Harga Kebutuhan Pokok Semakin Tinggi di Daik

822
Pesona Indonesia
Pedagang ayam di Pasar Rampai Rezeki di Daik sepi pembeli. foto:hasbi/batampos
Pedagang ayam di Pasar Rampai Rezeki di Daik sepi pembeli. foto:hasbi/batampos

batampos.co.id – Harga kebutuhan pokok di Lingga terus saja meroket. Turunnya harga BBM yang sudah dua kali pada tahun 2016, juga tidak berpengaruh banyak terhadap harga barang di pasaran.

Awang, salah seorang warga Kelurahan Daik, ibukota kabupaten Lingga, mengatakan hal ini sangat memberatkan masyarakat. Sejak akhir tahun 2015 lalu, harga kebutuhan pokok seperti beras, gula, telur, ikan naik. Untuk perkilo harga beras di Lingga dengan kualitas rendah dipatok Rp 12 ribu. Gula Rp 13 ribu perkilogram. Harga satu papan telor mencapai Rp 40 ribu. Belum lagi harga ikan pasar lokal yang perkilonya mencapai Rp 38 ribu. Sementara daging ayam di pasar Rampai Rezeki, harganya Rp 38 sampai Rp 40 ribu perkilogram.

“Harga kebutuhan pokok terus naik. Begitu BBM naik, semua barang tinggi. Tapi pas BBM turun, harga barang tetap saja. Bahkan makin naik,” keluh Awang, Senin (4/4).

Sementara standar penghasilan warga dengan mata pencaharian dan pekerjaan yang ada masih jauh dibawah standar. Baik buruh, nelayan, maupun tenaga honorer pemerintah mendapatkan upah yang kecil.

“Sudahlah pekerjaan susah. Harga barang tinggi. Di Daik, ibukota saja kita masih seperti ini. Apalagi nasib saudara-saudara kita yang di pulau, lebih parah lagi,” tambah Awang.

Warga berharap, pemerintah mencarikan solusi terbaik. Harga kebutuhan pokok dipasaran, perlu ditinjau. Jika tidak, pedagang semena-mena menaikan harga barang dengan alasan sulitnya pendistribusian barang ke Lingga. Sampai saat ini, Pemkab Lingga tidak pernah mengakomodir pengusaha dan memberikan kemudahan distribusi barang kebutuhan pokok di Lingga.

“Barang-barang di Pancur lebih murah daripada di Daik. Di Dabo, juga jauh lebih murah. Tapi di Daik hampir semua harga barang mahal semua,” tuturnya.

Beberapa waktu lalu, kunjungan Wagub Kepri, Nurdin Basirun ke Lingga juga menyoroti persoalan ini. Mahalnya harga pasaran di Lingga seperti beras dan gula. Termasuk harga BBM subsidi di Lingga karena diecer naik dan mahal. Satu liter bensin di Lingga tembus Rp 10 ribu.

“Ini memang menjadi masalah yang perlu secepatnya di angani. Tidak hanya BBM saja, tapi beras dan bahan pokok lainnya juga. Di Karimun, harga beras Rp 8000, sedangkan di Lingga bisa mencapai Rp 14.000,” ungkap Nurdin beberapa waktu lalu.

Sementara itu, Kepala Dinas Disprindagkop , Muzamil Ismail mengatakan, pada Rabu (6/4) besok, Pemkab Lingga akan menjemput hibah beras dan gula dari Bea Cukai.”Ini langkah sementara menekan harga pasar,” ungkap Muzamil.

Namun untuk jangka panjangg perlu ada upaya serius. Terlebih lagi, warga akan menghadapi bulan Ramadhan dan hari raya besar Islam. Solusi sawah Sungai Besar mungkin akan mampu mengatasi persoalan beras. Tapi untuk kebutuhan lainnya, pemerintah tidak bisa berdiam diri membiarkan dan mengabaikan stabilitas pasar. (mhb/bpos)

Respon Anda?

komentar