Sani Mengabdi hingga Akhir Hayat

1485
Pesona Indonesia
Sani saat berbincang saat ditemui di kediamannya Taman Duta Mas diakhir periode pertama jabatannya sebagai Gubernur Kepri. Foto: Muhammad Nur/batampos.co.id
Sani saat berbincang saat ditemui di kediamannya Taman Duta Mas diakhir periode pertama jabatannya sebagai Gubernur Kepri. Foto: Muhammad Nur/batampos.co.id

batampos.co.id – “Tubuh saya memang sudah rentah, fisik saya tak sekuat saat masih muda. Tapi Alhamdulillah, saya belum pikun. Allah masih memberikan saya akal dan pikiran yang masih berfungsi dengan baik. Saya masih punya semangat, saya paham apa yang masih harus dikerjakan untuk Kepri. Saya akan terus mengabdi sepanjang masyarakat Kepri percaya sama saya.”

Itulah kalimat Sani yang disampaikan saat menerima pemimpin redaksi Batam Pos grup di kediamannya Taman Duta Mas, beberapa hari menjelang jabatannya habis sebagai gubernur Kepri periode pertama.

Saat itu juga Sani sudah memutuskan maju kembali. “Setelah saya selesai ini, saya tak punya siapa-siapa lagi, hanya beberapa teman-teman setia membantu. Termasuk adinda-adinda ini,” kata Sani.

Sani mengaku sangat beruntung punya teman Rida K Liamsi. “Dia teman terbaik saya,” katanya.

Tubuhnya saat itu ditopang bantal di bagian pinggang. Duduknya juga sudah tidak lurus lagi. Namun bicaranya tetap semangat. Apalagi bicara pembangunan Kepri, ia sangat semangat. Bicaranya terstruktur alias tertata rapi. Ia paham betul Kepri secara detail bahkan hingga pulau-pulau kecil.

Sani juga bicara soal ia dijauhi oleh orang-orang dekatnya, menyeberang mendukung lawan politiknya yang Sani anggap bukan rival. “Dia (Soerya, red) adinda saya, saya senang dia maju, saya menghormati keputusannya,” kata Sani saat itu.

Sani bahkan saat itu tidak mempermasalahkan sejumlah kepala dinas, dan pejabat lainnya menjauhinya. Sani malah berbaik sangka. “Mungkin tak ikut saya karena masih ada kesibukan di luar sana,” ujar Sani.

“Kalau saya menang lagi, mereka pasti mendekat lagi. Dan saya akan membuka tangan untuk mereka,” ujar Sani.

Tak terpancar raut wajah kesal, apalagi marah. “Ya, begitulah filosofi ‘untung sabut’,” ujarnya.

Sani kemudian bicara banyak soal persiapan dia maju, termasuk soal dana. “Modal awal saya pakai dana pesiun, mirip saat sebelumnya, ini pertanda baik,” katanya lagi, sambil tertawa…

Pilkada serentak pun digelar 9 Desember 2016. Hasil hitung cepat menempatkan Sani-Nurdin sebagai pemenang. Begitupun saat pleno di KPU, Sani menang telak.

Singkatnya, 12 Februari 2016 lalu, Sani-Nurdin resmi dilantik jadi Gubernur Kepri.

Saat itu juga, Sani kembali meneruskan apa yang telah ia kerjakan di periode pertama. Semangatnya bekerja mengalahkan usia dan kondisi fisiknya. Ia terus bekerja, meski tubuh tak lagi muda.

Ya, Jumat (8/4/2016), kabar duka itu datang. Sani berpulang untuk selamanya, pukul 15.15 di Rumah Sakit Abdi Waluyo, Menteng, Jakarta.

Guna memastikan kabar itu, koran batampos (grup batampos.co.id) mengkonfirmasi ke Ajudan Sani, Afrian Ginanjar.

Di ujung telepon, suara parau itu terdengar. “Bapak (Gubernur Kepri,red) sudah meninggal bang,” ujar Afrian tersedu-sedu. Ia tak kuasa melanjutkan kalimatnya. Namun empat patah kata itu cukup untuk menguangtkan kalau orang nomor satu Kepri tersebut sudah menghadap Allah SWT.

Berita duka bagi Provinsi Kepri tersebut, lantas menyebar di sosial media. Baik itu facebook, twitter, whatsapp, maupun broadcast melalui Blackberry Messenger (BBM).
Wafatnya Gubernur yang baru dilantik pada 12 Februari lalu itu, menjadi duka mendalam bagi Pemerintah Provinsi Kepri maupun masyarakat Provinsi Kepri. Meninggalnya Gubernur Kepri juga disampiakan lewat pengeras suara yang ada di masjid-masjid di Ibu Kota Provinsi Kepri, Tanjungpinang.
MenurunĀ  Ginanjar, kondisi kesehatan Gubernur Kepri itu memang sudah santer menurun sejak Rabu, 30 Maret lalu. Pada hari itu, Gubernur dijadwalkan memimpin rombongan melakukan kunjungan kerja ke Lingga dan Pulau Berhala. Akan tetapi kegiatan tersebut diambil alih oleh Wakil Gubernur Kepri, Nurdin Basirun.
Belakangan dikabarkan kalau Gubernur Sani sedang menjalani chek up di Singapura dan konsultasi kesehatan dengan Dokter pribadinya.
Kemudian pada Rabu (6/42016) Gubernur bersama keluarga kembali ke Kota Batam. Melihat kondisi kesehatan membaik, karena tugas, Gubernur kemudian memutuskan memenuhi undangan Presiden untuk rapat bersama dengan Bupati/Walikota dan Gubernur terpilih. Kerangka mensinergikan pembangunan nasional. Dalam tugas tersebut, Gubernur juga didampingi Wakil Gubernur Kepri, Nurdin Basirun.
Namun Allah berkata lain, Gubernur KepriĀ  pada Kamis (8/4/2016) sekitar pukul 09.00 WIB, kesehatannya kembali terganggu. Akhirnya dia dilarikan ke RS Abi Waluyo, Jakarta.
Gubernur juga dikabarkan sempat koma, sebelum diputuskan meninggal oleh Dokter RS Abi Waluyo sekitar pukul 15.15 WIB.
Mantan Bupati Karimun tersebut berpulang pada usia 74 tahun (11 Mei mendatang), dengan meninggalkan satu orang istri, dan tiga orang anak. Mereka adalah Aisyah Sani (istri), Hery Andrianto, Henny Andriani, dan Rini Fitrianti (anak).
Sebelumnya, anak ketiga dari 12 bersaudara dari pasangan H. Subakir (almarhum) dan H. Tumirah tersebut pernah menjalani operasi tulang di Jerman pada Desember 2012 lalu.
Sejak saat itu, kesehatannya mulai membaik, namun tidak stabil. Namun demikian, Gubernur Sani tetapi bekerja dan bekerja dalam melakukan pembangunan di Provinsi Kepri. Paska operasi tulang tersebut, Gubernur Sani sering melakukan chek up di Singapura untuk mengontrol kesehatan.
Sani lahir di Parit Mangkil, Sungai Ungar, Kundur, Karimun, Kepulauan Riau, pada 11 Mei 1942. Ia tercatat sebagai Gubernur Kepri periode 2010-2015 dan 2016-2021. Sani terpilih sebagai gubernur menggantikan Ismeth Abdullah pada 2010 didampingi Soerya Respationo. Pada priode ke II Sani terpilih memimpin Kepri bersama dengan Nurdin Basirun.
Pada peringatan hari perkahwinan ke-46 tahun, apa yang menjadi harapannya sejauh ini selalu diberikan rahmat oleh Allah SWT. Atas nikmat dan rahmat yang telah diberikan ini, ia terus bertekad untuk mengabdikan hidupnya kepada masyarakat Provinsi Kepri khususnya, dan bangsa ini pada umumnya.
“Karena hidup saya adalah bekerja. Hidup saya adalah pengabdian, dan itu sudah saya lakukan selama 49 tahun atau 3/4 dari umur saya adalah untuk mengabdi,” ucap Sani pada waktu itu.
***
Berpulangnya Gubernur Kepri meninggalkan kesedihan yang mendapat dimata para sahabat dan orang-orang yang mengenalnya.
Dimata Ketua Lembaga Adat Melayu (LAM) Provinsi Kepri yang merupakan rekan bermain Gubernur sejak masih bujang mengatakan, kalau dirinya tidak percaya kalau sahabatnya itu telah pergi untuk selama-lamanya.
“Ini merupakan kehilangan besar bagi Provinsi Kepri. Pak Sani adalaha sahabat bagi saya, karena kita berteman sejak masih bujang,” ungkap Abdul Razak.
Apa yang ia ketahui tentang kepribadian Gubernur adalah sosok yang pemaaf. Apa yang diajarkan dan selalu diingat olehnya adalah tentang biarlah orang lepar batu, tetapi dibalas dengan pisang. Artinya, biarkan orang yang berbuat jahat, tetapi dibalas dengan kebaikan.
“Mari sama-sama kita mendoakan, semoga alrmahum diberikan syurganya Allah atas kebaikan-kebaikannya yang diberikannya untuk pembangunan Kepri,” ucap Abdul Razak.
Sedangkan dimata tokoh Tionghoa Provinsi Kepri, Rudi Chua yang juga merupakan Anggota DPRD Kepri menilai, Gubernur Sani adalah figur yang selalu mengayomi kepada yang muda maupun tua. Bahkan tidak pernah membeda-bedakan. Dalam aktivitas di Kantor DPRD Kepri, Gubernur selalu bijak dalam menanggapi dan menyelesaikan persoalan.
“Bukan saya saja yang merasa kehilangan. Saya yakin masyarakat Provinsi Kepri merasa sangat kehilangan tentunya,” ujar politisi Partai Hanura tersebut.
Menurut Rudi, sepulang dari Singapura beberapa waktu lalu lewat keluarganya ia sudah meminta untuk tidak memaksanakan diri dalam bertugas. Karena kondisi kesehatan perlu dijaga. Akan tetapi, karena tugas ia tetap memenuhi undangan Presiden di Jakarta.
Tekad tersebut menunjukan kalau Gubernur selalu fokus dalam bekerja dan mengisi pembangunan di Provinsi Kepri. Diungkapkan Rudi, pada peryaan imlek beberapa waktu lalu, dirinya sudah meminta Gubernur untuk tidak mencalonkan diri. Karena melihat kondisi fisiknya. Apa yang dijawab Gubernur, kata Rudi, adalah niatnya untuk membangunan Provinsi Kepri.
“Saya sampai kapapun akan membangun untuk daerah ini. Itulah kata-kata Pak Gubernur sebelum Pilkada lalu,” kenang Rudi.
Sementara itu, Tokoh Pemuda dari Indonesia Timur, Aziz Kasim Djou tersebut mengungkapkan merupakan pemimpin yang pluralisme dan punya wawasan nasionalisme yang kuat. Meskipun dirinya bukan anak daerah Kepri, tetapi tetap diberi kepercayaan untuk bertugas di Provinsi Kepri.
“Selama saya jadi pejabat di Pemprov Kepri tidak pernah dengar keluarganya meminta proyek atau apapun. Saya melihat dia tulus dalam mengabdi. Kita bisa lihat, kehidupannya juga sederha,” ujar Aziz.
Menurut Aziz, almarhum Gubernur Kepri adalah merupakan orang yang langka. Bahkan tidak memasukan kepentingan keluarga dalam pekerjaannya. Diungkapkan Aziz, sejumlah pejabat yang hadir dalam rapat di Dishub Kepri, mendengar kabar tersebut, semuanya langsung berkaca-kaca.
Rasa kehilangan juga disampaikan masyarakat Tanjungpinang lewat laman facebook. Seperti disebutkan Yuliana, meskipun singkat tugasnya pada Priode ke II ini, yakni belum cukup dua bulan sejak dilantik Presiden pada 12 Februari lalu. Akan tetapi telah berupaya untuk berbuat dan memberikan yang terbaik.
“Pak Gubernur Kepri betul-betul berjuang untuk Kepri sampai akhir hayatnya. Ini menjadi tugas berat bagi Wakil Gubernur untuk melanjutkan amanahnya untuk pembangunan Provinsi Kepri,” tulis warga Tanjungpinang, Yuliana dalam account facebooknya.
Atas jasa dan pengorbannya untuk pembangunan Provinsi Kepri, jenazah lamarhum dimakamkan di TMP KM 5 Tanjungpinang siang, Sabtu (9/4) usai salat zuhur.
Selama hampir 49 tahun mengabdi, Gubernur sudah meraih penghargaan Bintang Maha Putra Utama dari Presiden Susislo Bambang Yudhoyono (SBY).
Selama lima tahun lalu menjadi Gubernur, juga berhasil mengantarkan Kepri Kepri berturut-turut meraih predikat Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) dari Badan Pemeriksa Keuangan.
Selain itu, Sani juga turut terlibat langsung mengantarkan Kepri menjadi Provinsi Kepri meskipun sampai mempertaruhkan jabatannya sebagai Plt Bupati Karimun. (nur/jaylani)

Respon Anda?

komentar