Petisi Dukung Penendang Garuda Pancasila Muncul, Isinya Singgung Ketua FPI

655
Pesona Indonesia
Sahat S Gurning ditahan di Mapolres Tobasa, Sumut. Foto: Metro Siantar/JPG
Sahat S Gurning ditahan di Mapolres Tobasa, Sumut. Foto: Metro Siantar/JPG

batampos.co.id – Polres Toba Samosir (Tobasa) Sumut telah menahan dan resmi menetapkan Sahat S Gurning, si penendang Garuda Pancasila, sebagai tersangka pelecehan lambang negara, pada 13 April lalu.

Rekan-rekannya sesama aktivis memberikan dukungan melalui petisi di media sosial. Satu hari setelah petisi itu diunggah, dukungan petisi berjudul “Mempetisi Polres Tobasa Bebaskan Sahat S Gurning” itu sudah mencapai dua ratusan orang pada pada Kamis (14/4) pukul 20.00 WIB.

Diberitakan Metro Siantar (Jawa Pos Group), dalam petisi itu terdapat tulisan yang mengungkapkan dukungan untuk Sahat.

Tulisan pada petisi itu bunyinya: “Seorang Pemuda Tobasa di tangkap dan di enjarakan akibat membongkar kebohongan yang bertopengkan Pancasila. Sahat sangat berbeda dengan Zaskia Gotik yang mengolok-olok (melecehkan) Pancasila. Apalagi dengan Habib Rizieq  Ketua FPI yang jelas-jelas menghina Pancasila, namun dibiarkan bebas. Apa yang dilakukan Sahat S Gurning, sesungguhnya deskripsi kekecewaan dan protes kepada sebagian pejabat negara yang sarat dengan praktik korupsi. Juga mengatasnamakan rakyat untuk kepentingan pribadi dan golongan, di luar kepentingan khalayak ramai.

Tentu keberanian, kesiapan serta kejujurannya membongkar kemunafikan Negeri ini berujung di jeruji besi harus dijadikan tamparan bagi para perampas hak rakyat. Kenapa dia mengkritik lewat simbol itu? karena sesunguhnya dia sangat cinta NKRI. Apa yang disampaikannya adalah refleksi dari ketidakadilan di Indonesia.

Bagaimanana tidak, mayoritas penegak hukum di Republik ini seperti masih buta akan koruptor yang merampas hak masyarakat. Dia hanya menyusun kritiknya menjadi lima point, dengan melihat realita yang terjadi, lalu menamai dengan “PANCAGILA” hingga akhirnya dijemput oleh pihak Kepolisian Tobasa. Bukan berarti rasis, dan tidak ada maksud memecah belah, apalagi mengancam keamanan Nasional.

Banyak orang yang tidak senang dengan kritiknya, ibarat orang yang tersentak bangun dari tidur panjangnya, tanpa mencari tahu apa penyebab kekecewaan dari Sahat S Gurning.

Dan mereka langsung menghujat Sahat, sesungguhnya tujuan menantang Negara dan masyarakat untuk mewujudkan nilai luhur Pancasila itu adalah satu bentuk hilangnya kepercayaan seorang pemuda akan keadaan di tempat kelahiran serta Negaranya

Betapa tidak, ia melihat begitu banyak pejabat negara yang bersembunyi dan menjadikan Pancasila sebagai topeng. Lantas siapa sesungguhnya pengkhianat Pancasila itu sendiri?

Bukankah para koruptor dan perampas hak masyarakat, yang malah asyik ongkang-ongkang kaki,  Lalu menjadikan rakyat kecil sebagai tirai di atas kemunafikaan dan kebohongan.

Sahat S Gurning bukan perkara mau terkenal dan mencari sensasi. Tapi inti permasalahan adalah rasa kekecewaannya terhadap sistem Negara yang menurutnya tidak menjalankan Pancasila dengan baik dan sesuai dengan mandat dari penggagas Pancasila. Kenapa Sahat protes? Alangkah baiknya bertanya pada diri kita masing-masing. Apakah Pancasila sudah diterapkan sesuai dengan mandat dan cita-cita Negara Indonesia?.

Karena masih banyak rakyat kelaparan, Tanah dan hak masyarakat atas wilayah kelola dan ruang-ruang penghidupannya telah dirampas dengan paksa dari Sabang sampai Merauke, konflik agraria yang semakin merajalela. Dan Rakyat  kecil dipaksa kalah. Apakah kita harus berpura-pura buta lagi dengan itu ? Mari kita bertanya pada hati nurani kita.” (JPG)

Respon Anda?

komentar