Pesan Terakhir Sani yang Menggetarkan Hati

1854
Pesona Indonesia
HM sani saat masih hidup. Foto: cecep mulyana/batampos
HM sani saat masih hidup. Foto: cecep mulyana/batampos

batampos.co.id -Beberapa bulan terakhir, Batam dikejutkan dengan kebijakan pemerintah pusat yang mengambil alih peran Dewan Kawasan (DK) FTZ Batam, Bintan, dan Karimun (BBK) dari Gubernur Kepri HM Sani.

Bahkan, keluar kebijakan baru (Keppres nomor 8 tahun 2016) yang menyebutkan DK langsung dibawa kendali pemerintah pusat. Belakangan, dari struktur DK, nama Sani tetap tercatat, namun sebagai anggota kedua dari belakang.

Pucuk pimpinan DK langsung dipegang oleh Menko Perekonomian Darmin Nasution, dengan anggota para menteri terkait.

Kebijakan tersebut tak dipersoalkan Sani. Ia manut dengan kebijakan pemerintah pusat. Meski banyak kalangan memberikan masukan, bahkan DK yang langsung dibawa kendali pusat mengurangi peran Gubernur di daerah.

“Saya ikhlas tidak jadi ketua DK lagi,” kata Sani.

Saat status perdagangan dan pelabuhan bebas (free trade zone/FTZ) Batam diputuskan akan diubah menjadi Kawasan Ekonomi Khusus (KEK), masukan bertubi-tubi kembali datang ke Sani. Apalagi pengusaha banyak yang resah karena keistimewaan Batam bakal hilang dalam lima tahun ke depan.

Lagi-lagi Sani tak protes dengan kebijakan itu. Ia berfikir positif saja, bahwa pemeritah pusat pasti memiliki rencana terbaik untuk Batam.

Namun, gencarnya masukan dari berbagai kalangan membuat Sani harus mengingatkan pemerintah pusat terhadap kebijakan yang mereka ambil untuk Batam.

Saat Sosialisasi Pengembangan Pulau Batam 14 Maret 2016 lalu di Swiss Belhotel, Harbour Bay, yang dihadiri Ketua DK Nasution, Menteri Perdagangan Thomas Lembong, Menteri Dalam Negeri Tjahjo Kumolo, Menteri Menteri ATR/BPN Ferry Mursyidan Baldan, Kapolri Jenderal Badrodin Haiti, dan sejumlah menteri dan pejabat tinggi lainnya, Sani juga masih tampak tenang.

Sani bahkan memberikan kesempatan pada para petinggi negara tersebut berbicara soal bagaimana mengembangkan Batam ke depan. Sani hanya meyimak apa yang disampaikan para petinggi negara itu.

Saat sesi terakhir, Sani diberi waktu untuk bicara. Nah, saat itulah Sani bicara lantang soal rencana pemerintah pusat untuk Batam.

Kalimat Sani, singkat, padat, namun penuh makna. Sekaligus bukti kecintaan dia terhadap masyarakat Kepri.

“Terserah Batam ini mau dibuat apa. Silakan. Tapi ingat, jangan buat rakyat saya sengsara,” tegas Sani.

Kalimat ini mengundang tepuk tangan dari peserta sosialisasi yang mayoritas pegawai BP Batam dan Pemko Batam serta pengusaha, dan legislator dari berbagai daerah di Kepri.

Pesan Sani ini juga membuat para petinggi negara tampak diam.

Itulah pesan terakhir Sani yang tegas dan mendalam buat para petinggi negara dan masyarakat Kepri, khususnya Batam. Kalimat itu Sani ucapkan dengan penuh penekanan.

Setelah itu, tak terdengar lagi pesan yang lebih tegas dari itu soal rencana-rencana pusat untuk Batam. Termasuk saat DK melakukan pergantian pimpinan BP Batam.

Dan, 25 hari setelah ia melontarkan pesan terakhirnya itu, Sani pun menghembuskan nafasnya yang terakhir, 8 April 2016 di Rumah Sakit Abdi Waluyo, Jakarta.

Semoga pesan terakhir Sani yang menggetarkan jiwa itu, menjadi bekal pemerintah pusat dalam mengambil kebijakan buat Batam. (nur)

Respon Anda?

komentar