Tak Diikutkan Pelatihan Las, Warga Jemaja Merasa Dianaktirikan

610
Pesona Indonesia
ilustrasi las welder.
ilustrasi las welder.

batampos.co.id – Warga Jemaja dan Jemaja Timur merasa kecewa atas adanya program Disnakertrans Pemkab Anambas yang membawa 15 warga untuk ikut pelatihan las ke Cepu, Blora, Jawa Tengah. Pasalnya, dalam program yang membawa 15 warga tersebut tidak satupun warga Jemaja maupun Jemaja Timur dilibatkan. Peserta dalam pelatihan tersebut hanya dari perwakilan empat kecamatan saja yakni dari Kecamatan Palmatak, Siantan, Siantan Selatan dan Siantan Timur.

Salah satu warga Jemaja, Safri mengatakan, program pemerintah untuk meningkatkan sumberdaya dibidang migas khususnya las sangat membantu masyarakat untuk menambah daya saing dengan daerah luar. Namun sangat disayangkan program tersebut tidak merata dilaksanakan oleh
Disnakertrans sehingga cenderung adanya pilih kasih warga yang ikut dalam program itu. Bahkan adanya program tersebut tidak pernah diketahui oleh masyarakat Jemaja.

“Kami sebagai warga Jemaja merasa di anaktirikan oleh Disnakertrans karena program itu selama ini belum pernah kita dengar,” ujarnya kepada wartawan Rabu (13/4) siang.

Safri juga menambahkan, program pelatihan las tersebut diketahui melalui media. Namun dirinya mempertanyakan karena sesuai dengan informasi yang diperolehnya tidak satupun warga Jemaja dan Jemaja Timur yang ikut dalam program tersebut. “Ketika saya coba cek kawan-kawan yang di
Jemaja tidak ada yang ikut, termasuk Jemaja Timur juga tidak ada yang masuk dalam program itu,” katanya.

Menanggapi hal ini Kepala Bidang Pelatihan dan Penempatan Tenaga Kerja Disnakertrans Kabupaten Kepulauan Anambas, Samad mengatakan, untuk warga yang masuk dalam program latihan mengelas itu harus sudah memiliki pengetahuan dasar mengelas. Jadi tidak semua orang bisa ikut
dalam pelatihan ini.

Pihaknya mengaku sebelum melakukan seleksi sudah mengirimkan surat ke Jemaja namun tidak ada jawaban. Sehingga warga Jemaja tidak ada yang ikut. Apalagi kendala transportasi dan rentang kendali juga lumayan jauh ke Jemaja.

Samad menambahkan, bagi warga yang berangkat ke Cepu sudah memiliki pengalaman dasar tingkat dua. Ada Rigger dan Crane, jadi warga yang biasa mengelas seperti pagar teralis belum bisa diikutkan dalam program itu.

“Untuk program pelatihan ke Cepu memang dibutuhkan keahlian khusus bahkan jika sudah sesuai tingkatannya sampai bisa mengelas didalam laut. Kita akan coba benahi lagi program ini kemungkinan kedepan akan kita lakukan lagi namun bisa saja materinya berbeda,” katanya.

Ini menjadi masukan, kata Samad, untuk Disnakertrans dikarenakan banyaknya masyarakat yang ingin masuk dalam program pelatihan tersebut. Bahkan menurutnya ada warga yang datang ke rumahnya agar diikutkan dalam program tersebut namun dikarenakan belum memenuhi syarat tidak bisa diikutkan.

“Kalau semua keinginan masyarakat kita penuhi, kita tidak akan sanggup karena tentunya program ini ada biaya,” katanya.

Diketahui, sebelumnya, Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kabupaten Kepulauan Anambas membawa 15 warga Anambas untuk dilatih di Cepu, Jawa Tengah. Pusat Pendidikan dan Latihan (Pusdiklat) Migas Cepu merupakan lembaga sertifikasi yang mengeluarkan sertifikat dalam mengelas pipa untuk pengeboran migas.

“Tahun ini kita ada program pelatihan las dengan membawa putra daerah ke Cepu. Kita membawa 15 orang yang akan dilatih dan diharapkan bisa mendapatkan sertifikat yang telah diakui oleh perusahaan Migas,” ujar Samad kepada sejumlah wartawan, Jumat(1/4) lalu.

Sertifikat itu dibagi menjadi beberapa kategori, pertama sertifikasi kompetensi dan sertifikat pelatihan. “Kita berharap peserta yang kita bawa ke sana ada yang lulus kompetensi,” ujarnya.(sya/bpos)

Respon Anda?

komentar