Dua Warga Singapura Diancam Parang di Bukit Clara, Seluruh Harta Dirampas

1956
Pesona Indonesia
Mark Thang dan Samantha Moberg, sepasang WN Singapura yang menjadi korban pemerasan di Kaki Bukit Clara Batam Centre, Minggu (17/4/2016) siang, membuat laporan di Mapolsek Batam Kota.  Foto: Dalil Harahap/batampos
Mark Thang dan Samantha Moberg, sepasang WN Singapura yang menjadi korban pemerasan di Kaki Bukit Clara Batam Centre, Minggu (17/4/2016) siang, membuat laporan di Mapolsek Batam Kota. Foto: Dalil Harahap/batampos

batampos.co.id -Citra pariwisata Batam tercoreng oleh ulah bandit jalanan. Dua warga negara asing asal Singapura yang sedang mengabadikan foto “Welcome to Batam” di kaki bukit Clara Batam Centre, Minggu (17/4/2016) siang didatangi bandit dan diancam akan ditebas parang jika tak mau menyerahkan harta benda mereka.

Korban bernama Mark Thang dan Samantha Moberg itu pun kehilangan ponsel, uang tunai Rp 500 ribu, dan 300 SGD. Ironisnya kejadian ini berlangsung siang bolong dan tak jauh dari Mapolsek Batam Kota.

Mark menceritakan aksi penodongan itu terjadi saat ia bersama kekasihnya mengabdikan “Welcome to Batam” yang bertengger di atas Bukit Clara mengunakan ponselnya.

Tak lama, tiba-tiba dua orang pelaku yang mengendarai sepeda motor menghampirinya sambil membawa sebilah parang.

“Saya tak mau melawan. Ada parangnya. Itu orang cakap ambil semua-ambil semua,” ujar Mark menirukan perkataan pelaku di Mapolsek Batam Kota.

Selain merampas barang miliknya, pelaku juga mengancam kekasihnya. Barang milik Samantha berupa ponsel turut dirampas pelaku.

“Saya kasih semuanya. Ciggarete (rokok) juga,” tutur pria 26 tahun tersebut.

Menurutnya, pelaku mempunyai postur tubuh sedang. Pelaku mengenakan baju kaus dan mengenakan helm. Dia mengaku tak mengetahui plat nomor sepeda motor yang dikendarai pelaku.

“Kalau plat nomor saya tak hafal. Mereka laju,” jelasnya.

Dia berharap aparat penegak hukum bisa menangkap pelaku. Mengingat aksi pelaku tersebut mengancam nyawa dan merugikan pengunjung.

“Takut lah. Tak bisa apa-apa,” tutup Mark.

Sementara itu, Kasat Reskrim Polresta Barelang, Kompol Memo Ardian mengatakan masih melakukan pengembangan terhadap laporan korban. “Masih lidik,” ujarnya singkat.

Dua WNA asal Singapura ini bukan korban pertama. Banyak warga Batam yang juga sering menjadi korban pemerasan di kaki bukit tersebut. Ironisnya, tak satupun tertangkap. Bahkan, meski tempat tersebut menjadi tempat tujuan wisatawan untuk foto-foto, namun tak ada satupun petugas keamanan di tempatkan di sana. (opi/jpgrup)

Respon Anda?

komentar