Sekda Anambas Kunci untuk Menjerat Pihak Lain dalam kasus Korupsi Pengadaan Mess Pemda

1261
Pesona Indonesia
Rajda Tjelak Nur Djalal. foto:yusnadi/batampos
Rajda Tjelak Nur Djalal. foto:yusnadi/batampos

batampos.co.id – Raja Tjelak Nurjalal merupakan kunci untuk menjerat orang yang terlibat dalam kasus dugaan korupsi pengadaan mess dan asrama mahasiswa Anambas di Tanjungpinang, dengan menggunakan APBD tahun 2010 senilai Rp 5 miliar.

Hal tersebut, dikatakan Kepala Kejaksaan Tinggi (Kejati) Kepri, Andar Perdana Widiastono, saat ditemui di kantornya, Selasa (12/4).

”Yang bersangkutan tidak mungkin sendiri, pasti ada orang lain yang juga terlibat. Kuncinya ya ada di Sekda ini,” ujar Andar.

Dikatakan Andar, dirinya tidak peduli siapa orang yang juga terlibat dalam dugaan korupsi tersebut. Pihaknya pun menetapkan orang tersebut sebagai tersangka.

”Saya tidak peduli, jika terbukti akan kami jadikan tersangka. Jadi kami tunggu nyanyian dari Sekda itu, untuk mengetahui keterlibatan yang lainnya,” kata Andar.

Dilanjutkan Andar, pihaknya memang tidak melakukan penahanan terhadap Sekda Anambas tersebut. Alasannya, karena yang bersangkutan koperatif selama menjalani proses hukum setelah ditetapkan sebagai tersangka.

”Jangan berpikir aneh-aneh kalau dia gak ditahan. Dia tidak ditahan karena kooperatif dan kami juga sudah mendapatkan dua alat bukti dari kasus yang menjeratnya. Ada masanya dia akan kami tahan,” ucap Andar.

Selain itu, Andar juga mengaku salut kepada Raja Tjelak Nurjalal, karena mengundurkan diri dari jabatannya sebagai Sekda, setelah ditetapkan sebagai tersangka dan ingin fokus mengikuti proses hukum yang menjeratnya dan juga kooperatif memenuhi panggilan penyidik.

”Saya salut, dia ingin fokus menjalani proses hukum yang menjeratnya dan mengundurkan diri dari jabatannya di Pemkab Anambas,”sebut Andar.

Seperti diketahui, Kejaksaan Tinggi Kepri, menetapkan Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Anambas, Raja Tjelak Nurjalal sebagai tersangka korupsi pengadaan Mess Pemda dan asrama mahasiswa-mahasiswi asal Anambas, dengan menggunakan APBD tahun 2010 senilai Rp 5 miliar.

Penetapan status tersangka terhadap yang bersangkutan dilakukan pihaknya didasari atas adanya dua alat bukti yang dimiliki setelah sebelumnya melakukan penyelidikan dan penyidikan.

Penyelidikan dan penyidikan terhadap Mess Pemda dan mahasiswa-mahasiswi Anambas tersebut dilakukan atas adanya temuan dugaan korupsi dari APBD Anambas tahun 2010 yang dianggarkan senilai Rp 5 miliar dan telah memeriksa 17 orang saksi.

Dengan adanya pengadaan yang tidak sesuai tersebut, terdapat selisih nilai yang diduga dimark-up tersangka sehingga negara sangat dirugikan atas perbuatannya. Ia pun dijerat dengan Undang-undang korupsi nomor 31 tahun 1999 sebagaimana di ubah dengan Undang-undang nomor 20 tahun 2001 tentang pemberantasan korupsi.(ias/bpos)

Respon Anda?

komentar