Selama Kita Masih Bisa Tertawa Berarti Kita Masih Muda: In memoriam HM Sani

2658
Pesona Indonesia
HM sani saat berkunjung ke redaksi Batam Pos. Foto: cecep mulyana/batampos
HM sani saat berkunjung ke redaksi Batam Pos. Foto: cecep mulyana/batampos

batampos.co.id – Dua kali HM Sani maju dalam rivalitas gubernur Kepri. Dua kali jadi underdog, dua kali pula jadi Gubernur. Ada semangat dalam diri Sani yang bisa kita contoh, yakin.

Kali pertama maju dalam rivalitas gubernur berpasangan dengan HM Soerya Respationo HM Sani mengaku hanya bermodal Rp 500 juta.

“Sekarang saya pun hanya punya modal Rp 500 juta,” kisah Sani saat maju dalam arena Pilkada periode kedua berpasangan dengan Nurdin Basirun, 2015 lalu.

Perbincangan santai itu terjadi di kediaman Pak Sani, demikian ia akrab disapa, di Duta Mas, Batam.

“Beginilah rumah saya, kecil saja,” ujarnya sembari menatap sekeliling ruang.

“Sudah tua tak perlu rumah besar, nanti malah repot bila hendak bersih-bersih atau bahkan untuk urusann kunci rumah,” imbuhnya sembari tersenyum.

Periode kedua maju dalam rivalitas Gubernur Kepri, Sani lebih underdog lagi. Bukan semata dari sisi finansial, tapi karena usia.

Untuk urusan ini ia punya jawaban sendiri, “selama kita masih bisa tertawa berarti kita masih muda.”

Sani yakin bisa memenangkan rivalitas. Untuk urusan kerja toh masih ada staf yang bisa bekerja. Sebagai Gubernur ia hanya bekerja dalam tataran konsep saja.

Tapi bukan karena haus jabatan ia maju dalam Pilgub Kepri. Ia hanya memberi pembelajaran.

Sani sedkit kecewa mengapa tak ada putra daerah yang maju sebagai nomor 1 dalam Pilgub Kepri 2015 lalu. Ada putra daerah yang maju tapi hanya nomor 2.

Mau tak mau ia pun harus maju.

Sani terkenal dengan prinsipnya untung sabut, mengalir saja.

Ia kini telah pergi, pergi di hari suci, Jumat. Pergi dengan meninggalkan cita-cita suci pula, demi kejayaan Kepri. (ptt)

Respon Anda?

komentar