Warga Tionghoa Minta Pemerintah Provinsi Benahi Jalan Lintas Timur Lingga

1232
Pesona Indonesia
Kondisi jalan lintas timur dan bukit baygon yang tinggi dan rusak parah. Pemkab Lingga harapkan keseriusan dan perhatian pemprov untuk membangun jalan provinsi ini.  foto: hasbi/batampos
Kondisi jalan lintas timur dan bukit baygon yang tinggi dan rusak parah. Pemkab Lingga harapkan keseriusan dan perhatian pemprov untuk membangun jalan provinsi ini. foto: hasbi/batampos

batampos.co.id – Warga Tionghoa di Lingga meminta pemerintah serius membenahi akses darat, jalan lintas timur yang merupakan jalan provinsi di Kabupaten Lingga. Pasalnya, akses tersebut menjadi jalur warga menuju Dusun Centeng dan Sambau, tempat ibadah dan pusat kegiatan selama hari raya Imlek dan juga kegiatan keagamaan lainnya.

Kondisi jalan yang rusak parah, kerap mejadi masalah dan persoalan warga. Bukan hanya kesulitan akses orang, barang dan jasa namun kesulitan menuju tempat ibadah. Sehingga perlu ada perhatian serius pemerintah Provinsi Kepri, karena status jalan adalah jalan provinsi.

Rianti Tan, salah seorang warga Kabupaten Lingga yang kini berdomisili di Batam mengatakan, setiap tahun baru Imlek, Kampung Centeng dan Sambau menjadi tujuan warga Tionghoa. Karena merupakan kampung tua, Centeng dan Sambau yang juga memiliki klenteng tua, banyak warga Tionghoa berasal dari sana. Mereka kini berdomisili di luar Lingga seperti Tanjungpinang, Batam, Jakarta, Singapura dan Malaysia. Namun setiap tahun warga Tioghoa akan pulang kampung merayakan tradisinya.

“Jalannya butuh perhatian serius. Saya bukan kelahiran Lingga, tapi orangtua saya tinggal di sana. Setiap tahun pulang kampung, merayakan Imlek, serasa mau nangis lewati jalan itu,” kata Rianti kepada Batam Pos, Kamis (14/4).

Dikatakan Rianti, lubang jalan yang dalam dengan bukit terjal yang aspalnya rusak parah, membuat ia pernah hampir jatuh. Jadi akses jalan sepanjang 14 kilometer itu sudah seharusnya mendapat perhatian. Sebab juga menjadi akses warga puluhan desa dan kecamatan di Lingga Timur.

“Mohonlah ada pembenahan. Kasian yang datang jauh-jauh dari luar, untuk bertemu keluarga dan warga di sana setiap hari harus melewati jalan rusak ini,” tambahnya.

Menurut Riati lagi, di Lingga khususnya wilayah Lingga Timur dan Lingga Utara tersebut bukan hanya menjadi tujuan perjalanan religi saat tahun baru Imlek, juga menyimpan potensi wisata yang luar biasa. Namun, untuk mengeksplore kampung orangtuanya tersebut kepada teman-teman di kampusnya, banyak yang patah semangat karena mengetahui kondisi jalan rusak tersebut.

“Bagaimana kita bisa eksplore Lingga. Banyak teman kampus yang mau ikut, tapi karena kondisi jalan banyak yang takut. Padahal banyak lho wisata yang bagus di sana,” tutupnya.(mhb/bpos)

Respon Anda?

komentar