Geliat Wisata Aceh di Bawah Syariat Islam

Menikmati Kopi Gayo hinggga Snorkeling di Rubiah

1611
Pesona Indonesia
Dua turis asing melintas di depan Tugu Nol Kilometer di Pulau Weh, Aceh. Foto : Yuliana Dewi
Dua turis asing melintas di depan Tugu Nol Kilometer di Pulau Weh, Aceh. Foto : Yuliana Dewi

Penerapan Syariat Islam di Nanggroe Aceh Darussalam bukan berarti Aceh tertutup bagi pendatang. Bahkan pelancong perempuan yang tidak berjilbab, muslimah atau non muslim tidak perlu juga mendadak berjilbab.

YULIANA DEWI, Aceh

23 Maret 2016 lalu, pukul 22.10 WIB pesawat yang saya tumpangi mendarat di Bandara Sultan Iskandar Muda. Ini bukan kali pertama saya menginjakan kaki di bandara ini. 12 tahun lalu, beberapa hari pasca-stunami 2004 saya pernah ke Aceh, tapi hanya sampai di bandara saja, mengantar bantuan untuk korban stunami yang disalurkan PMI Batam.

Padatnya pesawat yang masuk ke Aceh saat itu, setelah bongkar dan serah terima bantuan, pesawat harus terbang kembali agar pesawat lain bisa mendarat. Sehingga saya melihat kondisi Aceh yang rusak saat itu hanya bisa dari udara. Karena saat datang dan pergi pesawat sempat berkeliling untuk melihat Aceh dari udara.

Kondisi ini berbeda dengan kunjungan saya kali ini yang memang sengaja ingin melihat keindahan Aceh. Sekaligus ingin melihat kehidupan Aceh di bawah syariah Islam. Banyak informasi yang saya terima, Aceh tidak nyaman bagi wisatawan. Mulai dari diterapkannya jam malam dan wanita yang katanya harus berjilbab, bahkan yang non muslim disebut juga harus menutupi kepalanya.

Namun berbagai informasi tersebut terjawab seketika pesawat yang saya tumpangi mendarat di Aceh. Hal pertama yang menjadi perhatian saya adalah dua perempuan yang tidak menggunakan jilbab, bajunya ketat tanpa lengan. Ada juga pasangan bule yang berpakaian minim. Kalau di Batam wanita berpakaian seperti ini bukan hal aneh, tapi karena ini Aceh saya jadi penasaran, bagaimana reaksi orang-orang sekitar, terutama orang Aceh yang sedang ramai datang menjemput keluarganya.

Ternyata tidak seperti yang saya bayangkan. Tidak satupun pandangan aneh mengarah pada mereka. Bahkan tidak ada pandangan lelaki di bandara tersebut melotot melihat penampilan minim dua wanita ini. Kondisi ini mematahkan teori kalangan sekuler, semakin banyak wanita yang tertutup disuatu daerah, maka prianya semakin jelalatan saat melihat wanita yang terbuka.

Bahkan, ketika teman saya wanita asli Aceh, Inonk setelah menjemput saya di bandara dia tidak langsung mengajak ke rumahnya, tapi ngopi. Saya yang mengira memang ada jam malam, khawatir dengan ajakan tersebut, apalagi saat sampai di Zakir Kafe sudah diatas jam 10 malam isinya pria semua.

“Nggak usah khawatir, banyak sekali informasi yang tidak benar soal Aceh, jam malam itu masih wacana dan meskipun umumnya wanita Aceh berjilbab untuk pendatang tidak diharuskan berjilbab,” ujar Inonk.

Hampir pukul 00.00 WIB kami meninggalkan kafe dan suasana di jalanan Banda Aceh masih tetap ramai. Di Banda Aceh banyak kedai kopi, tidak hanya kalangan tua saja yang mendatangi kedai kopi ini, tapi juga remaja terutama mahasiswa yang memanfaatkan fasilitas wifi gratis. Untuk akses internet gratis, Aceh justru mengalahkan Batam dan Pekanbaru.

Oji Karyawan Kedai Kopi Solong Ulee Kareng, Banda Aceh sedang mempersiapkan kopi untuk tamu. Foto : Yuliana Dewi.
Oji Karyawan Kedai Kopi Solong Ulee Kareng, Banda Aceh sedang mempersiapkan kopi untuk tamu. Foto : Yuliana Dewi/batampos.co.id.

Menurut wanita dengan nama lengkap Inonk Rahmawati, setelah tsunami makin banyak kedai kopi bermunculan, terutama yang dilengkapi dengan wifi. Namun beberapa kedai kopi masih ada yang mempertahankan kondisi tradisional tanpa dilengkapi wifi. “Kedai kopi yang sudah ada sejak lama seperti Solong Ulee Kareng, salah satu yang mempertahankan tradisi kedai kopi tempat ngopi sambil ngobrol, bukan sambil internetan,” ungkap alumni Universitas Syah Kuala Banda Aceh ini.

Bagi pecinta kopi, saat berada di Banda Aceh sangat mudah menemukan kedai kopi. Mungkin tepat kalau Aceh disebut Negeri Seribu Kedai Kopi. Bahkan setiap kedai kopi yang saya temukan dalam keadaan ramai. Kopi Gayo yang sudah mendunipun tentunya mudah ditemukan di berbagai kedai kopi di Aceh. Tidak hanya kopi yang diolah dari jenis robusta saja, ada juga kopi arabica yang banyak diekspor ke mancanegara.

Menikmati sanger dengan roti selai srikaya. Foto : Yuliana Dewi.
Menikmati sanger dengan roti selai srikaya khas Aceh di Kedai Kopi 3 in 1. Foto : Yuliana Dewi/batampos.co.id.

Selama mengunjungi kedai kopi, saya tidak pernah mendengar orang memesan kopi susu, yang banyak dipesan adalah sanger. Sanger ini kopi susu dengan takaran susu yang lebih sedikit. Kalau di Aceh pesan kopi susu, akan mendapatkan kopi dengan rasa susu yang lebih kuat dari kopi. Selain sanger yang sering dipesan adalah kopi pancong. Pancong sebutan untuk kopi hitam yang tidak penuh tapi porsinya lebih dari setengah gelas.

Cara penyajian kopi disedu, disaring berulang-ulang, lalu dituangkan berpindah-pindah dari satu ceret ke ceret lain sebelum disajikan dalam gelas-gelas kaca yang bening. Selain penyajian kopi dengan cara manual, umumnya kedai kopi sudah dilengkapi mesin membuat espresso. Dan selama di Aceh, sayang rasanya jika tidak mencoba kopi di kedai kopi yang berbeda. Dan tentu saja sambil menikmati berbagai makanan tradisonal Aceh.

Mengenang peristiwa tsunami di Museum Tsunami Banda Aceh. Foto : Yuliana Dewi
Museum Tsunami yang terletak di tengah kota Banda Aceh ini dirancang oleh Ridwan Kamil. Foto : Yuliana Dewi

Selain menikmati kopi aceh, ada beberapa tempat yang sayang dilewatkan kalau berkunjung ke Aceh, seperti musium tsunami. Banyak wisatawan asing yang datang ke museum ini. Museum Tsunami Aceh berdiri megah dan menjadi kebanggaan rakyat Aceh. Museum yang dirancang oleh Ridwan Kamil yang kini menjadi walikota Bandung ini didirikan sebagai sebuah saksi terhadap musibah maha dahsyat yang terjadi di 26 Desember 2004.

Bagian dalam museum yang menjelaskan bagaimana kejadian saat tsunami terjadi. Foto : Yuliana Dewi/batampos.co.id
Bagian dalam museum tsunami. Foto : Yuliana Dewi/batampos.co.id

Mengenang peristiwa tsunami di Museum Tsunami Banda Aceh

Museum ini destinasi yang harus dikunjungi saat ke Banda Aceh selain Masjid Raya Aceh tentunya. Selain foto-foto dan benda-benda yang berkaitan dengan tsunami, museum ini juga memiliki ruang visualisasi tentang kejadian saat tsunami berlangsung.

Setiap orang punya kisah yang berbeda, tapi semuanya berhubungan dengan kesedihan.”Tiga bulan lebih jarang melihat orang-orang senyum, malah nyaris ngak ada,” ungkap Inonk yang selamat dari tsunami.

Setelah menguras emosi melihat sejarah tsunami Aceh, Masjid Raya Baiturrahman adalah tujuan yang pas, karena sudah masuk waktu salat zuhur. Masjid yang tetap berdiri kokoh saat diterjang tsunami ini, saat ini bagian luarnya sedang di renovasi.

Suasana di dalam masjid Baiturrahman. Foto : Yuliana Dewi
Suasana di dalam masjid Baiturrahman. Foto : Yuliana Dewi/batampos.co.id

Masjid ini pertama kali dibangun oleh Sultan Iskandar Muda Mahkota Alam pada tahun 1022 H/1612 M. Bangunan indah dan megah yang mirip dengan Taj Mahal di India ini terletak tepat di jantung Kota Banda Aceh dan menjadi titik pusat dari segala kegiatan di Aceh Darussalam.

Sewaktu Kerajaan Belanda menyerang Kesultanan Aceh pada agresi tentara Belanda kedua pada Bulan Shafar 1290 Hijriah/10 April 1873 Masehi, Masjid Raya Baiturrahman dibakar. Kemudian, pada tahun 1877 Belanda membangun kembali Masjid Raya Baiturrahman untuk menarik perhatian serta meredam kemarahan Bangsa Aceh.

Snorkeling di Pulau Rubiah

Menikmati keindahan bawah laut di Pulau Rubiah.
Menikmati keindahan bawah laut di Pulau Rubiah.

Untuk menuju Pulau Rubiah harus ke Pulau Weh dulu. Meskipun berstatus kota paling ujung barat di Indonesia, akses menuju Pulau Weh tidak sulit. Dari pelabuhan Kota Banda Aceh, Ulee Lheue terdapat dua jenis kapal yang biasa mengangkut orang atau barang untuk menyeberang, kapal cepat dan kapal lambat.

Ada beberapa kali keberangkatan setiap harinya. Harga tiketpun relatif terjangkau. Untuk kapal cepat harga tiketnya Rp75.000 per kepala dan kapal lambat Rp25 ribu. Namun jika Anda hanya ingin berlibur, pastikan kondisi cuaca, karena cuaca buruk tidak ada kapal yang boleh berlayar.

Perjalanan menggunakan kapal lambat menempuh perjalanan selama 2 jam, sedangkan kapal cepat hanya 1 jam. Sampai di pelabuhan Balohan menuju kota Sabang 15 menit lagi. Bagi yang ingin snokeling atau diving dari Sabang melanjutkan perjalanan ke Iboih yang jaraknya kurang lebih 20 km dari Sabang.

Pulau Weh salah satu pulau yang juga dilanda tsunami. Namun, tidak banyak korban nyawa akibat tsunami di pulau ini. Hanya saja banyak orang yang kehilangan tempat tinggal. Seperti pemukiman di Sabang, kota di Pulau Weh. Para korban yang kehilangan rumah mendapat bantuan tempat tinggal baru. Seperti Zikri dan keluarganya menempati rumah bantuan dari Arab di Iboih.

Kediaman Zikri dan keluarganya di Iboih, salah satu korban tsunami yang menempati rumah bantuan pasca-tsunami. Foto :Yuliana Dewi/batampos.co.id
Kediaman Zikri dan keluarganya di Iboih, salah satu korban tsunami yang menempati rumah bantuan pasca-tsunami. Foto :Yuliana Dewi/batampos.co.id

Satu hal yang menarik dan di luar dugaan saya, sebagai perbandingan ternyata kota Sabang jauh lebih baik dari ibu kota Provinsi yang pernah saya lihat, Tanjungpinang misalnya. Selama mengelilingi kota Sabang bahkan saat jalan menuju Iboih yang berada di luar kota Sabang, kondisi jalan bagus. Cukup mencegangkan, karena ini bukan ibu kota provinsi tapi infrastukturnya jauh lebih baik dari beberapa ibukota provinsi yang pernah saya lihat.

Tidak hanya kondisi jalan yang terjaga, pohon-pohon tua berusia ratusan tahun juga banyak terdapat di kota Sabang. Keberadaan pohon-pohon tersebut membuat kota Sabang semakin teduh. Bahkan kebersihan juga tampak sebagai prioritas dalam menata kotanya. Dari kondisi air laut di pelabuhannya tidak terdapat sampah. Demikian juga dengan kondisi laut di kawasan wisatanya.

Namun, biaya transportasi umum di Pulau Weh relatif mahal. Sebagai alternatif jika pergi berkelompok lebih baik rental mobil atau bisa juga rental motor jika pergi sendiri atau berdua. Rata-rata rental mobil sehari Rp350 ribu dan sepeda motor Rp120 ribu. Untuk pilihan hotel masih terbatas, namun banyak hostel yang ditawarkan untuk wisatawan, tarifnya beragam mulai dari Rp100 ribu.

“Pasca-tsunami wisatawan mulai ramai, khususnya ke Iboih,” ujar Zikri

Kodisi tersebut sangat disyukuri Zikri, karena kunjungan wisatawan ke daerahnya otomatis dapat memperbaiki kondisi ekonomi masyarakat di Pulau Weh.

Dibandingkan kota lain, perekonomian di Sabang sejak zaman Belanda hingga awal tahun 80-an sudah lebih baik. “Sabang dulu adalah pelabuhan bebas, sama halnya seperti di Batam, sekarang tidak seperti dulu lagi,” ungkapnya

Sebagaimana wilayah yang memiliki pelabuhan bebas, menurut Zikri dulu di Sabang banyak produk luar masuk, mobil-mobil mewah dan bukan hal yang aneh kalau banyak perlengkapan rumah tangga yang digunakan adalah produk luar. “Sekarang tidak ada lagi, tapi syukurlah dengan kondisi pariwisata saat ini,” papar Zikri yang memiliki kapal dan penyewaan alat snokeling di Pantai Iboih, Teupin Layeu.

Pulau Rubiah, salah satu lokasi snokeling di Aceh. Posisinya 20 km dari Sabang. Foto : Yuliana Dewi
Pulau Rubiah, salah satu lokasi snorkeling di Aceh. Posisinya 20 km dari Sabang. Foto : Yuliana Dewi/batampos.co.id

Selama kunjungan ke Pulau Weh, akitivitas yang umumnya dilakukan wisatawan snorkeling di Pulau Rubiah. Pulau ini hanya berjarak sekitar 250 meter dari Pantai Iboih. Pada masa kejayaan Kerajaan Aceh, Pulau Rubiah merupakan tempat transit bagi calon jamaah haji, dan pada masa perang dunia pulau ini merupakan benteng pertahanan yang sampai sekarang masih terlihat puing-puing benteng tersebut. Seiring perkembangan dunia wisata, Pulau Rubiah dijadikan tujuan wisata menyelam atau snorkeling. Usai melakukan aktivitas di air Anda dapat memanjakan perut Anda di warung makan yang banyak terdapat disepanjang pantai pulau Rubiah.

Dari Iboih menuju Pulau Rubiah menyewa kapal Rp200 ribu. Kapal bermuatan 10 orang ini sistem sewa, namun bagi Anda yang pergi sendirian atau berdua, bisa gabung dengan kapal lain untuk sharing biaya sewa. Anda diantar menyeberang ke Rubiah, kemudian dijemput kembali sesuai waktu yang dinginkan, biasanya yang mengantarkan akan meninggalkan nomor teleponnya. Dan jangan khwatir tidak dijemput, karena bayar sewa biasanya setelah aktivitas Anda selesai.

Sebelum nyeberang ke Pulau Rubiah, umumnya wisatawan mencari penyewaan alat snokeling di Teupin Layeu, dari sini juga kapal yang membawa wisatawan untuk snokeling ke Rubiah. Foto : Yuliana Dewi/batampos.co.id
Banyak penyewaan alat snorkeling di sepanjag pantai Iboih Teupin Layeu, dari sini juga kapal yang membawa wisatawan untuk snokeling ke Pulau Rubiah. Foto : Yuliana Dewi/batampos.co.id

Jika Anda yang tidak punya alat snorkeling jangan khawatir, banyak yang menyewakan alat snorkeling di Teupin Layeu. Satu set hanya Rp45 ribu mulai dari kacamata, pelampung dan sepatu katak. Jangan lewatkan moment foto-foto dibawah air. Kalau tidak ada kamera, bisa sewa kamera bawah air Rp150 ribu. Anda bisa foto sebanyak yang diinginkan, tapi jangan lupa bawa memory card sendiri.

Jika sudah ke Sabang dan Iboih, destinasi yang tidak boleh dilewatkan adalah titik O kilometer Indonesia. Lokasi titik O KM ini bukan di Sabang, namun 8 kilometer dari Iboih atau lebih dari 20 Kilometer dari Sabang. Tidak ada angkutan umum menuju lokasi ini. Karena itu menuju lokasi ini harus sewa kendaraan.

Jalan menuju O Km Indonesia ini kiri kanan hutan dan sesekali disuguhi dengan pemandangan laut. Jalan tersebut hanya untuk akses menuju monumen 0 Km Indonesia. Kondisi jalan menuju objek ini bagus, hanya saja medan jalan di Pulau Weh naik turun dan berbelok-belok. Namun, lalu lintas yang tidak ramai, sangat nyaman membawa kendaraan di pulau ini. Jangan katakan Anda sudah keliling Indonesia jika belum menginjakan kaki di 0 Kilometer Indonesia. ***

Respon Anda?

komentar