Tiga Siswi Madrasah Diserang di MRT, Ini Reaksi Warga Singapura

681
Pesona Indonesia
Sekolah Madrasah Al-Arif Al Islamiyah Singapura. Foto: media corp/istimewa
Sekolah Madrasah Al-Maarif Al-Islamiah Singapura. Foto: mediacorp/istimewa

batampos.co.id -Tiga siswi madrasah Al-Maarif Al-Islamiah Singapura diserang seorang pria berusia 48 tahun saat ketiga siswi itu berada di stasiun MRT Payah Lebar, Jumat (1/4/2016) sekitar pukul 07.20 waktu Singapura.

Polisi dalam siaran persnya seperti dilansir Channel News Asia mengaku langsung bergerak begitu menerima laporan penganiayaan tersebut pada pukul 07.35.

“Para siswi (yang dianiaya) berusia 14 sampai 16 tahun. Mereka diserang dalam perjalanan (MRT) menuju madrasah mereka,” kata polisi.

Pihak sekolah yang diwakili, Nisha Mohd Hussein, di akun Facebooknya membenarkan kalau tiga siswinya dianiya pria paruh baya pada Jumat lalu di stasiun MRT Paya Lebar.

Nisha mengatakan ketiga siswa tersebut diduga ditendang dan dipukul oleh seorang pria.

“Korban pertama ditendang di paha kiri, korban kedua dihempaskan dengan kantong plastik berisi barang berat, dan korban ketiga dipukul dengan cara yang sama pada salah satu matanya,” tulisnya.

Para siswa menyebutkan ciri penyerang sebagai pria paruh baya mengenakan T-shirt merah, bermuda coklat muda dengan sepatu bot hitam. Pria itu membawa ransel hijau dan kantong plastik putih.

Nisha mengimbau saksi mata untuk membantu mengungkap kasus ini. Namun sejak membuat posting pribadi itu belum ada yang melapor melihat kejadian itu.

Sekolah ini juga merilis sebuah pernyataan di halaman Facebook-nya, yang menyatakan bahwa siswa yang terkena penganiayaan telah dinasihati untuk tetap tenang dan orang tua mereka telah diberitahu.

Dewan Agama Islam Singapura yang mengetahui penganiayaan tersebut, Sabtu (2/4/2016) langsung mengeluarkan pernyataan. Isinya, meminta masyarakat Singapura, khususnya umat Islam tetap tenang dan mempercayakan kasus tersebut kepada pihak berwenang.

Menteri Dalam Negeri dan Hukum, K Shanmugam yang mengetahui insiden itu Jumat lalu langsung meminta kepolisian Singapura menyeldiki kasus tersebut.

“Sampai saat ini motif serangan belum diketahui. Tapi kita akan sampai ke dasarnya dan memastikan bahwa keadilan dijalankan,” ujar Shanmugam.

Menteri Agama Islam Singapura Yaacob Ibrahim, juga angkat bicara. Sabtu (2/4/2016) lalu ia menulis dalam sebuah posting Facebook bahwa serangan dalam bentuk apapun tidak boleh ditolerir.

“Ini benar-benar tidak dapat diterima. Kita seharusnya tidak mentolerir setiap bentuk agresi terhadap siapa pun, terutama bagi yang tidak bersalah. Pelaku harus dibawa ke pengadilan,” katanya, seraya menambahkan bahwa Dewan Agama Islam Singapura (MUIS) bekerja sama dengan madrasah untuk membantu siswa tersebut.

“Kita harus tetap tenang dan bersatu dan tidak membiarkan kejadian ini memecah belah kita,” kata Dr Yaacob.

Deputi Perdana Menteri dan Menteri Koordinator Keamanan Nasional, Teo Chee Hean, melalui akun facebooknya, Sabtu (2/4/2016) mengatakan senang melihat polisi telah menangkap pelaku.

“Sebagai masyarakat kita harus berdiri bersama melawan segala bentuk kekerasan terhadap orang yang tidak bersalah, terutama jika mungkin terkait ras atau agama,” kata DPM Teo.

Menyusul penangkapan pria itu, Menteri Lingkungan dan Sumber Daya Air, Masagos Zulkifli, mengatakan dia senang orang Singapura menanggapi kasus ini bersama-sama dan tetap tenang.

“Jangan biarkan orang mengambil keuntungan atas insiden seperti ini untuk menghasut kebencian dan perpecahan ketika sedang diselesaikan oleh pihak berwenang,” katanya.

“Polisi memandang serius tindakan yang bisa mengancam keharmonisan ras dan agama di Singapura. Setiap orang yang menyebabkan rasa sakit pada orang lain atas dasar ras atau agama mereka akan ditangani dengan serius sesuai dengan hukum,” kata Wakil Komisaris Polisi (Investigasi & Intelijen) dan Direktur Departemen Investigasi Kriminal, Tan Chye Hee.(channelnewsasia/singapuraterkini/nur)

Respon Anda?

komentar