Pengepul Ikan di Jemaja Keluhkan Tingginya Ongkos Kirim

594
Pesona Indonesia
ilustrasi
ilustrasi

batampos.co.id – Sejumlah pengepul ikan yang ada di Letung, Kecamatan Jemaja mengeluhkan tingginya harga angkut peti ikan ke Tanjung Pinang. Kuat dugaan tingginya harga tersebut dikarenakan adanya biaya tambahan oleh oknum yang tidak bertanggung jawab sehingga harga ongkos ikan perpeti melonjak tajam.

Salah seorang pengepul ikan dari Jemaja yang enggan disebut namanya mengaku heran karena antara ongkos kirim dari Tarempa ke Tanjungpinang dengan ongkos kirim dari Letung ke Tanjungpinang. Ongkos pengiriman ikan dari Letung jauh lebih mahal padahal jarak tempuh jelas lebih
dekat.

“Kalau di Letung ongkos angkut itu mencapai Rp190 ribu perpeti ikan sedangkan di Tarempa itu hanya Rp120 ribu. Padahal Letung jelas lebih dekat, malahan sebelum ke Tanjungpinang, harus melalui Letung dulu,” ungkapnya.

Hal tersebut sangat merugikan pengepul sehingga pengepul ikan harus menurunkan harga beli dari nelayan. Nelayan tersebut mengaku heran dengan perbedaan harga yang sangat signifikan tersebut. Ia meminta kepada pihak pemerintah khususnya dinas terkait seperti Dinas Kelautan dan Perikanan dan Disperindagkop untuk memperhatikan hal tersebut.

“Kami meminta pemerintah untuk melihat langsung persoalan ini karena efeknya berimbas kepada nelayan,” ungkapnya.

Bahkan dirinya mengancam akan melaporkan hal ini kepada kepala daerah jika pengiriman ikan masih tinggi. “Kita ini bekerja mau cari makan, kalau begini bagaimana,” keluhnya.

Menanggapi hal ini Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) KKA Yunizar mengaku belum mendapatkan laporan hal tersebut. Namun akan segera menindak lanjuti persoalan nelayan tersebut dan tidak akan membiarkannya berlarut-larut. “Saya belum dapat laporan namun saya
akan perintahkan kepala UPT untuk mengecek kabar yang beredar ini,” ungkapnya.

Yunizar dengan tegas mengatakan undang-undang Kelautan dan Perikanan juga sudah menyebutkan tidak ada retribusi bagi kapal pengangkut ikan dalam negeri. Untuk di Anambas hanya kapal pengakut ikan hidup dari Hongkong yang ditarik retribusinya. “Hal ini menyebabkan retribusi yang menghasilkan PAD dari bidang perikanan itu hanya Rp 200 juta pertahunnya,” paparnya.

Pihaknya juga akan segera melaporkan persoalan tersebut kepada Bupati KKA dan akan mencari solusi terbaik agar harga ongkos angkut ikan ini dapat disesuaikan antara Jemaja dan Tarempa. “Kita akan menyelesaikan persoalan ini agar masyarakat nelayan dapat tenang berkerja,” tutupnya. (sya/bpos)

Respon Anda?

komentar