Jadilah Burung

Oleh : Husnizar Hood

2467
Pesona Indonesia

Kendaraan yang membawa kami malam itu melaju kencang, desis anginnya berdesau membuat kami tak mendengar suara yang lainnya kecuali suara kami berdua, mungkin seperti itulah burung terbang, sunyinya berbeda, pikir saya. Ya, terbang ke tempat yang tinngi, menembus cakrawala, melanglang buana di dirgantara, kemudian hinggap di ranting pohon atau dahan-dahan nan rindang. “Jangan terlalu lama engkau hinggap wahai burung, kekuatanmu pada sayap bukan kaki, maka terbanglah lagi”, kawan saya yang baik itu mengucapkannya dengan pasti.

“Menjadi burung, jadilah sebenar-benar burung, jika tidak sayapmu dipatahkan!”, ujar Mahmud. Kawan saya yang satu ini selalu saja begitu, mengeluarkan sesuatu yang selalu saja tak terduga. Menerbangkan pikiran-pikiran cerdasnya dihdapan kita yang terkadang membuat saya iri. Selalu saja didahuluinya dengan tak memberi kesempatan kepada saya sama sekali. Malam ini di memulainya dengan mengatakan “Menjadi burung”. Hmmm…. Apa yang diharapkan dari burung yang dikatakannya itu?

“Iya Tok, jadilah burung, ia sadar bahwa kekuatannya pada sayap bukan pada kaki karena itu ia tak berlama-lama untuk hinggap, kemudian terbang lagi, dan burung itu selalu dapat membaca situasi, jika ia berlama-lama hinggap, maka peluru para pemburu siap menerjangnya dan dia akan mati”.

“Maksud awak Mud?”, Tanya saya. Hmmm…..kawan saya kalau sudah mendengar kalimat tanya begitu, jikalau melihat wajah kita dalam keadaan kosong, tak tahu, mulailah ia tersenyum sinis dan bagai melayang ia diatas angin mengajuk kita. Ia mendehem dan tertawa kecil. Itu sama artinya mungkin ia ingin berkata. “Masa’ segitu aja tidak tahu”. Huh!

“Kita harus tahu Tok, kekuatan kita dimana dan itu yang kita utamakan, kita jangan cepat puas dengan yang kita miliki sekarang, yang ada pada kita, kita harus terbang lebih tinggi lagi tapi untuk kebaikan, karena di ketinggian kita bisa melihat semua yang ada dibawah, seperti burung-burung yang terbang itu”, Mahmud menunjuk tangannya ke atas.

Saya mengikuti arah jarinya. Langit gelap, ah, mungkin itu bahasa kiasan Mahmud saja. “Kalau ia berlama-lama di sebuah dahan maka maut malah akan mengintainya, jadi sasaran tembak ,Tok”.

Saya mengangguk-anggukkan kepala. Saya berpikir keras, pikiran cerdas kawan saya ini apa pula hubungannya dengan tempat yang ingin kami kunjungi? Ya, kami sedang menuju ke rumah duka, tujuh hari sudah peristiwa duka itu kita lewati. Sunyinya terasa hingga kini, meskipun suara tahlil menyeruak ke langit dari ribuan mulut-mulut ikhlas, dari lidah-lidah yang petah menyebut asma Allah. Dikurung baju-baju tanpa warna. Putih. Seputih kecintaan mereka kepada yang telah pergi mendahului kita semua tetap saja di dada terasa hampa.

Tujuh hari sudah juga air mata itu mengalir menjadi sungai-sungai duka negeri ini. Jangan cemari dengan angan-angan tak bertuan, prasangka-prasangka buta yang akan membawa kegaduhan. “Biarlah ia jernih menuju muara pengobat rindu itu”, bisik Mahmud kepada saya.

“Semua kita pasti akan merindukannya, ya Mud dan kita jaga dan kita rawat rindu itu hingga nanti terobati meskipun tak akan mungkin terganti”, imbuh saya.

“Terbang dan datang lagi, itu pasti”, Mahmud berucap sambil membetulkan pecinya.

Dan saya baru sadar, apa yang dikatakan Mahmud itu mungkin begitulah yang telah dilakukan oleh “Ayah”. Ya, kami semua juga mereka memanggil dengan sebutan yang sama.

“Ayah itu terus saja terbang, hinggap pada satu dahan kemudian terbang lagi dan kemudian hinggap lagi di dahan-dahan yang lebih tinggi, dia melihat semua yang ada di bawahnya untuk ia singgahi, untuk ia ajak bicara dan mencari jalan penyelesaiannya dalam kicauannya yang merdu. Sayap kesumbanya bagai tak pernah mengenal lelah”, kenang saya.  Kami berdua berdiam diri dalam waktu yang agak lama.

Kini burung itu telah terbang jauh sejauh puncak cahaya yang ditujunya. Saya menarik nafas dalam dan saya melihat kawan saya itupun melakukan hal yang sama. Malam itu kami bersurai berjalan diantara sesak doa.

Siang itu speedboat kecil itu membawa kami melintas laut, desis anginnya sama seperti desis angin malam itu. Desis yang didengar oleh burung-burung yang terbang melintasi laut. Ketika melaju di atas laut tanpa gelombang ini selalu saja kita takjub dengan ciptaan Sang Maha, teringat akan garangnya gelombang hari kemarin mengombang-ambingkan perahu dan kita yang ada di dalamnya tapi pagi ini berubah ia bagai permaidani biru terhampar sejauh mata menuju. Itulah kehidupan pasang dan surut silih berganti.

Kami menuju ke Batam, negeri yang menurut Mahmud kawan saya itu adalah negeri yang lahir tanpa ijab kabul itu, negeri yang terus digasak mesin-mesin pabrik, suara perempuan penjaja badan yang mendesah lalu mereka yang kehilangan tanah. Mesin-mesin yang menghirup saripati kemelayuan negeri ini menjadi tawar dijual kemana-mana atas nama ekonomi bangsa. Saya masih teringat, Ayah pernah berkata, terserah Batam akan kalian jadikan apa tapi jangan buat rakyat saya jadi sengsara”.

Itulah wasiat untuk kita semua kalimah sakti untuk jadi bekal kita merajut negeri ini ke depan. Gedung tempat mereka bekerja itupun bergambar burung dengan mata yang tajam. Apakah mereka bisa menjadi burung yang seperti diceritakan Mahmud, seperti Ayah, yang terbang dan hinggap dan terbang lagi, melihat ke bawah, kepada mereka yang digerus keputusasaan dari ke angkuhan kalian.

Saya dan Mahmud melihatnya, melihat gedung tinggi itu, melihat gambar burung yang lantang dan menyergam itu. Saya berbisik kepada Mahmud, “Kenalkah mereka dengan awak Mud? Rugi kalau mereka tak mengenal awak, mereka tak tau tentang kisah kampong awak  di Dompak”. Mahmud tersenyum. “Siapalah saya?”, kawan saya itu merendah. Saya tertawa.

Tahukah mereka dengan kebiasaan kawan saya itu duduk di kedai kopi setiap pagi dan dikedai kopi itu tak berlaku argumentasi sekalipun lulusan dari luar negeri. Tahukah mereka para petingi BP Batam yan baru kalau orang Melayu itu mengamuknya tak dapat diungkapkan dengan kata dan merajuknya tak terpujukkan dengan kata-kata”.

Di Batam ini kami tak ingin berlama-lama, kami ingin mengucapkan selamat malam dan kemudian bermimpi, bertemu isteri tercantik seperti 19 tahun yang lalu memberikan buah hati buah cinta kita yang kedua, dia gadis kecil yang berdiri di atas perahu, berani berlayar sendiri, mengarung, bersama burung-burung.

(Terimakasih Bung Hinca P, selamat Ulang tahun anakku Rike Puiskalaraswita)

Respon Anda?

komentar