KEK Batam Bakal Pacu Permintaan Properti

1523
Pesona Indonesia
Ilustrasi properti di Batam.
Ilustrasi properti di Batam.

batampos.co.id – Geliat industri properti di Kota Batam diprediksi bakal tumbuh signifikan jika pemerintah memberlakukan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) di Batam.

Pasalnya, dengan KEK dan fasilitas tambahan yang diberikan di dalamnya bakal menarik investor dan menghidupkan pelbagai jenis industri. Imbasnya, akan terjadi peningkatan kebutuhan tenaga kerja.
“Kalau pekerja banyak, maka otomatis kebutuhan properti juga meningkat, itu peluang (bagi pengembang,red),” ujar Ketua Real Estat Indonesia (REI) Khusus Batam, Djaja Roeslim di acara Rakerda REI di Planet Hotel Holiday, Rabu (13/4/2016).
Menurut dia, saban tahun kebutuhan properti di Batam sebenarnya terus meningkat. Itu lantaran pertumbuhan penduduk di kota berbentuk kalajengking ini juga terus meningkat.
Namun, Djaja menyambung, di sisi lain perubahan nomenklatur kawasan Batam juga diprediksi punya imbas yang tak menggembirakan bagi pelaku industri properti. Ia mencontohkan jika Batam tak lagi jadi kawasan perdagangan bebas atau Free Trade Zone (FTZ).
“Kalau tidak ada FTZ, otomatis kita kena PPn (Pajak Pertambahan Nilai) dan bea masuk, itu akan mempengaruhi ongkos produksi kita,” kata dia.
Hal itu, ujar Djaja, juga berimbas terhadap harga penjualan properti yang diperkirakan bakal naik sekitar 20 hingga 30 persen.
“PPn itu 10 persen, ada lagi bea masuk, belum lagi kalau properti mewah kan bisa kena PPnBM (pajak pertambahan nilai barang mewah),” jelasnya.
Karena itu, Djaja berharap meski KEK diterapkan di beberapa kawasan di Batam, namun fasilitas FTZ di luar zona yang masuk KEK agar tetap dipertahankan.
“Kita berharap yang berada di kawasan pemukiman itu FTZ, apalagi posisi Batam yang strategis, termasuk untuk menarik pembeli asing,” terang Ketua REI Batam tersebut.
Di tempat yang sama, Ketua Umum REI, Eddy Hussy mendorong agar industri properti di Batam terus bertumbuh. Pasalnya, selain dapat memenuhi kebutuhan dan hajat hidup masyarakat terhadap tempat tinggal, industri properti juga dinilai jadi lokomotif ekonomi.
“Karena industri properti itu masuk industri padat karya dan memiliki multiplier effect terhadap beberapa sektor penopangnya,” kata Eddy.
Sementara itu, Wali Kota Batam, Muhammad Rudi yang didapuk membuka acara mengatakan pihaknya terus mendorong agar industri properti di Batam tumbuh signifikan seiring kebutuhan tempat tinggal bagi masyarakat.
“Kita berharap bisa bersama-sama menuntaskan persoalan sosial seperti ruli (rumah liar) dengan penyediaan properti maupun kerjasama bapak/ibu untuk menyisihkan lahan fasum untuk dibangun rusun (rumah susun) ke depan,” papar Rudi.
Selaku anggota Dewan Kawasan (DK) Batam yang turut menentukan format Batam ke depan, Wali Kota juga memberi angin segar bagi para pengembang properti di Batam. Khususnya, terkait pemberlakuan FTZ di Batam yang dinilai meringankan beban pelaku industri properti Batam.
“Bapak/ibu jangan khawatir, FTZ sepertinya masih akan berlaku untuk beberapa tahun ke depan,” kata dia. (rna/bpos)

Respon Anda?

komentar