Permudah Investasi, Indonesia Belajar dari Georgia

1502
Pesona Indonesia
Wali Kota Batam Rudi sidak ke BP-PTSP di Sumatera Promotion Centre, saat masih menjabat sebagai Wawako. Foto cecep mulyana/batampos
Wali Kota Batam Rudi sidak ke BP-PTSP di Sumatera Promotion Centre, saat masih menjabat sebagai Wawako. Foto cecep mulyana/batampos

batampos.co.id – Target Presiden Joko Widodo (Jokowi) untuk memperbaiki peringkat kemudahan investasi (ease of doing business) dari saat ini di peringkat 109 menjadi peringkat 40, adalah target super berat. Namun, bukan berarti tak bisa dicapai.

Deputi Kepala Staf Presiden (KSP) bidang Ekonomi Denni Purbasari mengatakan, mencapai lonjakan peringkat hingga 60 peringkat dalam ease of doing business  sudah pernah dicapai oleh Georgia.

“Jadi, sekarang kita belajar dari Georgia,” ujarnya, Sabtu (9/4/2016).

Negara pecahan Uni Soviet itu memang pernah mencatat sensasi dan menjadi perhatian dunia, ketika pada 2007 lalu berhasil mencapai peringkat 37 dalam laporan ease of doing business yang dikeluarkan Bank Dunia. Padahal, pada 2006 masih tercecer di posisi 100. Bahkan, pada 2014 sudah melejit lagi ke peringkat 8.

Menurut Denni, keberhasilan Georgia mencatat peningkatan signifikan dilakukan melalui debirokratisasi, deregulasi, serta pemberlakukan layanan perizinan berbasis online. Langkah-langkah tersebut dilakukan secara masif, sehingga membuat kemudahan investasi sangat dirasakan para investor.

“Langkah-langkah itu sudah dimulai pemerintah, tapi harus didorong agar lebih masif,” katanya.

Namun, harus diakui jika luas wilayah dan jumlah penduduk Indonesia yang mencapai 250 juta, membuat upaya debirokratisasi dan deregulasi berlipat sulitnya dibanding Georgia yang hanya berpenduduk 5 juta jiwa.

“Apalagi, banyak peraturan yang terkait pemerintah daerah,” ucap Denni.

Sebenarnya, kata Denni, jika pemerintah hanya mengejar kenaikan peringkat ease of doing business, maka upaya perbaikan layanan dan infrastruktur hanya akan dilakukan di Jakarta dan Surabaya. Sebab, di dua kota besar itulah Bank Dunia melaukan survei ease of doing business.

“Tapi, kita ingin agar perbaikan dilakukan di seluruh wilayah Indonesia,” ujarnya.

Sementara itu, Sekretaris Kabinet Pramono Anung mengatakan jika target peringkat 40 memang terlihat jauh meningkat. Tapi, jika melihat posisi negara tetangga seperti Singapura yang ada di peringkat 1 serta  Malaysia di peringkat 18, maka peringkat 40 sebenarnya masih belum cukup.

“Sebab, sekarang era kompetisi, jadi kita harus mengejar negara tetangga,” katanya. (owi/jpg)

Respon Anda?

komentar