Ditahan di Batam Sejak 2014, Indonesia Serahkan WN Singapura ke Amerika

626
Pesona Indonesia
Warga Negara Singapura, Lim Yong Nam (tengah-diborgol ditutupi jaket) meninggalkan kantor polisi di Batam, diapit oleh seorang polwan (kemeja merah), jaksa (seragam coklat tua) dan perwira Interpol. Foto: F Pangestu/straitstimes
Warga Negara Singapura, Lim Yong Nam (tengah-diborgol ditutupi jaket) meninggalkan kantor polisi di Batam, diapit seorang polwan (kemeja merah), jaksa (seragam coklat tua) dan perwira Interpol. Foto: F Pangestu/straitstimes

batampos.co.id – Diam-diam, Pemerintah Indonesia menyerahkan Lim Yong Nam, warga negara Singapura kepada pemerintah Amerika Serikat, setelah ditahan cukup lama di Batam.

Lim diserahkan pemerintah ke tim kepolisian Amerika pada Jumat (1/4/2016) lalu, setelah diterbangkan dari Batam ke Jakarta.

Lim menghadapi tuduhan melanggar embargo perdagangan Amerika terhadap Iran. Lim ditahan di Batam sejak Oktober 2014 saat menghadiri pemeran perdagangan.

“Lim Yong Nam telah diserahkan kepada Marshal AS … tapi kami tidak dapat mengungkapkan lokasi pemindahan tahanannya,” ujar Andar Perdana Widiastono, kepala Kejaksaan Tinggi Provinsi Kepulauan Riau, seperti dikutip straitstimes dan dilansir singapuraterkini.

Indonesia tidak memiliki perjanjian ekstradisi resmi dengan AS, tapi hukum Indonesia memungkinkan permintaan tersebut untuk dipertimbangkan pada kasus tertentu.

Straitstimes menyebut Pengadilan Negeri Batam mengabulkan permintaan AS untuk menyerahkan Lim ke AS.  “Sebuah pengadilan distrik Batam mengabulkan permintaan itu tahun lalu,” tulisnya.

Hakim mengatakan telah mempertimbangkan hubungan baik kedua negara dan bantuan Amerika dalam mengembaikan dua penjahat asal Indonesia ke Indonesia beberapa waktu  lalu.

Kabarnya, Presiden Joko Widodo juga mendukung putusan PN Batam soal permintaan AS agar Lim diserahkan ke AS.

Pengacara Lim di Batam, Boy Kanu mengatakan kliennya telah mencoba mengajukan permohonan untuk dikirim ke Singapura sebagai gantinya. Namun putusan pengadilan tetap memenuhi keianginan AS.

Kementerian Luar Negeri Singapura (MFA) mengatakan pihaknya telah menghubungi pihak berwenang AS  untuk meminta informasi tentang proses hukum yang akan dihadapi Lim di AS.

“Kami juga telah meminta AS untuk memastikan bahwa Lim diberikan hak-hak hukumnya. MFA akan terus melaksanakan tanggung jawab konsuler kami dengan menyediakan kepadaya bantuan yang diperlukan,” kata seorang juru bicara MFA dalam sebuah pernyataan.

Lim dituduh memperoleh 6.000 modul frekuensi radio untuk diekspor ke Iran. AS telah meminta Singapura untuk mengekstradisi dia pada tahun 2011, namun Pengadilan Tinggi Singapura menemukan bahwa kejahatan yang dituduhkan kepadanya bukanlah suatu pelanggaran di Republik ini.

Pada tahun 2011, Lim didakwa bersama tiga warga Singapura lainnya dan warganegara Iran oleh Departemen Kehakiman AS bersekongkol untuk memungkinkan komponen elektronik dari AS yang akan diekspor secara ilegal ke Iran.

AS menuduh bahwa 16 dari modul itu kemudian ditemukan di perangkat peledak rakitan di Irak yang belum diledakkan.([email protected]/straitstimes/singapuraterkini/nur)

Respon Anda?

komentar