita kumpulkan untuk menambah kekuatan… tak ada!”, tambah saya meyakinkan Mahmud. Kawan saya itu tak berubah, menatap mata saya bagai curiga. Mungkin ia curiga kenapa kali ini saya melemah tidak seperti biasa saya selalu mendukung pikiran-pikiran dan semangatnya.

Padahal dalam pikiran saya tak seperti itu, saya bukan tak mendukung Mahmud, bersama Mahmud ini apa yang tak saya sokong, dimaki hamun diapun saya pernah tapi tetap saja saya tabah, saya tetap memberi semangat kepadanya. Berjuang melawan kebathilan. Menegakkan kebenaran dengan tanpa niat menjadi pahlawan. Itu yang selalu saya tekankan kepadanya, jangan sekali terbersit dalam hati jika kita berjuang kemudian ada niat ingin dikenang orang dan berangan menjadi pahlawan yang terbilang. Itu pantang!

Kenapa Mahmud? Hendak melawan Keputusan Presiden menghidupkan lagi Otorita Batam dengan nama samaran Dewan Kawasan Nasional atau Kawasan Ekonomi Khusus atau hantu belau apalah yang akan dipimpin oleh orang-orang yang tak pernah dikenalnya dan dia yakin tak akan kenal juga kepadanya.

“Baik, kalau mereka tak kenal dengan saya tak mengapa tapi mereka harus kenal akan negeri ini, kenal dengan budaya Melayu yang ranggi ini dan tentunya mereka telah kenal dengan diri mereka sendiri”, ujar Mahmud. “Jika tidak mereka akan berkenalan juga dengan kita-kita ini”, tambahnya lagi dengan suara meninggi.

Atau Mahmud hendak melawan kebijakan Gubernur soal Staff khusus yang dipergunjingkan akhir-akhir ini, ah, namanya juga khusus pastilah khusus juga cara merekrutnya, menggajinya maka kalau ada yang mengatakan mereka tak layak maka dengan khusus pulak kita harus menilai kelayakkannya, barang yang serba khusus itu istimewa, special edition mahal harganya. “Terus awak nak melawan pakai apa Mud?”, dalam benak saya bicara. “Melawan dengan menelponnya? Apa pulsa awak ada? Terus apa dia mau mengangkat telepon awak yang masuk tanpa nama dan tak dikenalnya” saya berpikir lagi.

Membisikkan kepada pak Gubernur atau membisikkan kepada para pembisik-pembisiknya, sama saja,  percuma, pembisiknya malah minta dibisikkan, nasibnya belum jelas. Saya tertawa geli sendiri. Selalu saja begitu, waktu berjuang saling bisik mengatur strategi, takut ketahua lawan, sudah menjadi berbisik juga mengatur strategi hendak melarikan diri dari kawan-kawan”. Sesak rasa dada saya.

Jangan-jangan Mahmud hendak melawan Walikota? itu lebih berbahaya, menurut saya, mungkin sebelum Mahmud melawan dia sudah dilawan dulu, itu seperti di radio setiap pagi, pantang diberi masukan dia segera pula segera memasukkan pembelaan. Memang pemimpin kita satu itu punya banyak cara membela diri, jangan tanya soal Mesjid Terapung, Stadion Olahraga, gedung Gonggong atau orang mati bakal kena bayar Retribusi. Katanya itu semua niat suci anak negeri mempermolek rumahnya sendiri.

Apalagi? Mahmud hendak melawan siapa? Melawan isterinya? Ha ha ha…saya tertawa. Itu gila namanya, kalau nak berlawan biar sepadan, Melawan isteri itu bukan sikap ksatria meskipun tanpa melawan kalau isteri diam seribu bahasa saja kita sudah kalang kabut dibuatnya.

“Semua bisa kita lawan Mud, hanya apakah dengan kita melawan kita bisa menyelesaikan permasaalahan dan keadaan menjadi lebih baik?”, tanya saya. Mahmud masih merengut. Saya muak kalau melihat wajah kawan saya itu seperti itu, nampak Mahmud lebih 10 tahun tua dari usianya yang sebenarnya. “Oh ya Mud, yang tak bisa kita lawan itu adalah usia, ia terus berjalan tanpa bisa kita berhentikan, sedetikpun, tak bisa kita muda-mudakan diri ini, kita kuat-kuatkan badan ini, karena itu kita harus memanfaatkan waktu dengan sebaik-baiknya agar kita tidak merugi”, saya mulai serius meyakinkan Mahmud kawan saya yang baik ini.

Mahmud nampak termenung, mungkin mengenang usianya atau ia sedang mengenang usia isterinya, ada jarak 5 tahun antara dia dan isterinya, kemarin usia isterinya 44 tahun, angka yang penuh makna baginya. Mungkin ia ingin melawan rasa hatinya yang setiap tahun memberi kado kepada isterinya berulang tahun maka tahun ini cukuplah dengan memberikan puisi saja, selain romantis tetapi juga ekonomis bagi kestabilan rumah tangga.

“Melawan sakit barangkali?”, saya bergumam sendiri. Mahmud mendengarnya, dia segera mendekati saya, “Siapa yang sakit?”, tanyanya. “Siapa yang bilang orang miskin tak boleh sakit dan penyair itu miskin maka penyair tak boleh sakit?”, tanyanya lagi. “Hanya satu kata, “Lawen”, ucapnya.  Saya salah dengar atau Mahmud salah ucap tadi? (selamat ulang Tahun Pepy Candra dan Kepala Suku Jembia Ramon Damora)

Respon Anda?

komentar