Di Ibukota Lingga, Dua Sekolah masih Harus Berbagi Ruang Kelas

1122
Pesona Indonesia
 SDN 01 Lingga yang kekurangan ruang belajar. Sekolah tertua dan berada di pusat ibukota. foto:hasbi/batampos
SDN 01 Lingga yang kekurangan ruang belajar. Sekolah tertua dan berada di pusat ibukota. foto:hasbi/batampos

batampos.co.id – Kondisi pendidikan di kabupaten Lingga masih memperihatinkan. Sarana dan prasarana, penunjang pendidikan generasi penerus bangsa inipun belum memadai. Tidak hanya dipulau-pulau kecil dan pesisir yang sulit tersentuh, bahkan sekolah di pusat ibukota Daik, Kabupaten Lingga pun masih kekurangan ruang kelas.

Pantauan di lapangan, dua sekolah dasar negeri (SDN) yakni SDN 01 Lingga dan SDN 011 Lingga, ialah sekolah negeri tepat di tengah-tengah ibukota. Para siswa harus berbagi ruang belajar. Guru terpaksa menyusun jadwal untuk masuk lebih siang karena ruang kelas yang tidak cukup.

SDN 01 terletak di Kampung Siak, Jalan Merdeka, yang juga merupakan situs sejarah sekolah tertua di Kepri. Sekolah ini dibangun sekitar tahun 1800-an. Bangunan sekolah hanya memiliki 6 ruang kelas yang 1 ruangnya digunakan sebagai majelis guru. Sementara ruang kelas yang dibutuhkan untuk menampung siswa yang berjumlah 200 orang, paling tidak 9 ruang kelas.

Udin, salah seorang Guru SDN 01 mengatakan, bangunan sekolah tidak mungkin bisa direhab. Sebab merupakan situs. Namun, perlu ada solusi, sebab kekurangan ruang kelas menjadi kendala belajar mengajar. Untuk mencukupi ruang kelas, satu buah gudang pun terpaksa digunakan.

“Bangunan SDN 01 ini hanya punya 6 ruang. Satu ruang sudah untuk majelis guru. Tinggal 5 ruang lagi untuk belajar. Sementara kelas I ada dua lokal. Kelas II juga dua lokal, begitu juga kelas III yang tiga lokal. Kita kurang 4 lokal lagi. Satu gudang pun terpaksa dipakai untuk ruang belajar,” ungkapnya.

Untuk mengatur hal tersebut, sekolah terpaksa membuat jam masuk siang bagi sebagian murid. Sebab, ruang belajar harus digunakan bergantian. “Sebagian kelas, terpaksa jadwal masuk siang,” sambungnya.

Sementara itu, di SDN 011 Lingga di Kampung Tanda Hilir, Kelurahan Daik, juga bernasib sama. Masalah klasik kekurangan ruang kelas, menjadi kendala belajar mengajar siswa di Bunda Tanah Melayu (BTM) tersebut.

“Di sini, juga kita kurang ruang kelas. Sebagian siswa juga masuk siang,” ungkap salah seorang guru lainnya yang tak mau namanya dikorankan.

Padahal, baik SDN 01 maupun 011 masih memiliki tanah kosong di sebelah bangunan. Di SD 01, tanah merupakan aset Pemda. Meski merupakan situs dan tidak dapat dirubah bentuk, solusinya adalah penambahan ruang kelas di tanah kosong yang tersedia. Sementara SDN 011, yang memiliki perkarangan yang sempit itu, juga bisa dilakukan rehab, seperti membuat sekolah berlantai dua. Sayangnya, permasalahan ini tidak pernah dilihat dan selesaikan secara serius oleh pemerintah daerah.

Beberapa waktu yang lalu, Kamarudin Ali ketua I DPRD Lingga yang telah tiga periode berturut-turut duduk di kursi DPRD sejak Kabupaten Lingga dibentuk mengatakan, di Lingga belum bisa dan mampu bicara soal mutu pendidikan. Sarana dan prasarana penunjang pendidikan pun dikatakannya, masih jauh dari layak. Kondisi ini jelas terlihat di sekolah-sekolah yang terdapat di pusat ibukota dan hanya 2 kilometer dari pusat pemerintahan. (mhb/bpos)

Respon Anda?

komentar