32 Kios Liar Pasir Putih Digusur

1232
Pesona Indonesia
Penertiban Kios Liar di Pasir Putih, Batam, Jumat (8/4/2016). Foto: dalil harahap/batampos
Penertiban Kios Liar di Pasir Putih, Batam, Jumat (8/4/2016). Foto: dalil harahap/batampos

batampos.co.id – Sekitar 32 kios liar semi permanen di sekitar Bundaran Tropicana, kawasan Pasir Putih ke arah Bengkong dirobohkan oleh tim terpadu, Jumat (8/4). Tim terpadu yang berjumlah 300 orang terdiri itu, dari Satpol PP, Ditpam BP Batam, TNI dan Polri. Sayangnya, penertiban yang dilakukan tim terpadu tersebut terkesan tebang pilih. Pasalnya, kios-kios liar permanen yang berada di seberang Bundaran Tropicana tidak dirobohkan.

Kepala Satpol PP Pemko Batam, Hendri berdalih baru akan merobohkannya minggu depan. Menurutnya, pengembang kios liar ini memiliki izin untuk membangun taman dari BP Batam, namun dalam praktiknya malah disalahgunakan untuk membangun kios liar. ”Penertiban ini sebagai shock therapy bagi pengembang kios liar lain agar berhenti membangun kios liar,” ujarnya.

Menurutnya, penertiban itu sempat mendapatkan penolakan dari pemilik kios. Pemilik kios berdalih telah membeli kios seharga Rp 40-60 juta dan dibangun di atas lahan Yayasan. ”Mereka (pemilik kios) menolak untuk dibongkar. Karena kios itu dibeli,” paparnya.

Dalam penertiban ini, tim terpadu tidak menurunkan alat berat dan hanya membawa dua lori untuk merobohkan kios-kios liar semi permanen tersebut. Sangat mudah merobohkannya, karena semuanya dibangun menggunakan batako putih yang gampang dihancurkan.

Tim terpadu mendapat target enam bulan dari Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan (Menkopolhukam) untuk meratakan seluruh kios liar yang ada di Batam. Namun praktiknya tidak semua kios liar mendapat level surat peringatan yang sama. Dari delapan titik kawasan kios liar di Batam, ada kios liar yang baru mendapat surat peringatan satu sampai tiga atau SP bongkar, sehingga terkesan tim terpadu tebang pilih dalam penertibannya.

Risma, salah seorang pemilik kios mengaku kecewa dengan penertiban kios miliknya. Ia mengaku mengalami kerugian puluhan juta rupiah tanpa adanya ganti rugi. ”Saya gak tahu kalau tidak boleh berjualan di sini. Kalau tidak boleh, kenapa pemerintah memperbolehkan dibangun,” ujarnya.

Menurutnya, pemerintah melakukan tebang pilih dalam penertiban tersebut. Dimana kios liar yang berjarak 50 meter dari kios miliknya tak di tertibkan. ”Kalau memang salah. Kenapa masih ada yang berdiri? Ini namanya pengrusakan,” paparnya.

Hal senada juga diungkapkan Hendra, pemilik kios di Pasir Putih. ”Kami minta jangan pilih kasih. Pemerintah harus adil. Jangan hanya penertiban dilakukan pada satu lokasi saja sedangkan lokasi lain dibiarkan tanpa adanya penertiban,” ujarnya.

Namun, hal itu dibantah Hendri. Dia mengatakan, penertiban kios liar di kawasan Pasir Putih akan dilakukan secara bertahap. ”Kita harus melakukan tindakan persuasif dulu sebelum bertindak tegas,” kilah Hendri.

Dia pun berjanji, Selasa (12/4) pekan depan, tim terpadu akan merobohkan 63 rumah liar yang ada di dekat Mesjid Agung, Tanjunguncang. Selanjutnya, Jumat (15/4) depan dilanjutkan eksekusi kios liar permanen di seberang Bundaran Tropicana. (leo/opi/rng/hgt/bpos)

Respon Anda?

komentar