Pemkab Harus Tegas Stop Aktifitas Pertambangan

772
Pesona Indonesia
Lahan bekas tambang bauksit di Dusun Teregeh, Desa Sekanah, Kecamatan Lingga Utara. Foto: hasbih/batampos
Lahan bekas tambang bauksit di Dusun Teregeh, Desa Sekanah, Kecamatan Lingga Utara. Foto: hasbih/batampos

batampos.co.id – Meski pansus tambang DPRD Lingga telah mendapat rekomendasi dari Distamben Provinsi Kepri untuk menyetop seluruh aktifitas tambang di Lingga, namun hal tersebut belum ada ketegasan dari pemerintah daerah. Aktifitas pertambangan masih saja berlangsung.

Pantauan dilapangan, seperti halnya PT Growa Indonesia di Tanjung Irat, Singkep Barat yang menambang pasir maupun di Dusun Lengkok, Desa Limbung, Kecamatan Lingga Utara, tetap beraktifitas. Padahal tambang pasir di Singkep diduga izinnya tidak sah. Namun, tongkang-tongkang pengangkut pasir tetap hilir mudik.

“Semua harus distop, termasuk tambang pasir,” kata Khairil Anwar, Ketua Pansus Tambang sekaligus Ketua Komisi II DPRD Lingga.

Untuk sementara, aktifitas pertambangan apapun di Lingga harus dihentikan. Sembari menunggu verifikasi data ke 57 perizinan tambang di Kabupaten Lingga. Termasuk dugaan izin abal-abal 23 perusahaan tambang yang dikeluarkan mantan Pj Bupati Lingga Edi Irawan.

“Surat sudah kita sampaikan ke Ketua DPRD. Sementara distop dulu, sampai hasil verifikasi Distamben keluar,” tambah Anwar.

Sementara itu, Ardi salah seorang warga Singkep mengatakan secara pribadi sangat menolak aktifitas pertambangan di Lingga. Meskipun iming-iming hasil besar yang selalu ditawarkan pengusaha, dampak lingkungan, kekeringan, kerusakan lahan menjadi duka berkepanjangan warga Lingga yang notabennya wilayah kepulauan dan pesisir.

“Lihat saja di Dabo. Pemerintah sampai kebingungan mau dibangun apa. Lahan-lahan dikuasai pengusaha tambang. Mau di tanam tidak bisa. Tambang juga distop. Lahan itu tidur nyenyak,” katanya.

Selain itu, kajian Amdal, kata Ardi, juga harus benar-benar dilakukan. Bukan survei asal-asalan. Sebab, 10 tahun terakhir dampaknya jelas dirasakan masyarakat.

“Mind set masyarakat harus diubah. Kita wilayah pesisir. Tinggal di pulau-pulau kecil. Kalau bauksit, granit, timah, pasir di jual semua keluar, mau tinggal dimana lagi kita. Mau tinggal di sampan kajang? Kembali jadi orang laut. Tambang apapun itu, sama saja memindahkan pulau-pulau kecil keluar secara perlahan,” tutup Ardi. (mhb/bpos)

Respon Anda?

komentar