Polri dan Muhammadiyah Bahas Kejanggalan Kematian Terduga Teroris

693
Pesona Indonesia
Warga mendoakan Siyono usai dimakamkan. Siyono tewas di tangan Densus karena diduga teroris. Foto: istimewa
Warga mendoakan Siyono usai dimakamkan. Siyono tewas di tangan Densus karena diduga teroris. Foto: istimewa

batampos.co.id — Pimpinan Pusat Muhammadiyah mendatangi Mabes Polri, Senin (4/4/2016). Kedatangan tersebut untuk membahas penyebab kematian terduga teroris Siyono yang diotopsi oleh tim dokter Muhammadiyah. Rencananya, dalam waktu dekat hasil otopsi itu akan rampung.

Ketua PP Muhammadiyah Haedar Nasir menuturkan bahwa Muhammadiyah berupaya membantu dalam penegakan hukum. Untuk saat ini, kasus yang dibantu soal kematian Siyono yang diotopsi tim Dokter Muhammadiyah. ”Kami sampaikan berbagai masalahnya ke Kapolri,” tuturnya.

Upaya tersebut diterima dengan baik, akhirnya Polri akan mengirimkan seorang personil forensik untuk ikut membantu di lapangan. Sehingga, nantinya akan ada pemahaman yang sama dalam otopsi tersebut. ”Jadi, bisa saling memahami antara Komnas HAM, Polri dan Muhammadiyah,” ujarnya.

Dia mengatakan bahwa Kapolri memastikan untuk meneliti seberapa jauh terjadinya penyimpangan dalam penangkapan yang dilakukan pada Siyono. ”Kalau ada kekliruan yang dilakukan, nanti akan diproses secara internal,” paparnya.

Apakah mungkin hasil forensik Tim Dokter Muhammadiyah akan diterima kepolisian? Dia menuturkan bahwa tim dokter tersebut sudah biasa membantu kepolisian. Baik dalam keadaan bencana yang yang lainnya. Kebetulan saat ini dalam kasus kematian terduga teroris Siyono. ”Apalagi, ada personil Polri yang ditugaskan,” ungkapnya.

Terkait hasil otopsi, dipastikan membutuhkan waktu sekitar 10 hari. Selama itu, tim dokter dari Muhammadiyah dan Polri bsia bekerjasama untuk mencari penyebab kematian terduga teroris Siyono tersebut. ”Nanti, hasil otopsi ini akan diserahkan ke Polri. Sehingga semuanya akan diketahui,” paparnya.

Menurut dia, kedepan kerjasama antara Muhammadiyah dengan Polri terkait keamanan dan ideologi bisa lebih ditingkatkan. Sebagai organisasi, tentunya memiliki kewajiban membantu menjaga keamanan. ”Kami akan terus berupaya bekerjasama dengan Polri,” ujarnya.

Siyono, 33 tahun, tewas dalam status tahanan Detasemen Khusus 88 Antiteror. Ayah lima anak itu meninggal dalam pemeriksaan Densus 88 pada Jumat, 11 Maret 2016.

Kepolisian RI menyatakan Siyono tewas dalam perjalanan ke rumah sakit setelah berkelahi dengan seorang anggota Densus yang mengawalnya.

Namun Komisi Nasional Hak Asasi Manusia dan Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Kekerasan (Kontras) menemukan sejumlah kejanggalan dalam kematian Siyono.

Sebelumnya, KontraS menyatakan pemberantasan terorisme oleh Detasemen Khusus 88 (Densus 88) tidak diiringi akuntanbilitas. Kasus tewasnya Siyono, terduga teroris asal Klaten contohnya. Kontras beranggapan banyak pelanggaran yang dilakukan polisi.

Markas Besar Polri menyatakan Siyono tewas karena melawan seorang petugas yang sedang mengawalnya. Namun menurut Staff Divisi Pembelaan Hak Sipil dan Politik Kontras, Satrio Wirataru, hal tersebut janggal karena standarnya minimal ada dua orang mengawal tersangka.

“Apalagi ini kasus terorisme,” saat konferensi pers di Kantor KontraS, Senen, Jakarta, Sabtu, 26 Maret 2016.

Ia mempertanyakan keterangan polisi yang menjelaskan bahwa Siyono adalah panglima salah satu kelompok teroris. Menurutnya, fakta tersebut kabur dan berasal dari sumber yang tidak jelas.

Menurut Satrio pernyataan polisi hanya upaya memperkuat kesan bahwa kematian Siyono karena ia berbahaya. “Karena ia sudah tewas, jadi tidak bisa mengkonfirmasi ini. Dan polisi tidak seharusnya mengeluarkan pernyataan itu,” ucapnya.

Ia menambahkan polisi harus menunjukkan berita acara pemeriksaan (BAP) bila mereka menganggap Siyono seorang panglima berasal dari pengakuannya. “Kalau itu pengakuannya, coba tunjukkan BAP,” ujarnya.

Kejanggalan lainnya terdapat pada jenazah Siyono. Menurut Satrio, tidak masuk akal bila ia tewas karena berkelahi dengan satu orang. Selain itu, kondisi jenazah tidak sesuai dengan keterangan tewas akibat kepala Siyono dibenturkan ke badan mobil.

“Luka yang kami temukan ada memar pipi, mata lebam, hidung patah, kaki dari paha hingga betis bengkak dan memar, kuku kaki hampir patah, dan keluar darah dari belakang kepala,” tuturnya.

Kontras menduga ada penyiksaan yang terjadi terhadap Siyono dan meminta polisi menyelidiki kembali dan menindak pelakunya. Polisi seharusnya tidak kekurangan bukti untuk menindak anggotanya karena jenazah Siyono sudah divisum.

Selain kejanggalan tersebut, Kontras juga mencatat beberapa pelanggaran yang dilakukan oleh Densus 88, antara lain pelanggaran administrasi. Petugas tidak menunjukkan surat perintah mulai dari penangkapan hingga penggeledahan rumah Siyono. (idr/jpg/tempo/nur)

Respon Anda?

komentar