19 Jiwa Hidup Dalam Rumah Tipe 35

2743
Pesona Indonesia
ilustrasi
ilustrasi

batampos.co.id – Standari rumah berukuran 35 meter persegi itu dihuni berapa jiwa ya? Kayaknya perlu riset ya…

Coba kasus ini, rumah seuprit itu dihuni 19 orang, bagaimana Anda membayangkan?!

Sumpek!

Itulah yang dialami Karin, 26. Ia dinikahi pria sebut Donlesi, 29. Kemudia diajak tinggal di rumah yang ramai itu.

“Keluarga suami itu baik-baik banget, Pak. Tapi, ya itu saya tidak betah di rumah mertua,” kata Karin disela-sela gugatan cerainya di Pengadilan Agama (PA), Klas 1A Surabaya, Jumat (8/4).

Keputusan Karin untuk menggugat cerai Donlesi tampaknya sudah bulat. Kayak telur mata sapi, harus utuh. Tak mau kayak telur dadar yang masih bisa diaduk-aduk dan ditambahi bumbu.

Sebelum mengajukan gugatan itu, keluarga Donlesi, dari orang tua, kakak, dan kakak iparnya hingga keponakannya, datang ke rumah Karin untuk memintanya kembali ke rumah.

Sayangnya, Karin tak mau kembali. Karin mau kembali ke pelukan Donlesi, asal sang suami mau diajak ngekos di sekitar rumah mertuanya di kawasan Kedinding.

“Tiap hari saya bertengkar dengan suami soal pindah kos, tapi suami mbelani tinggal di rumah mertua,” kata Karin, kesal. Saking kesalnya, kedua ujung alisnya sampai bertautan.

Selain ingin hidup berdua saja dengan suami, Karin menilai kehidupan di rumah mertuanya sudah tidak sehat. Di rumah yang berukuran 5 x 7 m tersebut, terdapat 19 nyawa yang kesemuanya hidup. Semua itu keluarganya Donlesi.

Mulai dari kedua orang tua Donlesi, keempat kakak kandung Donlesi beserta pasanganya masing-­masing. Satu adek Donlesi, Donlesi serta Karin. Juga ada enam orang sekaligus yang statusnya keponakan Donlesi.

Enam orang itu yang merupakan anak dari kakak­kakaknya.

Bisa dibayangkan betapa sumpeknya rumah amat sangat sederhana sekali itu. Sungguh ironis. Satu kamar yang ukurannya hanya 3 x 3 m, bisa ditempati enam orang.

Sisanya tidur di lantai dua dengan kondisi yang sangat pengab dan penuh. Saking sempitnya, kalau tidur sudah tidak bisa bergerak ke kanan atau kiri. Dari mulai mata terpejam hingga bangun di pagi hari, harus tidur tegap grak.

“Keluarga saya juga ndak kaya­-kaya banget. Tapi, kalau satu rumah sudah sebanyak itu orangnya, saya menganggap itu sudah tidak wajar. Tidak sehat. Sumpek,” tegas dia.

Apalagi, Karin yang berprofesi sebagai guru, dituntut dengan pekerjaan yang cukup berat. Berangkat pagi dan pulang malam.

“Saya capek kerja. Terus datang­ datang tidak bisa tidur. Keponakan main ke kamar. Mau diusir, juga ndak enak. Mereka masih kecil,” kata Karin dengan nada sesak.

Bagi Karin, berpisah dengan keluarga mertua cukup berat. Keluarga mertuanya sangat akur dan tidak pernah ada cekcok. Semua keluarganya saling berbagi. “Saya tidak pernah dimintai uang, makan ditanggung kakak. Mereka baik banget,” jelas dia.

Meski demikian, lanjut Karin, bukan berarti yang namanya keluarga itu harus kumpul sakbrek satu rumah. “Saya dari awal menikah ingin ngekos, tapi suami tidak mau. Suami marah terus,” jelas dia.

Namun, ketika marah, mertuanya justru yang membelanya. Bahkan, ketika Karin ingin ngekos, kedua mertua dan kakaknya memberikan keputusan kepada Karin dan Donlesi.

“Hanya suami yang keukeh ndak mau. Ya sudah, saya tidak mau pusing lagi mikir pilihan suami,” pungkas dia. (umi hany/opi)

Respon Anda?

komentar