Dimutasi, Lurah Hajar Pak Camat di Riau

713
Pesona Indonesia
ilustrasi penganiayaan.
ilustrasi penganiayaan.

batampos.co.id – Diduga karena tak terima dimutasi, seorang lurah menghajar Camat Tenayan Raya, Abdurrahman, saat sang camat sedang senam pagi dengan warga dan pegawainya, Kamis (7/4/2016).

Pak Camat yang tak menduga mendapat serangan dari arah belakang sempat terjengkang. Ia sempat menoleh dan ternyata pria yang menerjangnya ternyata Sutahar, mantan Lurah Sail, Kecamatan Tenayan Raya yang dimutasi ke kelurahan di Kecamatan Lima Puluh, Riau.

Belum sempat bangkit, Pak Camat kembali dihujami bogem mentah di arah rahang namun hanya mengenai bagian telinga hingga lebam dan memar.

Pak Camat kemudian mencoba lari, namun kembali mendapat serangan bertubi-tubi. Sementara pegawai camat lainnya hanya diam terpaku karena serangan berlangsung cepat dan mendadak. Sebagian takut menjadi sasaran amarah Pak Luruha.

Namun warga yang mengikuti senam pagi itu memberi pertolongan dengan menahan Sutahar agar tak menyerang lagi. Sutahar pun berhenti dan langsung pergi dengan mobilnya.

Sementara Pak Camat Tenayan langsung mendatangi Polsek Tenayan Raya untuk membuat laporan.

“Saya tak terima. Perlakuan ini sungguh sangat disayangkan. Pejabat publik bisa-bisa nya bertindak brutal di depan masyarakat. Ini sudah tak bisa diterima lagi,” paparnya pak Camat kepada Riau Pos (grup batampos.co.id).

Saat ditanya apa penyebab penyerangan brutal tersebut, Abdurrahman mengatakan bisa jadi didasari masalah mutasi. Sutahar merasa tak senang kepadanya karena ia dimutasi ke Kelurahan yang berada di Kecamatan Lima Puluh.

Abdurrahman mengaku, Senin (5/4/2016) lalu, Sutahar juga sempat mengirimkan pesan singkat bernada ancaman kepada Abdurrahman.

“Sebelumnya memang sudah ada peringatan darinya. Ia sms saya Senin lalu. Isinya, ia akan memenjarakan saya. Tapi karena saya tidak merasa ada masalah dengannya, saya tidak takut. Ternyata, hari ini malah terjadi penyerangan seperti ini,” lanjutnya.

Setelah membuat laporan, ia pun lanjut melakukan visum ke RS Bhayangkara. Hasilnya memang ditemukan lebam diantara telinga sang camat. Bekas pukulan tersebut juga membengkak dan terasa perih berdenyut.

Abdurrahman juga merasakan mual dan pusing mendapat bogem mentah dari Sutahar. Tensinya juga tinggi. Yakni 160. Ia mengaku sebelumnya tak pernah mendapatkan hasil pengecekan tensi setinggi itu. “Mungkin karena kaget dan shock, tensi saya jadi naik,” terangnya.

Ia juga mengatakan akan menjalani Scanning. Atas kasus kekerasan yang menimpanya, ia mengaku tak kan ada kata damai. Ia sama sekali tak ingin mencabut tuntutannya.

“Kita akan teruskan kasus ini. Kita limpahkan ke yang berwajib untuk tindakan lanjutnya. Pengacara juga sudah kita siapkan,” tegasnya.

Menurutnya, Sutahar yang selama ini tak pernah bermasalah dengannya seharusnya tak melakukan tindakan kekerasan tersebut. Jika memang ada yang mengganjal, mestinya bisa dibicaran baik baik. Diselesaikan dengan cara profesional. Bukan dengan jalan kekerasan.

“Sebagai pelayan masyarakat, harusnya ia bisa memberi contoh yang baik. Bukan sebaliknya,” ujarnya.

Kejadian itu kini tengah diselidiki oleh pihak Kepolisian. Kapolsek Tenayan Raya Kompol Indra RusdiĀ  membenarkan peristiwa tersebut. Hingga saat ini pihaknya masih melakukan penyelidikan.

“Kejadian ini benar, kita masih selidiki,” jelas Indra. (a/m/rpg)

Respon Anda?

komentar