Pajak Perusahaan Turun 5 Persen

1561
Pesona Indonesia
Menkeu Bambang Brodjonegoro. Foto: Anas/kemenkeu
Menkeu Bambang Brodjonegoro. Foto: Anas/kemenkeu

batampos.co.id – Menteri Keuangan (Menkeu) Bambang Brodjonegoro mengatakan pemerintah tengah mengkaji penurunan tarif pajak penghasilan (PPh) Badan menjadi sekitar 20 persen, dari yang sebelumnya sebesar 25 persen. Kajian ini dibahas dalam revisi Undang-Undang (UU) PPh yang ditargetkan bisa rampung tahun ini.

“Corporate tax memang rencananya akan kami turunkan. Pasti kami turunkan ke 20 persen. Kalau bisa (revisi UU PPh Badan) segera tahun ini,” tegas Bambang di Gedung DPR, Jakarta, Senin (11/4/2016).

Menkeu menatakan, tarif pajak perusahaan menjadi salah satu indikator yang berpengaruh besar pada daya saing investasi. Tarif PPh sebesar 25 persen saat ini masih relatif lebih tinggi jika dibandingkan dengan negara di kawasan ASEAN. Padahal negara-negara itu adalah kompetitor langsung untuk menggaet investasi.

Hanya Filipina yang mematok tarif PPh Badan lebih tinggi dari Indonesia, yakni 30 persen. Sementara Malaysia mematok tarif 25 persen, sama dengan Indonesia. Adapun negara lain, tarifnya lebih rendah. Misalnya, Vietnam 22 persen, Thailand 20 persen, dan Singapura menjadi yang terendah dengan tarif 17 persen.

Bambang mengakui, besaran PPh badan yang akan direvisi tersebut masih di atas Singapura yang tarifnya hanya 17 persen. Namun, dia menekankan perbedaan basis pajak Indonesia dengan Singapura. Dia menilai, revisi besaran PPh badan 20 persen tersebut masih mampu bersaing dengan negara-negara ASEAN lainnya. “Maksimal 20 persen, kenapa harus lebih rendah lagi?  Sebesar 20 persen itu masih kompetitif di ASEAN,” ujarnya.

Selama ini, penerimaan negara khususnya dari pajak, sangat bergantung dengan penerimaan PPh Badan. Pada realisasi penerimaan pajak 2015, besaran PPh Badan Rp 185,2 triliun. Sedangkan PPh penghasilan karyawan (pasal 21), realisasinya hanya Rp 114,5 triliun.

Pengamat Pajak Bawono Kristiaji mengatakan, rencana menurunkan tarif PPh Badan memang tidak dapat dilepaskan dari adanya tendensi kompetisi pajak di ASEAN. “Seperti kita tahu bahwa MEA (Masyarakat Ekonomi ASEAN) telah mendorong keinginan negara-negara ASEAN untuk menurunkan tarif PPh Badan mereka,” ujarnya.

Namun, kata Bawono,  pemerintah juga harus memikirkan kontribusi penerimaan PPh Badan terhadap total penerimaan pajak di Indonesia yang cukup besar, yaitu sekitar 35-40 persen. Padahal, di sisi lain target penerimaan pajak terus naik.  Juga masih terdapat beberapa kelemahan dalam ekstensifikasi pajak dari sektor-sektor  lain. “Jadi pemerintah mesti betul-betul mengkalkulasi,” katanya.

Menurut dia, jika tujuan utamanya memang untuk meningkatkan daya saing, pemerintah harus mengevaluasi faktor-faktor lain. Misalnya, infrastruktur, sumber daya alam, perizinan, hingga sumber daya alam.

“Tarif pajak hanya salah satu faktor. Jadi pemerintah harus giat membenahi  faktor lainnya juga,” jelasnya.

Wakil Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Suryadi Sasmita mengatakan, wacana penurunan tarif PPh Badan memang sudah lama diusulkan pelaku usaha.

“Sebab, penerimaan pajak memang harusnya dikejar dari penambahan jumlah wajib pajak. Bukan dari tarif yang tinggi,” ujarnya.

Suryadi yang juga merupakan anggota Tim Optimalisasi Penerimaan Pajak (TOPP) mengatakan, penurunan tarif PPh Badan bisa menjadi jalan untuk meningkatkan kepatuhan wajib pajak. Selain itu, penurunan juga efektif mendongkrak daya saing investasi Indonesia.

“Kami berpendapat, tarif PPh Badan idealnya 18 persen. Agar tidak beda jauh dengan tarif Singapura yang 17 persen,” katanya.

Ketua Umum Badan Pengurus Pusat Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (BPP Hipmi) Bahlil Lahadalia menilai, penurunan PPh Badan itu sudah baik. Meskipun, harusnya bisa lebih rendah. “Kalau tarif PPh Badan tinggi apa bedanya dengan zaman kolonial,” cetusnya.

Menurut pengusaha asal Papua ini, penurunan tarif PPh Badan memang harus dilakukan untuk meningkatkan daya saing Indonesia ditengah persaingan global.”Kalau kita lihat trennya negara-negara tetangga seperti Malaysia dan Thailand itu PPh Badan terus menurun. Jadi kita jangan sampai kalah,” tukasnya. (ken/owi/wir/sof/jpgrup)

Respon Anda?

komentar