Abu Sayyaf Suka Menculik lalu Minta Tebusan

1768
Pesona Indonesia

syayafbatampos.co.id – Abu Sayyaf dikenal sebagai kelompok ekstrimis yang menyebalkan. Doyan banget menculik lalu minta uang tebusan.

’’Ini kelompok ekstremis muslim yang paling mengerikan di Filipina,’’ kata Profesor Rommel Banlaoi, pakar keamanan internasional. Menurut Australian National Security (ANS), saat ini ada sekitar 400 orang yang tergabung sebagai militan Abu Sayyaf di Filipina. Karena banyaknya teror di dalam dan luar negeri, menurut ANS, jumlah itu naik turun.

Sejauh ini, anggota Abu Sayyaf di Filipina didominasi pemuda dari Pulau Sulu dan kawasan Mindanao. Rata-rata mereka mendapat pelatihan terorisme dan dana dari Al Qaeda. Konon, kelompok Jamaah Islamiyah di Indonesia juga ikut mendanai aksi Abu Sayyaf.

Kelompok yang bersarang di kawasan barat Mindanao itu biasanya beraksi di Provinsi Basilan, Sulu, dan Tawi-Tawi.

’’Abu Sayyaf merupakan kelompok bersenjata pertama yang dilarang pemerintah Filipina pada 2015,’’ terang CNN dalam edisinya Jumat (8/4). Namun, sejak Oktober 2001, Dewan Keamanan (DK) PBB menyamakannya dengan Al Qaeda.

Sebelum pemerintah Filipina mendeklarasikan Abu Sayyaf sebagai organisasi terlarang, Australia dan Amerika Serikat (AS) lebih dulu melakukannya. AS, bahkan, sudah menyatakan Abu Sayyaf sebagai teroris pada 1997. Pada 2002, giliran Australia yang menyatakan Abu Sayyaf sebagai organisasi terlarang.

Belakangan, beredar video yang merekam ikrar setia anggota Abu Sayyaf terhadap kelompok teroris Negara Islam alias IS alias ISIS yang bersarang di perbatasan Iraq dan Syria. Dalam video yang disebarluaskan pada 2014 itu, terlihat sejumlah pria yang menyatakan kesetiaan mereka kepada ISIS. Sampai sekarang, ISIS masih menjadi kelompok teroris paling keji.

Abu Sayyaf yang dalam bahasa Arab berarti Bapak Pejuang Berpedang dibentuk pada awal 1990-an. Saat itu Abdurajak Janjalani menjadi pemimpinnya. Pria asli Basilan itu belajar ilmu teror langsung dari Osama bin Laden di kawasan Timur Tengah. Namun, dia lantas meninggalkan Abu Sayyaf dan membentuk militan baru, Moro National Liberation Front (MNLF).

’’Kelompok ini dibentuk pada 1993 dengan nama Al-Harakat Al Islamiyyah,’’ terang Banlaoi dalam bukunya, Al-Harakat Al Islamiyyah: Essays on the Abu Sayyaf Group.

Arti nama awal Abu Sayyaf itu adalah gerakan Islam. Namun, Janjalani lantas mengubah namanya menjadi Abu Sayyaf sebagai bentuk penghormatan kepada Abdul Rasul Sayyaf, militan di Afghanistan.

Sebelum 1998, kiprah Abu Sayyaf di bawah komando Janjalani tidaklah terlalu ekstrem. Setidaknya, demikianlah analisis Banlaoi. Namun, setelah Janjalani tewas dalam baku tembak di Basilan pada 1998, Abu Sayyaf menjadi lebih agresif. Kelompok tersebut melancarkan penculikan masal terhadap guru dan siswa di kawasan Tumahubong, pelosok Basilan.

Setelah itu, Abu Sayyaf terbelah menjadi dua kelompok. Kelompok pertama dipimpin adik mendiang Janjalani yang bernama Khadafi Abubakar Janjalani. Kelompok lain dipimpin Galib Andang yang dikenal sebagai salah seorang komandan Abu Sayyaf. Sepak terjang dua kelompok itu justru membuat Abu Sayyaf makin ditakuti.

Abubakar Janjalani lantas tewas dalam bentrokan dengan Angkatan Darat Filipina pada September 2006, sedangkan Andang ditangkap pada 2003 dan kemudian dipenjarakan. Namun, dia lantas dibunuh aparat pada 2005 saat berusaha kabur dari penjara. Setelah 2006, kepemimpinan Abu Sayyaf tidak jelas.

Meski tanpa seorang atau dua pemimpin yang jelas, Abu Sayyaf tetap melanjutkan terornya. Beberapa pengamat keamanan dan pakar teror internasional menyatakan bahwa Abu Sayyaf terpecah menjadi kelompok-kelompok yang lebih kecil. Juga, banyak pemimpin dengan metode kepemimpinan dan gaya teror masing-masing.

Kini Abu Sayyaf menjadi tenar karena penculikan dengan tebusan yang mereka lancarkan sejak 2006. Tidak ada lagi penembakan atau ledakan bom oleh teroris Filipina tersebut.

’’Ideologi jihad kelompok ini bahkan tidak lagi terdeteksi. Tapi, kini mereka dikenal sebagai teroris yang gemar menculik dan minta tebusan,’’ terang Banlaoi.

Dalam sebagian besar aksi mereka, Abu Sayyaf selalu membebaskan sandera setelah mendapat uang tebusan yang diinginkan.

’’Uang itu kami gunakan untuk membeli senjata dan sebagian lagi kami bagikan kepada para mujahidin,’’ tulis Abubakar Janjalani di akun Abu Sayyaf sebelum ajal menjemputnya.

Abubakar Janjalani menegaskan, Abu Sayyaf tidak pernah menggunakan uang tebusan untuk kepenting pribadi masing-masing. Terutama kepentingan pribadi sang pemimpin. Sebagai teroris penculik, Abu Sayyaf juga dikenal anarkistis. Kelompok tersebut cenderung tidak mau bernegosiasi dan memilih senjata sebagai bahasa untuk berunding.

Karena itu, upaya pemerintah Filipina untuk merangkul Abu Sayyaf dan berdamai dengan mereka selalu gagal. Pada Juli 2014, Abu Sayyaf membunuh sedikitnya 21 penduduk muslim yang merayakan Idul Fitri di Jolo. Alasannya, mereka mendukung dialog damai yang digagas pemerintah Filipina untuk menghentikan teror Abu Sayyaf. (CNN/hep/c5/kim) 

Respon Anda?

komentar