AH, Oknum Anggota DPRD Diduga Melakukan Penculikan, Pencabulan, dan Aborsi Anak Bawah Umur

1069
Pesona Indonesia
ilustrasi
ilustrasi

batampos.co.id – Direktur Direktorat Reserse Kriminal Umum (Direskrimum) Polda Kepri Kombes Adi Karya Tobing, menegaskan, kasus penculikan, pencabulan, dan aborsi, yang diduga dilakukan oleh Anggota DPRD Natuna, AH, terhadap korban anak bawah umur yang masih duduk di bangku kelas satu SMA di Ranai, akan segera ditarik dari Polres Natuna ke Ditreskrimum Polda Kepri.

”Akan segera ditarik ke sini (Polda, red). Tapi nanti setelah gelar perkara,” tegas Adi di Mapolda Kepri, Rabu (6/4).
Adi mengaku, penyidik telah melakukan pemanggilan terhadap beberapa orang saksi, selain itu juga telah memeriksa beberapa alat bukti lainnya. Menurut Adi, hasil penyelidikan polisi, kuat dugaan terjadi tindak asusila.”Masih butuh pembuktian yang lebih mendalam lagi,” ungkapnya.

Dikatakan Adi, kasus tindak asusila yang dilakukan oknum anggota dewan tersebut, telah terjadi selama beberapa bulan. Mulai dari korban dicabuli di Natuna, hingga dibawa ke Batam lalu diduga melakukan aborsi.

”Namun mengenai tindakan aborsi ini, apakah korban dipaksa oleh AH atau atas kehendak sendiri? Masih kami dalami. Sejauh ini sudah 10 orang saksi yang diperiksa, baik itu di Natuna maupun yang di Batam. Semua barang bukti sudah kami sita, seperti CCTv yang ada di bandara, hotel, dan rumah sakit,” jelas Adi.

Sementara itu, korban yang sudah berada di Natuna sudah mulai kembali sekolah. Kepala SMAN 1 Ranai Khairullah, mengatakan, pihaknya masih menerima korban untuk bersekolah. Ia berjanji, pihak sekolah tidak akan mengeluarkan korban.

”Setelah urusannya selesai. Kami tidak akan mengeluarkan korban. Justru kami memberikan keputusannya pada korban. Apakah masih mau sekolah di sini atau pindah?” ujar Khairulah, Senin (5/4).

Diakui Khairulah, korban terakhir mengikuti pelajaran, Selasa (17/3) bulan lalu. Setelah istrirahat jam pelajaran pertama sekitar pukul 10.00 WIB, korban mendadak minta izin untuk berobat.

”Dia minta izin mau berobat karena sakit perut dan kami izinkan. Tapi kami kaget, karena besoknya polisi datang ke sekolah, korban hilang. Kami tak menyangka, padahal anaknya pendiam,” ungkapnya.

Kahirullah mengaku, dunia pendidikan sedang digoyang dengan prilaku siswa yang tidak selayaknya. Padahal sekolah sudah maksimal melakukan pembinaan dan bimbingan agar anak lebih baik. Ia berharap, karena keterbatasan pengawasan sekolah terhadap siswa, tentu peran dan kerjasama orangtua sangat diharapkan.

”Guru-guru selama ini sudah proaktif melakukan pencegahan. Kami sudah upayakan pemantapan iman para siswa. Kejadian ini tidak terlepas juga dari permasalahan narkoba yang sudah merambah dikalangan pelajar,” sebut Khairullah.

Sementara AH, oknum anggota DPRD Natuna yang juga Ketua Komisi II yang membidangi pembangunan tersebut tidak terlihat di kantornya sejak kasus ini mencuat. (arn/ska/bpos)

Respon Anda?

komentar