Jangan Anggap Ikan Bodoh karena Tak Bisa Panjat Pohon

1570
Pesona Indonesia
Dr. Stephen Shore saat menjadi narasumber pada seminar di Jakarta, Sabtu (19/3/2016). FOTO:MIFTAHULHAYAT/JAWA POS
Dr. Stephen Shore saat menjadi narasumber pada seminar di Jakarta, Sabtu (19/3/2016). FOTO:MIFTAHULHAYAT/JAWA POS

Di semua negara yang dikunjungi, Stephen Mark Shore (Penderita yang Menjadi Guru Besar Pendidikan Autisme) mengampanyekan bahwa perilaku autisme yang repetitif dan mendetail sangat berguna jika diarahkan dengan benar. Bisa menjadi seperti sekarang ini karena dukungan penuh keluarga.

SENYUM pria bertopi itu mengembang. Tatap matanya hangat dan ramah. ’’Tidak apa-apa, silakan tanya sepuasnya,’’ katanya sembari menjabat tangan Jawa Pos (grup batampos.co.id).

Hari sudah menjelang petang kala itu. Stephen Mark Shore, si pria bertopi tersebut, baru saja menyelesaikan seminar tentang pendidikan penderita austisme.

Dua jam lamanya dia menjadi pembicara dalam acara yang berlangsung Sabtu dua pekan lalu (19/3) tersebut di auditorium Rumah Sakit MMC, Jakarta. Itu belum termasuk meladeni sesi foto dari para peserta seminar.

Namun, pria asal Boston, Amerika Serikat, tersebut masih terlihat bugar. Dandanannya yang kasual, dengan kemeja lengan pendek putih dipadu rompi, membuatnya lebih rileks. Apalagi ditambah topi bisbol.

Khusus topi, bagi pria 55 tahun itu, lebih dari sekadar ’’fashion statement’’. Seperti yang disampaikan dalam seminar yang juga diikuti koran ini. Itu adalah bagian dari upaya agar dia bisa tetap berkonsentrasi berbicara di podium.

Sebab, setiap di podium, dia biasa menganggap lampu penerangan sebagai spotlight alias lampu sorot. ’’Spotlight bisa membuat saya sulit berkomunikasi. Topi ini saya pakai agar cahaya lampu tidak langsung ke mata saya dan saya bisa bicara lancar,’’ terangnya.

Ya, pakar pendidikan untuk penderita autisme itu memang juga penderita asperger syndrome yang masuk dalam spektrum autisme. Kendati secara umum tak kentara, jejak penyakit tersebut masih terlihat pada ekspresi suara Shore yang agak monoton dan terkesan mengulang.

Tapi, tak lantas berarti presentasi yang dia lakukan sulit dimengerti atau membosankan. Meski terkena kendala dalam pengenalan emosi dan komunikasi, beberapa kali sepanjang dua jam presentasinya dia melontarkan lelucon yang disambut tawa peserta.

Berkaca pada pengalaman hidupnya, yang disampaikan Shore jadi mengena benar kepada orang tua atau kerabat penderita autisme. Dia seolah melebur ke dalam segala kesulitan dan tantangan yang dihadapi mereka.

’’Dulu saya divonis seorang dokter untuk masuk institusi (rumah sakit jiwa, Red). Kalau dilihat sekarang, perkataan dokter itu ada benarnya juga. Sekarang saya memang berada di dalam institusi (universitas, Red),’’ terangnya.

Shore memang layak menjadi cermin bahwa autisme tak semestinya menjadi kendala untuk bisa berprestasi di dunia akademik. Dia adalah guru besar bidang pendidikan untuk penderita autisme di Adelphi University, Long Island, AS.

Dia juga mengantongi gelar sarjana akuntansi dan sistem informasi serta pendidikan musik di Massachusetts University. Pendidikan musik itu lantas dilanjutkannya ke strata master di Boston University.

Keputusannya untuk mengejar karir sebagai pakar pendidikan autisme datang pada 1998. ’’Saat itu, saya merasa sangat beruntung mempunyai orang tua, keluarga, teman, bahkan guru yang sangat mendukung. Saya merasa harus mengembalikan apa yang saya terima ke masyarakat,’’ terangnya.

Menurut Shore, kalau saja dulu dia mendapat perlakuan yang salah dari keluarga dan lingkungan, seperti yang kerap dialami para penderita autisme, mungkin dia tak akan bisa menjadi seperti sekarang ini.

’’Vonis’’ autis bagi Shore datang ketika dia baru berumur 18 bulan. Gejalanya, tak bisa berbicara dan tantrum. Dia mengenang, saat ingin memasukkannya ke preschool untuk anak berkebutuhan khusus, orang tuanya harus menelan pil pahit.

Pihak sekolah menyatakan tidak bisa menerimanya. Alasannya, dia tidak bisa berinteraksi dengan lingkungan sosial sekitar. ’’Bahkan, saya dianjurkan masuk saja dalam institusi kejiwaan seumur hidup,’’ kenangnya.

Beruntung, keluarganya menolak menyerah. Mereka terus merayu sampai akhirnya Shore diterima di sekolah tersebut. Selain menerima pendidikan di lembaga itu, sang ibu terus mendampingi sang anak agar tak terlalu sendiri dan semakin terjebak dalam dunianya sendiri.

’’Saya bangga dengan ibu saya yang sudah melakukan home-based early intervention jauh sebelum teori itu ditermukan. Dia selalu mendampingi saya dan mendorong saya agar belajar bergerak, meniru, dan berinteraksi,’’ ungkapnya.

Lulus preschool, Shore harus menjalani sisa pendidikan di sekolah reguler. Hari-harinya dipenuhi tantangan dalam berinteraksi. Juga, berbagai insiden bully oleh teman-teman sekolah.

Dia masih ingat betul betapa susahnya mencatat tulisan di papan. Dia sering tak bisa pulang cepat karena harus mencatat satu mata pelajaran saja. Padahal, teman-teman sekelas sudah lama meninggalkan sekolah.

Namun, di balik kekurangan itu, dia mulai menyadari bakatnya untuk memperhatikan hal detail. Dimulai dari percobaan orang tuanya untuk bongkar pasang jam. Saat itu ternyata Shore kecil berhasil memasang kembali jam tersebut tanpa ada komponen yang tertinggal.

Bakat bongkar pasang itu pun akhirnya mulai membuatnya ’’dianggap’’ di lingkungan sekitar. Sebab, dia juga terampil membetulkan sepeda teman-teman sebayanya.

’’Saya juga belajar bagaimana memainkan beberapa alat musik. Dan dari sana saya beralih dari memperhatikan sepeda dan alat musik kepada orang yang mengendarai dan memainkannya,’’ terangnya.

Menengok kembali jalan hidupnya itu, jangankan orang lain, Shore sendiri juga mengaku tak menyangka bisa menjadi profesor. Bisa menjadi pakar yang berbagi ilmu tentang edukasi bagi para penderita autisme.

Sejumlah buku juga telah ditelurkannya. Antara lain, Beyond the Wall: Personal Experiences with Autism and Asperger Syndrome pada 2003. Shore pun telah berkeliling ke 41 negara di dunia. Juga ke 47 negara bagian di AS.

Di semua tempat yang dia kunjungi itu, dia selalu berupaya mengubah paradigma masyarakat tentang autisme. Sebab, dia masih melihat banyak penderita autisme yang jarang mendapat pendidikan yang sesuai dan pekerjaan yang layak.

Dan, itu terjadi semata karena ketidakmampuan penyandang autisme berinteraksi secara sosial. ’’Yang tidak diketahui masyarakat, perilaku autisme yang repetitif dan mendetail sangat berguna jika diarahkan dengan benar. Contohnya, seseorang yang bekerja di departemen informasi transportasi di stasiun,’’ katanya.

Menurut dia, pekerja autistik akan menyampaikan data yang faktual, detail, dan berulang. Mereka pun bisa menghafal tanpa harus mencari referensi lagi. Karena itu, sepanjang petualangannya membagi ilmu, dia terus mempromosikan berbagai kelebihan yang dimiliki penderita autisme.

Tentu saja, kelebihan tersebut berbeda-beda. Namun, dia merasa bahwa keluarga bisa mencoba mengidentifikasi dan menggenjotnya sambil mencoba menekan kekurangannya.

’’Hanya karena kucing bisa memanjat dipandang pintar, sedangkan ikan bodoh karena tak bisa melakukan hal yang sama. Justru harus dimanfaatkan fakta bahwa ikan sangat pandai berenang,’’ katanya beranalogi.

Misi yang diusung Shore itulah yang membuat kehadirannya di Indonesia di mata Ketua Yayasan Indonesia Peduli Anak Berkebutuhan Khusus (YIPABK) Very Jun Leven Manik menjadi sangat penting. Sebab, kendati sambutan masyarakat Indonesia terhadap penyandang autisme sudah lebih terbuka, kesalahan penanganan masih sering terjadi.

’’Dari sisi inilah Stephen bisa memberikan tawaran solusi karena dia sendiri punya pengalaman itu,’’ terangnya.

Menurut Very, Shore menjadi sosok becermin yang tepat bagi semua penderita autisme selain Temple Grandin. Grandin adalah profesor bidang ilmu kehewanan di Colorado State University. Kisah hidupnya pernah difilmkan dengan Claire Danes yang memerankan Grandin.

’’Kami berharap kehadiran Stephen kian menyadarkan masyarakat bahwa selain keterbatasan, penderita autisme juga menyimpan kemampuan yang luar biasa,’’ ujarnya. (Mochamad Salsabyl Ad’n, Jakarta)

Respon Anda?

komentar