Basa-Basi Harga BBM

823
Pesona Indonesia

Pemerintah menurunkan harga bahan bakar minyak (BBM) jenis premium dan solar mulai 1 April 2016 pukul 00.00 WIB. Hal ini disampaikan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Sudirman Said usai mengikuti rapat terbatas tentang penetapan harga bahan bakar minyak (BBM) jenis premium dan solar di Kantor Presiden, Jakarta, Rabu 30 Maret lalu. Dengan demikian, harga premium berubah dari Rp6.950 per liter menjadi Rp6.450 per liter alias turun Rp500 per liter. Sementara, BBM jenis Solar juga mengalami penurunan dari Rp5.650 menjadi Rp5.150 atau pemangkasan harga sebesar Rp. 500. Dan harga minyak tanah tak berubah.

Hal ini dinyatakan sebagai realisasi dari janji pemerintah yang secara periodik akan melakukan evaluasi terhadap harga BBM, baik premium maupun solar. Berdasarkan keputusan yang diambil ketika pemerintah menaikan harga BBM akhir tahun 2014 lalu, evaluasi akan dilakukan dengan memperhatikan dan mempertimbangkan berbagai faktor, mulai dari dinamika harga minyak dunia, inflasi dan daya beli, sampai pada momentum seperti bulan puasa dan lebaran, dll.

Jika dilihat secara global, harga minyak mentah dunia memang sempat bergerak di seputaran US$ 40 per barel, bahkan beberapa hari sempat bertengger di atas US$40 per barel. Namun kian berlimpahnya pasokan minyak AS dan belum pastinya komitmen pembekuan produksi dari OPEC dan Rusia membuat harga kembali tertekan dan wara-wiri sedikit di bawah level US$40 sebarel.

Sebenarnya pergerakan positif harga minyak dunia akan menjadi berita baik bagi negara eksportir komoditas seperti Indonesia karena diharapakan akan menebar senyum kepada harga-harga komoditas andalan ekspor yang sejak pertengahan tahun lalu tertekan nyaris tanpa ampun. Selain itu, ekspektasi lain juga muncul ketika harga-harga komoditas membaik, yakni penguatan nilai tukar mata uang Rupiah terhadap dollar Amerika.Nah, apresiasi rupiah akan membuat biaya importasi minyak mentah menjadi lebih murah karena satuan transkasi komoditas global dihitung bedasarkan mata uang dolar.

Dan untungnya, jika ditilik secara fundamental, terutama dari berbagai perkembangan ketidakseimbangan antara permintaan dan penawaran (supply-demand imbalance) untuk komoditas minyak mentah, nampaknya harga minyak dunia pun tidak akan berlari terlalu jauh dari level $40 per barel, bahkan ada kemungkinan akan berbalik kembali ke kisaran $30 an per barel jika OPEC dan Rusia gagal mencapai kesepakatan pembekuan produksi pertengahan April nanti. Artinya, prediksi dan proyeksi harga yang muncul adalah angka-angka yang selisihnya masih jauh dari asumsi Indonesia Crude Price (ICP) yang ditetapkan di dalam APBN 2016. Sehingga harapan masyarakat atas penurunan harga jual BBM domestik memang sudah selayaknya disambut oleh pemerintah dengan kebijakan yang nyata.

Jika dilihat ke belakang, PT Pertamina (Persero) jauh hari juga pernah menyatakan komitmen untuk menurunkan harga BBM jenis premium di bawah level Rp. 5000, walaupun penurunan kali ini ternyata masih jauh dari target yang diharapkan pertamina. Ini tentu akan menjadi berita baik yang salah satunya akan menjadi bukti komitment pemerintah terhadap upaya penjagaan daya beli masyarakat dan menjaga tingkat konsumsi rumah tangga.

Di saat bersamaan, setelah saya membaca beberapa berita tentang penurunan harga BBM domestik, muncul berita lain menyatakan harga eceran bahan bakar minyak di Malaysia malah naik 10 sen hingga 20 sen yang juga berlaku mulai 1 April, menyusul tren kenaikan harga minyak mentah dunia sepanjang Maret. Harga baru RON95 menjadi 1,70 ringgit per liter setara Rp5.440 per liter, RON97 menjadi 2,05 ringgit per liter setara, dan diesel 1,55 ringgit per liter. Sebelumnya harga bensin RON95 adalah 1,60 ringgit, RON97 1,95 ringgit dan diesel 1,35 ringgit per liter. Dengan kenaikan tersebut, pengusaha SPBU dan konsumen di Malaysia diminta menggunakan harga terkini yang telah ditetapkan pemerintah Malaysia.

Lucunya lagi, kalimat penutup dari berita ini sangat picik, dengan menyisipkan kalimat yang berbunyi “Saat Malaysia menaikan harga BBM, sementara di Indonesia, mulai tanggal 1 April harga BBM justru turun” (Antaranews, 1/4/16). Begitu besar niatan berita semacam ini untuk mengatakan bahwa kebijakan yang diambil pemerintah jauh lebih baik ketimbang Malaysia. Saya kira, logikanya tidak sesederhana urusan “turun” dan “naik” semata. Artinya, Indonesia yang menurunkan harga BBM belum tentu lebih baik daripada Malaysia yang justru menaikan harga BBM domestiknya. Karena persoalanya harus dilihat jauh lebih detail dalam kaca mata komparatif yang juga berimbang.

Misalnya, jika dilihat dari harga saja, RON95 atau pertamax plus di Malaysia jauh lebih rendah dibanding harga premium di Indonesia. Di Malaysia tidak mengenal premium, RON95 adalah varian BBM paling rendah kualitasnya. Meskipun Malaysia manaikan harga RON95 menjadi RM 1.70 atau sekitar Rp. 5440 per perliter dan Indonesia malah menurunkan harga Premium atau RON88 (yang kualitasmnya jauh lebih rendah) menjadi Rp. 6.450, harga jual Indonesia maih jauh lebih mahal dibanding Malaysia. Padahal relasi head to head-nya sudah sangat tidak imbang, pertamax plus versus premium, tapinyatanya premium masih jauh lebih mahal. Apalgi jika dibanding dengan varian yang sama. RON 95 (Pertamax Plus) tanpa pajak adalah Rp 7.696 per liter (pajak 15%), maka akan jauh terlihat betapa lebih murahnya harga BBM di Malaysia ketimbang di Indonesia. Bukankah ini aneh dan sangat susah dijelaskan?

Jika perbandingan dengan satu negara belum cukup, mari kita coba bandingkan dengan negara maju seperti Amerika misalnya, bagaimana jadinya? Mari kita lihat. Harga rerata nasional BBM untuk jenis regular gasoline (setara RON 92) di Amerika Serikat pada 25 Maret 2016 adalah 1,81 dollar AS per gallon. Dengan kurs jual BI pada tanggal yang sama Rp 13.094 per dollar AS, harga RON 92 di AS Rp 6.261 per liter (1 gallon = 3,7854118 liter). Nah harga eceran RON 92 (Pertamax) di Indonesia pada 25 Maret 2016 adalah Rp 7.950 per liter. Berarti harga RON 92 di Indonesia lebih mahal sebesar Rp 1.689 ketimbang di AS.
Jika kita keluarkan segala jenis pajak, maka perbedaannya justru akan jauh lebih besar. National average excise taxes per gallon untuk gasoline di AS adalah 0.4928. Jadi, harga RON 92 di AS tidak termasuk pajak adalah Rp 4.556 per liter. Sedangkan harga RON 92 (Pertamax) tanpa pajak di Indonesia adalah Rp 6.913. Jadi perbedaannya Rp 2.357 per liter alias jauh lebih mahal di Indonesia ketimbang di amerika. Bahkan harga RON 92 di AS masih lebih murah ketimbang harga Premium (RON 88) yang harganya Rp 6.450.

Jadi ternyata, baik dibanding dengan Malaysia maupun dengan AS, harga BBM domestik Indonesia masih jauh lebih mahal. Padahal yang kita bandingkan dengan malaysia adalah jenis BBM yang jauh lebih bermutu, yakni RON95 versus RON88. Nah, jika demikian adanya, pertanyaan provokatif selanjutnya adalah apakah pemerintah masih mau berkilah dengan logika naik dan turun tersebut? Saya kira keterlaluan jika masih mencari pembenaran ini dan itu. Pada tataran ideal, saya juga sangat paham bahwa rakyat mungkin tidak menuntut harga BBM untuk terus diturunkan atau bahkan disamakan dengan negara lain karena ada beberapa variable kontekstual yang juga harus dipertimbangkan. Tapi jika tidak terlalu sama, ya minimal relatif tidak terlalu berbeda. Tapi jika terlalu jauh perbedaaanya, ya tolong selisih yang besar itu dijelaskan larinya ke mana. Terdengar lebih fair toh? ***

Ronny-P-Sasmita

Respon Anda?

komentar