Rindu yang Tak Sudah buat Ayah

1743
Pesona Indonesia

“Duka itu pisau
Pisau itu sepi
Menikam berulang kali”

Saya hanya mendengar saja apa yang diucapkan Mahmud, suaranya lirih hampir tak berirama, datar. Selalu saja ketika kabar duka datang kita kehilangan kalimat pelipur lara kecuali berserah kepadaNya, mengembalikan kepadaNya. Pandangan sayapun nanar. Kosong. Terngiang irama lagu “Titip Rindu Buat Ayah” dari Ebiet G Ade melintas-lintas. “Ayah sudah kembali”, ucap Mahmud lagi. Saya menganggukkan kepala. Saya lihat ada genangan di kelopak mata kawan saya itu.

Kemarin memang hari duka bagi Kepulauan Riau, negeri timang-timangan kita ini kehilangan putera terbaiknya, Gubernur orang nomor satu di Kepulauan Riau ini telah kembali keharibaannya. Semuanya hampa, lengang, diantara hujan yang seperti enggan berhenti, ikut berduka mengantar almarhum ke persada bumi pertiwi, tembakan salvo, genderang dan alunan terompet  serta satu-satu irama langkah bagai irama terakhir perjalanan di dunia fana ini.

Tidak hanya Mahmud dan saya tapi ada ratusan ribu yang lainnya merasakan hal sama, kehilangan. “Dia itu seniman Tok, dia lebih banyak inovasinya, dia tahu ngurus microphone, sound system, dia tahu mana yang nak ditempatkan dan mana yang harus dibuang dalam sebuah persembahan, dia pernah menangis di depan seniman kota ini karena tak habis-habisnya mereka bertelagah”, cerita Mahmud kepada saya tentang Ayah. Dia ingin seniman itu bersama-sama walaupun susah untuk bersatu.

“Telalu banyak cerita kenangan bersama Ayah dan karena terlalu banyaknya jadi susah untuk diceritakan”, ujar Mahmud perlahan. Meskipun hujan siang itu rasanya tak mau turun dengan perlahan, semuanya tumpah.

Suatu waktu dulu dia memanggil saya dan Mahmud, untuk membuat film yang alurnya bisa mengambil dari potongan-potongan cerita dari bukunya yang sangat terkenal dengan tajuk “Untung Sabut” itu. Saya dan Mahmud tak lengah dengan segera turun ke lapangan, melakukan survey, mencari data, menulis naskahnya. Cerita masa kanak yang membuatnya tangguh dan menjadi besar seperti sekarang ini. Paling tidak dua kali dia menonton hasil kerja kami sambil terus mengkoreksi pada bagian mana yang harus diperbaiki.

Film itu jadi, berurai air mata juga ia menyaksikannya, saya dan Mahmud bangga karena kami menganggap film itu menjadi karena si punya cerita menonton sangat menghayati tapi pada malam peluncuran buku “Untung Sabut” film itu tidak diputar. “Simpan aja file film itu Mud…”ucap Ayah. Saya ternganga. “Sudah lunaskan tagihannya?”, tanya Ayah. Saya hanya menjawab satu kata untuk dua kalimat yang diucapkan Ayah itu. “Ya”, jawab saya.

Film itu akhirnya jadi arsip karya kami. Mahmud malam itu nampak kecewa berat, karena dalam karya itu bukan karena tagihan biaya produksinya lunas tapi bagaimana karya itu bisa dinikmati banyak orang. Maka seniman itu puas. Kenapa film itu tidak boleh diputar? Itu menjadi rahasia Ayah sendiri hingga kini.

Ayah itu selalu merasa ia adalah seorang sutradara besar dalam sebuah pergelaran besar, ia mengambil peran untuk menyusun dan mengutak-atik materi yang akan dipersembahkan. “Selalunya acara pembukaan MTQ dia jagoannya”, kisah Mahmud kepada saya. “Dia yang merekam sendiri dan memilihkan apa-apa yang menjadi bahan suaranya, mana terbuat sama orang lain, itu pekerjaan seniman tapi dia lebih dari itu kalau kita protes didebatnya kita, tak sanggup melawannya”, masih Mahmud bercerita.

Ya, ya, ya…entah berapa kali MTQ selalu saja Ayah menjadi sutradara bayangan dan opera pembukaan acara itu dan sudah berapa kali dia mengajak Mahmud untuk mengisinya walaupun hanya sepenggal kalimat, yang penting Mahmud terlibat, sekedar basa-basi ikut serta atau menutup mulut Mahmud yang panjang berjela-jela kalau tak diajak bersama.

“Jangan sikit-sikit merajuk Mud..”, pekik Ayah. “Seniman harus tahan segala cuaca dan segala suasana”, tambahnya lagi dan dia perihatin melihat seniman-seniman kita yang tak berdaya. “Buatkan mereka kegiatan agar mereka bisa berkarya dan dari karya itu mereka berpenghasilan”, katanya. Dia tahu nasib seniman yang lemah lunglai ekonominya. Mereka tak punya apa-apa, tak punya rumah padahal usia mereka sudah tak lagi muda. “Kita carikan jalannya Mud..”. Saya mendengarnya bangga.

Tapi derai hujan, airmata dan suara genderang serta terompet yang bagai suara sangkakala, irama yang saya tak kenal dengan irama dan nadanya siang itu menenggelamkan mimpi-mimpi kami berdua, mimpi Mahmud dan saya. Mimpi saya dan Ayah atau Mahmud dan Ayah. Kami ingin di Dompak itu ada ada dataran luas semacam alun-alun yang terhampar, ada panggung terbuka di sebuah sudutnya dan ada gedung kecil untuk seniman berekspresi. Ayah tau di kota ini tak ada dataran luas lagi, Ayah tau di kota ini seniman susah mendapat lamat tempat berekpresi.

Sampai ketika bendera merah putih itu dilipat dan diserahkan ke Ibu, kekasih sahabat Ayah selama hidupnya hujan terasa mulai mereda tapi tembakan salvo itu agak susah untuk dilupakan letupannya. Ia suatu waktu selalu saja dapat meletupkan tangis dari hati yang paling kanan ini. Mengenang Ayah dengan kejenakaanya. “Aku belum tua”, katanya. Dan saya dan Mahmud ingin memberi kado 70 tahun usia ayah, maka kami inta seorang penyair handal Hasan Aspahani namanya, menulis puisi untuknya dan ia bacakan ketika acara Temu Sastrawan Indonesia.

Aku Belum Tua
Sajak Hasan Aspahani

JIKA nanti 70 tahun umurku, aku belum tua.

Itu artinya ada dua orang lelaki di dalam
tubuhku, yang masing-masing 35 tahun usianya.

Ya, aku belum tua. Rasanya baru saja, melihat
anak muda tamat SMP, tak bisa sekolah ke SMA,
lalu jadi pemanjat dan pemikul buah pinang.
Rasanya baru saja, nasib baik menjemput dan
tangan yang baik mengulurkan bantuan. Rasanya,
ya, baru saja. Aku merasa, aku belum lagi tua.

Ya, aku belum tua, aku mau menghaturkan bakti
pada guru-guru yang besar jasanya, yang mengajari
kaki-kaki ini berjalan dan berlari, mengajari
hati teguh dan kukuh menuju ke jalan terang ini,
ke bentang waktu kini, yang mengajari tangan
melipat amplop dinas dari kertas bekas di kantor kecamatan! Ya, aku merasa, aku belum lagi tua.

*

Jika nanti 80 tahun umurku, aku belum tua.

Itu artinya ada empat orang lelaki di dalam
tubuhku, yang masing-masing 20 tahun usianya.

Itu sebabnya, aku merasa, aku belum akan tua.

Empat orang lelaki muda, yang sudah ribuan kali
berenang menyeberangi sungai, menaklukkan teluk,
memanjat ratusan batang pinang, dan berlayar tanpa
tiket di kapal yang membawa ke kampus di seberang,
kucing-kucingan dengan petugas kelasi, seperti
hidup yang harus disiasati, tahu mana buritan
dan haluan, dan aku sudah tahu jawaban cerdik
atas setiap pertanyaan yang diajukan, “Kau mau
kemana? Kau akan sekuat dan sejauh apa berjalan?”

Dan aku melihat sabut kulit kelapa, hanyut dan
sampai juga akhirnya. Ini bukan kepasrahan, ini
adalah keselarasan, memahami arus sungai dan gerak
gelombang! Ah, akulah itu, empat orang muda, dengan
gairah nyala, dan aku merasa belum akan tua.

*

Jika nanti 90 tahun umurku, aku belum tua.
 

Itu artinya, ada sembilan anak usia 10 tahun,
di halaman sekolah kehidupan, riang bermain,
sepanjang hari, memutar gasing di bumi, dan
mengulur layang-layang ke langit yang tinggi.

Tapi kemarin semuanya terhenti, dan diharibaanya ia kini sendiri. Saya mengangkat tangan sebagai tanda penghormatan, saya tersenyum karena saya tahu Ayah biasa ditinggal sendirian, Ayah biasa dikhianati, Ayah biasa ditinggal pergi oleh banyak orang yang tak memiliki hati dan karena hati, ya karena hati Ayah jualan, berulang kali Ayah dapat menaklukan sepi itu menjadi gegap gempita dan Ayah adalah penanda tuan di negeri sendiri. Hanya kemana rindu ini akan singgah? Rindu yang tak sudah, terima kasih dan selamat jalan Ayah. (Terimakasih Hasan Aspahani atas puisinya)
 

 

Respon Anda?

komentar