Indonesia Jadi Pusat Industri Otomotif Asia, Peluang Buat KEK Batam

2440
Pesona Indonesia
Sportcar Lexus Future Luxury Coupe (LF-LC) di pameran otomotif GIIAS 2015, di Tangerang, 28 Agustus 2015 lalu. Foto: Wisnu Agung Prasetyo/tempo
Sportcar Lexus Future Luxury Coupe (LF-LC) di pameran otomotif GIIAS 2015, di Tangerang, 28 Agustus 2015 lalu. Foto: Wisnu Agung Prasetyo/tempo

batampos.co.id – Potensi Indonesia menjadi salah satu pusat industri otomotif Asean dan Asia terbuka lebar. Kapasitas terpasang produksi mobil nasional mendekati 2 juta unit sebagai modal utama untuk ekspor.

Namun pemerintah diminta segera membuka kemudahan investasi produksi komponen terutama pembabasan pajak (tax holiday).

Nah, terkait tax holiday ini, menjadi peluang bagi Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Batam. Pasalnya, tax holiday dan beragam kemudahan lainnya dijanjikan pemerintah akan diberikan pada investor yang menanamkan modalnya di KEK Batam, maupun KEK lainnya di luar Batam.

Menteri Perindustrian Saleh Husin mengatakan secara rata-rata pasar otomotif nasional tumbuh mencapai 6-7 persen per tahun. Tahun lalu penjualan mobil nasional sebanyak 1,013 juta unit. Meskipun berkurang dibandinkan 1,2 juta unit pada 2014 namun masih merupakan tertinggi di Asean mengalahkan Thailand.

Hanya saja, dari sisi produksi masih kalah dari Thailand yang mencapai lebih dari 2 juta unit secara rata-rata per tahun.

’’Kita tahun 2014 itu produksi 1,2 juta, sedangkan tahun 2015 agak turun karena dampak ekonomi global,’’ terangnya usai diskusi di kawasan Jakarta Pusat, Sabtu (2/4/2016).

Salah satu sebab utamanya adalah industri komponen di dalam negeri masih terbilang kecil. Indonesia hanya punya sekitar 1.000 industri komponen, sedangkan Thailand sudah punya hampir 3.000. Padahal, industri komponen memegang peranan penting dalam pertumbuhan industri otomotif.

Karena itu, pihaknya meminta kepada prinsipal produsen otomotif, baik dari Jepang, Tiongkok, Korea Selatan, maupun Amerika Serikat (AS), dan negara lainnya masuk untuk membangun industri komponen.

Pemerintah, kata dia, bakal memberi peluang besar bagi industri komponen untuk masuk ke Indonesia.

’’Untuk industri komponen berteknologi tinggi kita bebaskan (dimudahkan) untuk bisa masuk,’’ lanjutnya.

Namun, untuk industri komponen dengan teknologi rendah, pihaknya akan menganjuran untuk berpartner dengan pengusaha lokal. Dengan demikian, masuknya indusri komponen tidak akan mematikan pengusaha lokal.

Pihaknya optimistis Indonesia bisa menjadi pemain utama dalam beberapa tahun ke depan. Saat ini, raksasa-raksasa otomotif sedang giat berinvstasi untuk mengembangkan unit produksinya di Indonesia.

“Toyota, misalnya, hingga 2019 mendatang perusahaan tersebut akan menanamkan investasi senilai Rp 20 triliun. Tahun ini mereka investasi Rp 5,2 triliun,’’ tutur Saleh.

Kemudian, Mitsubishi juga sudah investasi hampir Rp 6 triliun setelah sebelumnya mereka membangun di Thailand. Ada pula Isuzu yang berinvestasi Rp 3,5 triliun dan perusahaan asal Tiongkok yang membangun pusat produksi dengan investasi Rp 11 triliun. Produksi diperkirakan bakal dimulai pada 2017.

Pengunjung memadati pameran mobil terbesar Indonesia International Motor Show (IIMS) di JIExpo, Kemayoran, Jakarta. Foto: Vivanews
Pengunjung memadati pameran mobil terbesar Indonesia International Motor Show (IIMS) di JIExpo, Kemayoran, Jakarta. Foto: Vivanews

Menurut Saleh, pihaknya tidak hanya sebatas menyiapkan regulasi yang mudah. Namun, pemerintah juga mengupayakan pertumbuhan industri pendukung komponen. Beberapa di antaranya adalah baja dan kaca khusus untuk otomotif. Pabrik baja khusus otomotif sedang dibangun oleh PR Krakatau Steel di kawasan cilegon.

Selama ini, untuk kedua komponen tersebut, Indonesia masih mengimpor dari luar karena belum bisa memproduksi sendiri. Dengan adanya pabrik bahan baku, maka dengan sendirinya industri komponen bisa lebih mudah berkembang yang akhirnya berdampak kepada industri otomotif.

Apabila kebijakan tersebut berjalan dengan baik, pihaknya optimistis industri otomotif Indonesia bisa tumbuh pesat. Target produksi dua juta unit pada 2020 bukan tidak mungkin bisa diwujudkan.

’’Saat ini Thailand sudah mentok, tidak akan tumbuh (industri otomotifnya),’’ tambahnya

Ketua Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) Jongkie D Sugiarto optimistis Indonesia menjadi salah satu kekuatan otomotif terbesar di Asia. Namun hal itu bisa terpenuhi jika pemerintah mampu mengakomodir dari sisi regulasi agar minat investasi di sektor padat karya dan padat modal ini bisa semakin tinggi.

Dari sisi angka penjualan sampai dengan 2015, Indonesia sudah menjadi pemimpin pasar kendaraan roda empat di Asean dengan penjualan sebanyak 1,013 juta unit. Sedangkan kompetitor utama yaitu Thailand sekitar 800 ribu unit pada saat yang sama dan Malaysia sebanyak 666 ribu mobil.

”Kita harapkan Indonesia terus menjadi nomor satu di Asean karena potensinya memang terbesar. Jumlah penduduk kita lebih dari 250 juta. Jauh di atas Thailand sekitar 67 juta dan Malaysia sekitar 28 juta penduduk,” ucapnya kepada Jawa Pos (grup batampos.co.id), Sabtu (2/4/2016).

Dari sisi penjualan memang Indonesia sudah menjadi raja di Asean. Hanya saja boleh dibilang masih sebatas “jago kandang”. Dari total produksi mayoritas masih dijual di dalam negeri.

”Yang masih kurang di kita adalah ekspornya. Total produksi mobil nasional saat ini 1,2 juta unit. Itu ke mana? Satu juta unit untuk pasar dalam negeri dan sisanya 200 ribu untuk ekspor,” ulasnya.

Bandingkan dengan Thailand. Dari total kapasitas produksi 1,8 juta unit, yang terjual di dalam negeri gajah putih itu memang sebanyak 800 ribu unit tetapi satu juta unitnya diekspor. Thailand hebat dari sisi ekspor kendaraan karena jenis yang diproduksi di sana lebih beragam.

Sebaliknya Indonesia terlalu fokus pada produksi jenis multipurpose vehicle (MPV) atau yang biasa disebut kendaraan keluarga.

”Pasar ekspor itu kebanyakan (permintaannya) di sedan, SUV (sport utility vehicle), pikap, double cabin, dan lainnya. Thailand komplit produksinya, punya itu semua,” tegas Jongkie.

Kenapa Indonesia tidak produksi mobil jenis lainnya sesuai pasar ekspor itu saja? Bisa saja itu dilakukan yang terpenting membuat pasarnya di dalam negeri menjadi menarik terlebih dahulu. Sejauh ini pasar mobil jenis SUV kecil atau sedan kecil misalnya, tidak terlalu diminati di pasar Indonesia.

Penyebab utamanya, Pajak Penjualan Barang Mewah (PPnBM) untuk jenis SUV dan sedan di Indonesia masih sangat tinggi, sebesar 30 persen. Bandingkan dengan MPV yang hanya 10 persen.

”Maka kami, Gaikindo sedang mengajukan agar PPnBM sedan dan SUV kecil yang 30 persen itu bisa turun menjadi 10 persen seperti MPV,” tekad Jongkie.

Faktanya mobil SUV kecil atau sedan kecil seperti Toyota Vios, Honda City, dan lainnya, memang tidak lebih mewah dibandingkan MPV saat ini yang sudah jauh lebih baik dan mewah. Sehingga pengenaan pajak tinggi terhadap jenis kendaraan di luar MPV itu sudah tidak relevan lagi.

Ketika pajak untuk kendaraan jenis lainnya itu bisa sama dengan MPV maka diyakini pasarnya mulai membesar. Saat itu lah produsen akan berminat untuk meningkatkan investasi dalam rangka memerbesar produksi mobil jenis itu.

Jongkie mengatakan kapasitas terpasang produksi mobil di Indonesia saat ini sebenarnya sudah mencapai 1,9 juta unit. Utilisasinya memang masih cukup rendah yaitu sekitar 1,2 juta unit sampai saat ini karena menyesuaikan kebutuhan yang ada.

”Nanti kalau regulasinya memang mendukung produksi untuk SUV kecil dan sedan itu bisa menggunakan kapasitas yang sudah terpasang. Lapangan kerja bertambah lagi cukup besar dan ekspor bisa meningkat,” paparnya.

Selanjutnya tinggal menarik investasi untuk industri komponen. Industri komponen menjadi bagian sangat penting dalam mata rantai industri otomotif.

”Caranya dengan tax holiday. Bisa kah pemerintah kasih itu ke industri komponen? Vietnam sudah memberlakukannya untuk 10 tahun. Mereka sudah curi start,” imbuhnya. (byu/gen/jpgrup/nur)

Asean Market Car Lima Besar 2015:

  1. Thailand:
    1.913.002 (produksi)
    799.632 (penjualan domestik)
  2. Indonesia:
    1.098.780 (produksi)
    1.013.291 (penjualan domestik)
  3. Malaysia:
    614.664 (produksi)
    666.674 (penjualan domestik)
  4. Filipina:
    98.788 (produksi)
    288.609 (penjualan domestik)
  5. Vietnam:
    171.753 (produksi)
    209.287 (penjualan domestik)

Total Asean 2015:
3.896.967 (produksi)
3.070.488 (penjualan domestik Asean)
Sumber: Gaikindo

Respon Anda?

komentar