Mulai Tahun Ini, Perpustakaan Desa Dinilai

880
Pesona Indonesia
Proses penilaian perpustakaan sekolah tahun lalu. Untuk tahun 2016 ini, juga akan dilakukan penilaian terhadap perpustakaan yang ada di desa maupuun keurahan di Bintan. F. Fatih Muftih / Batam Pos.
Proses penilaian perpustakaan sekolah tahun lalu. Untuk tahun 2016 ini, juga akan dilakukan penilaian terhadap perpustakaan yang ada di desa maupuun keurahan di Bintan. F. Fatih Muftih / Batam Pos.

batampos.co.id – Menumbuhkan dan meningkatan kesadaran masyarakat mengenai arti penting keberadaan perpustakaan adalah kerja bukan sembarang lewat belaka. Kantor Perpustakaan dan Arsip Daerah (KPAD) Bintan menanggung beban yang kelewat berat itu. Dari waktu ke waktu, KPAD Bintan kerap mensosialisasikan pentingnya perpustakaan sebagai lokomotif peningkatan minat baca.

“Karena sebuah peradaban besar tidak akan berjauh-jauh dari buku,” kata Kepala KPAD Bintan, Dahlia Zulfa, kemarin.

Sebab itu, mulai tahun ini, perpustakaan di seluruh desa dan kelurahan yang ada di Kabupaten Bintan, kata Dahlia, akan dinilai. Program ini akan berlangsung sejak awal tahun dan akan mengerucut pada 10 desa/kelurahan dengan pengelolaan perpustakaan terbaik. “Nanti setelah itu dipilih lagi menjadi tiga terbaik dan berhak mendapakatkan apresiasi,” ujarnya.

Program penilaian perpustakaan dilangsungkan setelah melalui beberapa tahapan. Satu yang paling digesa di antaranya adalah melakukan sosialisasi serta asistensi ke desa/kelurahan mengenai pengelolaan perpustakaan. Kegiatan semacam ini digulirkan juga mendukung Peraturan Bupati Nomor 24 tahun 2014.

“Pembinaan kearsipan ke SKPD sudah diarahkan langsung oleh Pak Sekda kepada para Kasubbag Umum se-Bintan. Pak Sekda juga mengarahkan agar ada penilaian tata arsip dan perpustakaan desa/kelurahan terbaik setiap akhir tahunnya,” ungkap Dahlia.

Mantan Camat Bintan Utara ini menambahkan, tiap desa/kelurahan memang sudah semestinya menanamkan semangat cinta perpustakaan kepada masyarakatnya. Karena tanpa kecintaan dan kemauan keras membaca buku, perpustakaan menjadi tidak ada arti keberadannya di desa/kelurahan. Ini yang tak dikehendaki Dahlia.

“Jangan sampai perpustakaan itu seolah-olah jadi gudang buku saja,” tegasnya. (muf/bpos)

Respon Anda?

komentar