Bunga Bank Single Digit Makin Realistis

2186
Pesona Indonesia
ilustrasi. Foto: dok.jpgrup
ilustrasi. Foto: dok.jpgrup

batampos.co.id – Langkah Bank Indonesia (BI) mengganti suku bunga acuan dari BI Rate menjadi BI 7-day repo rate, dinilai sebagai langkah progresif untuk mendorong penurunan suku bunga.

Anggota Komite Ekonomi dan Industri Nasional (KEIN) Sudhamek AWS mengatakan, selama ini BI Rate yang relatif lebih tinggi dan rigid (kaku) menjadi salah satu penyebab tingginya suku bunga kredit.

“Akibatnya, dunia usaha harus memikul beban bunga kredit yang lebih mahal dibanding negara Asean,” ujarnya Sabtu malam (16/4/2016).

Bos Garuda Foods itu mengakui, sebenarnya penurunan bunga acuan saja belum cukup. Sebab, ada banyak faktor yang mempengaruhi tingginya bunga kredit di Indonesia. Misalnya, untuk kredit korporasi masih di kisaran 11 – 12 persen, serta bunga kredit sektor UKM yang di kisaran 19 persen.

“Salah satunya adalah NIM (net interest margin) yang terlalu tinggi,” katanya.

NIM adalah selisih antara suku bunga simpanan dan suku bunga pinjaman. Dia menyebut, NIM perbankan Indonesia yang mencapai 5 – 6 persen, jauh lebih tinggi dibanding rata-rata NIM perbankan di Asean yang sebesar 2 – 3 persen.

“Maka, NIM ini harus dinormalisasi. Butuh peran OJK (Otoritas Jasa Keuangan) untuk mendorong itu,” ucapnya.

Menurut Sudhamek, upaya menurunkan suku bunga kredit memang harus melibatkan BI, OJK, maupun pemerintah. Khusus pemerintah, lanjut dia, harus mulai menghentikan praktek pemberian kupon Surat Berharga Negara (SBN) yang lebih tinggi dari deposit rate (suku bunga simpanan perbankan).

“Akibatnya, bank pun terpaksa mematok bunga simpanan tinggi agar tetap bisa menarik dana nasabah,” jelasnya.

Meski demikian, kata Sudhamek, penggantian bunga acuan dengan skema BI 7-day repo rate, memang bisa menjadi pemicu dorongan penurunan suku bunga. Syaratnya, BI, OJK dan pemerintah harus bergerak kompak dan tegas.

“Dengan begitu, single digit rate is possible (mungkin dicapai),” ujarnya.

Dari Badan Pusat Statistik (BPS), kebijakan penggantian bunga acuan dinilai tidak akan berdampak besar pada inflasi. Deputi Bidang Statistik, Distribusi dan Jasa BPS Sasmito Hadi Wibowo menuturkan, instrumen kebijakan moneter yang baru ini, tidak akan memberikan tekanan besar pada perbankan, sehingga dampak inflasinya pun tidak begitu terasa.

“Tadinya kan dengan BI rate yang akhirnya dampak ke bunga di perbankan. Sebetulnya Repo ini mengurangi tekanan terhadap perbankan, tapi tidak tajam sehingga menurut saya tidak signifikan perubahannya terhadap inflasi,” papar Sasmito.

Sasmito mengatakan sektor mikro cukup berperan dalam inflasi. Sementara kebijakan 7day repo rate tersebut tidak berpengaruh besar terhadap sektor tersebut. Karena itu, kebijakan tersebut tidak akan berdampak langsung terhadap inflasi.

“Saya kira dari sisi mikro tidak terlalu banyak mengalami gangguan terhadap inflasi,”katanya.

Meski begitu, Sasmito menuturkan bahwa inflasi tetap harus dikendalikan. Khususnya menjelang bulan puasa dan lebaran. Dia memperkirakan, kenaikan harga-harga kebutuhan pokok akan terjadi pada pertengahan Juni ini.

“Perkiraannya mulai antara 7 atau 8 Juni, menjadi puncaknya inflasi. Karena itu kita tetap menjaga inflasi dan saat ini inflasi kita masih terjaga,”imbuhnya. (owi/ken/jpgrup)

Respon Anda?

komentar