Garuda Bangun Bengkel Pesawat dan Pusat Logistik di Bintan

1502
Pesona Indonesia
Pekerja memperbaiki pesawat di Garuda Maintenance Facility (GMF), hangar baru mikil Garuda Indonesia di Bandara Seokarno Hatta, Tangerang, 28 September 2015. Hanggar 4 ini dioperasikan oleh PT GMF AeroAsia, anak perusahan Garuda Indonesia. Foto: Marifka Wahyu Hidayat/tempo
Pekerja memperbaiki pesawat di Garuda Maintenance Facility (GMF), hangar baru mikil Garuda Indonesia di Bandara Seokarno Hatta, Tangerang, 28 September 2015. Hanggar 4 ini dioperasikan oleh PT GMF AeroAsia, anak perusahan Garuda Indonesia. Hanggar serupa bakal dibangun di Bintan, Kepri. Foto: Marifka Wahyu Hidayat/tempo

batampos.co.id -Industri penerbangan nasional makin tertarik menanamkan modalnya di Batam dan Bintan.

Setelah Lion Air membangun bengkel di Batam, kini giliran PT Garuda Maintenance Facility (GMF) yang akan membangun pusat maintenance, repair, and overhaul (MRO) dan pusat logistik di Pulau Bintan.

Hal ini menjadikan Kepulauan Riau sebagai kawasan industri perawatan pesawat yang terintegrasi.

Direktur Utama Bintan Aviation Investments (BAI) Frans Gunara menyatakan, fasilitas MRO akan dibangun di bandara internasional baru dengan landasan pacu (runway) sepanjang 3.000 meter. Landasan pacu tersebut bisa didarati pesawat berbadan lebar seperti Boeing 767 dan Airbus 330.

”Panjang landasan itu memungkinkan maskapai nasional dan internasional yang akan melakukan pemeliharaan,” kata Frans, Rabu (13/4/2016).

Peletakan batu pertama bandara dilakukan pada 2012. Rencananya, pembangunan selesai pada kuartal kedua 2018. Saat ini dibangun runway, taxiway, apron, fasilitas MRO, dan terminal penumpang untuk penerbangan umum.

BAI adalah anak perusahaan Gallant Venture Ltd asal Singapura. Pada 11 Februari 2014 GMF dan Gallant Venture Ltd menandatangani MoU untuk mengembangkan Bintan Aerospace Industrial Park (BAIP). Investasi awal mencapai USD 135 juta atau sekitar Rp 1,7 triliun.

Menteri Perindustrian Saleh Husin menjelaskan, perawatan pesawat dunia diprediksi terus tumbuh seiring dengan kebutuhan transportasi dan mobilitas antarwilayah. ”Banyak alasan kami untuk mendorong industri itu,” kata dia.

Peluang industri MRO di Indonesia sangat besar karena jasa penerbangan domestik dan internasional semakin tumbuh. Selain itu, jumlah penumpang pesawat terus meningkat. ”Indonesia juga merupakan salah satu sumbu lalu lintas udara di Asia dan dunia,” tutur dia.

Saat ini Indonesia memiliki 63 maskapai domestik dengan populasi 657 unit pesawat. Mayoritas berjenis Boeing 737 Series dengan 231 unit. Selain itu, terdapat 182 unit pesawat jenis lain yang dimiliki sekolah penerbangan, perusahaan perkebunan, dan pertambangan. (wir/c5/noe/pda) 

Respon Anda?

komentar