Batas Waktu Pemberian Tebusan Habis, Keluarga 10 WNI Disandera Abu Sayyaf Khawatir

1416
Pesona Indonesia
Peter Tonsen, kapten kapal Brahma 12 berfoto di ruang kapten saat perjalanan menuju Filipina dari Kalimantan Selatan sebelum kapalnya dibajak dan dirinya diasandera. Foto: peter/facebook
Peter Tonsen, kapten kapal Brahma 12 berfoto di ruang kapten saat perjalanan menuju Filipina dari Kalimantan Selatan sebelum kapalnya dibajak dan dirinya diasandera. Foto: peter/facebook

batampos.co.id – Keluarga Peter Tonsen Barahama dan sembilan ABK Tongkang Brahma 12 yang disandera kelompok Abu Sayyaf di Filipina makin khawatir. Pasalnya, beredar kabar kalau batas waktu pemberian tebusan telah berakhir, sementara pemerintah maupun pemilik kapal belum memberikan tebusan.

“Kalau dikasi batas waktu dan hingga batas waktu belum ada tebusan atau penyelamatan, siapa yang tak khawatir. Kami sangat khawatir,” ujar keluarga besar Rene Deskartes Barahama, kakak kandung Peter, saat ditemui di perumahan Vila Paradise blok J/8, Batuaji, Sabtu (2/4/2016).

Keluarga sangat berharap agar pemerintah secepatnya melakukan yang upaya penyelamatan terbaik, agar Peter dan rekan-rekanya segera dibebaskan.

Keluarga besar Peter, kata Hendrik sejauh ini memang tak bisa berbuat banyak, termasuk untuk memenuhi permintaan para penyandera itu. Sebab jumlah uang tebusan yang diminta bukan jumlah yang sedikit.

Namun besar harapan keluarga agar pemerintah mengambil langkah yang tepat agar Peter dan kawan-kawannya bisa kembali dengan selamat.

“Apapun langkah pemerintah kami dukung, kami juga tak akan paksakan harus begini atau begitu. Kami bercaya pemerintah akan lakukan yang terbaik,” tutur Hendrik.

Sejauh ini upaya dari keluarga sambung Hendrik hanya bisa berdoa agar Peter dan rekan-rekannya tetap dilindungi yang maha kuasa di tempat mereka di sandera.

“Kebaktian (berdoa mohon keselamatan) rutin kami lakukan baik di sini ataupun di kampung (Sanger, Sulawesi Utara),” ujar Hendrik.

Pasangan Charlos Barahama dan Sopip C Selemburu, orangtua Peter yang berada di Sangir, Sulawesa Utara diakui Hendrik juga berharap yang sama. Meskipun diselimuti perasaan kalut atas kabar mengejutkan itu, Charlos dan Sopip tetap berbesar hati bahwa pemerintah akan melakukan yang terbaik untuk keselamatan putera mereka itu.

“Sedih memang kedua orangtuanya, tapi apa yang bisa kami buat. Pemerintahlah harapan kami saat ini,” kata Hendrik.

Pihak perusahaan PT Patria Maritime Lines yang beralamat di Jalan Jababeka XI blok H30-40 Industri Cikarang Bekasi tempat Peter bekerja, sampai saat ini juga belum memberikan informasi lebih selain kabar penyanderaan awal itu. Begitu juga pihak kepolisian yang terakhir datang ke rumah Rene pada Rabu (30/3/2016) hanya sebatas memintah agar keluarga bersabar.

“Informasinya sudah terputus. Kami hanya bisa pantau dari berita saja. Dari sini kami selalu berharap agar kabar baik itu (penyelamatan Peter cs) segara datang,” kata Hendrik. (eja/bp)

Baca Juga:
> Abu Sayyaf Banyak Link di Indonesia, Ini Saran Mantan Kombatan Filipina
> Batas Pembayaran Tebusan Berakhir Hari Ini, Menlu: 10 WNI yang Disandera Masih Hidup
> Filipina Tolak TNI Ikut Bebaskan Sandera Abu Sayyaf
> Peter Cs Disandera Militan Abu Sayyaf Bersama 11 WNA
> Lokasi 10 WNI Disandera Sudah Diketahui, Tapi…
> Kalau Abang Tak Berangkat Kita Makan Apa? Eh, Ditangkap Militan Abu Sayyaf
> Tolong Selamatkan Peter dari Penyanderaan Abu Sayyaf!
> Menhan RI Kontak Menhan Filipina untuk Operasi Pembebasan Sandera
> Kapten Kapal yang Disandera Militan Abu Sayyaf Ber-KTP Batam
> Inilah Kekuatan Operasi Pembebasan 10 WNI yang Disandera Militan Abu Sayyaf
> 10 WNI Disandera Militan Abu Sayyaf, Jokowi Kumpulkan Petinggi TNI
> Menanti Pasukan Khusus TNI Selamatkan 10 WNI yang Disandera di Filipina
> Ini Foto-Foto Kapten Kapal TB Brahma 12 yang Disandera Militan Abu Sayyaf
> Kapal WNI yang Disandera Bawa 7.000 Ton Batu Bara
> 10 WNI Disandera, Militan Abu Sayyaf Minta Rp 15 Miliar

Respon Anda?

komentar