Feri Jurusan Daik Rusak Lagi, Jadwal Pelayaran Terganggu

885
Pesona Indonesia
Kapal feri MV Arena yang melayani rute Daik-Tanjungpinang. foto:hasbi/batampos
Kapal feri MV Arena yang melayani rute Daik-Tanjungpinang. foto:hasbi/batampos

batampos.co.id – Rusaknya salah satu armanda feri yang melayani rute Tanjungpinang-Daik menggangu jadwal keberangkatan dan kedatangan. Hal ini, menambah buruknya akses transportasi laut warga maupun wisatawan yang ingin datang ke Kabupaten Lingga.

Pantauan dilapangan, sejak empat hari terakhir armada MV Arena 3 rusak parah. Feri itupun, stop melayani penumpang. Baik dari Pelabuhan Tanjung Buton, Daik Lingga, maupun dari Sri Bintan Pura Tanjungpinang. Akibat kerusakan ini, hanya satu armada saja yang melayani dan terpaksa pulang pergi (PP) yakni MV Lingga Permai. Hal ini membuat, waktu kedatangan molor. Biasanya pukul 16.00 WIB menjadi pukul 19.00 WIB sampai di Tanjung Buton.

Ardy, salah seorang warga Dabo mengatakan akibat hal ini juga menyulitkan warga Dabo menyeberang ke Lingga. Sebab, rute feri di Daik, akan menyinggahi Pelabuhan Jagoh terlebih dahulu sebelum sampai ke Tanjungbuton. “Kapalnya rusak. Jadi kita terpaksa carter speedboat ke Penarik. Harganya Rp 300 ribu. Ditambah ojek lagi Rp 35 ribu. Jadi tambah mahal kan biayanya,” ungkap Ardi kecewa, Senin (11/4).

Selain Ardi, Ayu warga Pulau Lingga lainnya juga mengaku kecewa dengan buruknya pelanan publik transportasi laut di Lingga ini. Akibat terlambat dan sampai di Lingga sudah sangat malam, Ayu yang tinggal di Kecamatan Lingga Timur, 34 kilometer dari Kota Daik, menyulitkannya menempuh perjalanan darat. Kondisi jalan rusak dan gelap saat malam hari.

“Kalau tiba di Pelabuhan Tanjung Butonnya udah gelap (malam), sulit untuk pulang naik motor ke Lingga timur,” tambah Ayu.

Kondisi seperti ini katanya bukan kali pertama. Bahkan hampir setiap bulan terjadi. “Kalau kapalnya sudah tua, diganti saja. Jangan dipaksakan berlayar lah, kasihan penumpang seperti kami,” tutur Ayu.

Hal ini perlu menjadi perhatian serius pemerintah daerah. Untuk menggesa percepatan ekonomi, akses transportasi menjadi sangat penting. Sementara sejak menjadi kabupaten, belum pernah dilakukan upaya-upaya serius membenah transportasi laut di Lingga. Kapal-kapal tua bekas pelayaran dari Singapur dan Malaysia ditempatkan di Lingga. Umurnya bahkan lebih dari 20 tahun.

Sampai berita ini ditulis, kondisi kerusakan masih terjadi membuat feri ke Lingga masih melakukan pelayaran pulang pergi. (mhb/bpos)

Respon Anda?

komentar