20 Juta Penduduk Bangladesh Minum Air Arsenik, 43 Ribu Meninggal Setiap Tahun

626
Pesona Indonesia
Anak-anak di Bangladesh memompa air sumur yang ternyata mengandung arsenik alami. 43 ribu warga Bangladesh tewas tiap tahunnya akibat efek arsenik tersebut. Foto: www.ucl.ac.uk
Anak-anak di Bangladesh memompa air sumur yang ternyata mengandung arsenik alami. 43 ribu warga Bangladesh tewas tiap tahunnya akibat efek arsenik tersebut. Foto: www.ucl.ac.uk

batampos.co.id – Ini bencana kemanusiaan yang paling berbahaya. Nyawa jutaan penduduk Bangladesh terancam oleh air minum yang memiliki kandungan arsenik.

Pengamat HAM (HRW), Rabu (6/4/2016) mengungkapkan, sekitar 43 ribu penduduk Bangladesh meninggal setiap tahun akibat penyakit yang disebabkan keracunan arsenik. Misalnya, kanker, lesi di kulit, liver, jantung, ginjal, dan paru-paru.

Kejadian mengenaskan itu bermula dari usaha pemerintah menyediakan air bersih untuk penduduk miskin pada 1970-an. Saat itu, pemerintah Bangladesh menggali air tanah dan menyediakan jutaan sumur kecil bagi penduduk desa. Mereka tidak menyadari bahwa tanah di area yang digali tersebut bercampur dengan arsenik alami. Sekitar 20 juta penduduk Bangladesh meminum air beracun itu setiap hari.

Pemerintah Bangladesh akhirnya mengetahui air tersebut beracun setelah melakukan pengetesan pada 2000–2003. Namun, mereka tidak melakukan usaha apa pun untuk menghilangkan kandungan arsenik tersebut.

’’Alasan mengapa tragedi ini masih terus terjadi adalah karena pemerintahan yang buruk,’’ ujar peneliti HRW Richard Pearshouse. WHO bahkan menyebut itu sebagai keracunan masal terbesar sepanjang sejarah.

Beberapa penduduk membuat sumur yang lebih dalam untuk mencari sumber air di bawah air tanah yang terkontaminasi. Namun, tidak ada pengawasan yang layak dari pemerintah sehingga tidak diketahui dengan pasti apakah sumur tersebut sudah bebas arsenik atau belum.

Para politikus malah memanfaatkan momen itu untuk membangun sumur-sumur baru yang tidak terkontaminasi racun bagi para pendukungnya. Sayangnya, wilayah-wilayah yang justru paling parah malah tidak mendapat sumur baru tersebut.

’’Artinya, situasi saat ini masih sama buruknya dengan 15 tahun lalu,’’ ujar Pearshouse.

Sumber di internal pemerintah mengungkapkan bahwa 50 persen lokasi sumur baru yang didanai pemerintah telah ditentukan para legislator. Yaitu, di lokasi para pendukungnya itu.

’’Para legislator memiliki kesempatan untuk menyalahgunakan kekuasaan mereka dan mengubah lokasi sumur ke para pendukungnya bila dibandingkan dengan mendistribusikannya ke orang-orang yang terdampak kontaminasi arsenik,’’ ujar sumber tersebut. (AFP/The Guardian/sha/c4/ami/jpg)

Respon Anda?

komentar