Berbicara Bahasa Arab, Seorang Mahasiswa Diusir dari Pesawat

666
Pesona Indonesia
(ilustrasi)
(ilustrasi)

batampos.co.id – Kasus Islamofobia kembali terjadi di negeri Paman Sam. Maskapai Southwest Airlines memutuskan untuk mengeluarkan Mahasiswa Universitas California, Berkeley, Khairuldeen Makhzoomi (26) karena berbicara bahasa Arab sebelum pesawat lepas landas, Senin (18/4).

Makhzoomi saat itu berada di pesawat untuk menerbangan dari Los Angeles ke Oakland. Sebelum pesawat terbang, ia menelpon pamannya di Baghdad untuk bercerita soal acara yang ia datangi hari sebelumnya. Acara itu menghadirkan Sekretaris Jenderal PBB, Ban Ki-moon.

“Saya sangat bersemangat dengan acaranya, jadi saya menghubungi paman untuk bercerita soal itu,” kata Makhzoomi pada New York Times. Di akhir percakapan mereka, Makhzoomi mengucapkan ‘Insya Allah’ sebagai ucapan sebelum menutup telepon.

Penumpang di dekat Makhzoomi menganggap ucapan itu sebagai sesuatu yang mungkin mengancam. Penumpang perempuan itu kemudian pindah ke depan.

“Ia terus memandangi saya dan saya tidak tahu apa yang salah, tapi kemudian saya sadar dan berharap ia tidak melaporkan,” kata Makhzoomi.

Ternyata, peremuan itu melapor pada staf pesawat bahwa Makhzoomi mungucap kalimat syahid. Tak lama kemudian, Staf mendatanginya dan bertanya dengan intonasi yang tinggi seakan berbicara pada binatang.

“Saya katakan padanya, beginilah Islamofobia di AS,” katanya. Makhzoomi kemudian dikawal personil keamanan keluar pesawat dan bandara. Tiga agen FBI dipanggil oleh otoritas keamanan bandara dan menginterogasi Makhzoomi di ruangan khusus.

FBI menanyainya soal keluarga, khususnya ayahnya, Khalid Makhzoom. Ia adalah mantan diplomat Iran yang dikirim ke penjara Abu Ghuraib oleh Saddam Hussein. Ayahnya itu kemudian dieksekusi oleh rezim.

FBI mengonfirmasi kemudian Makhzoomi tidak berbahaya. Sementara Soutsouthhwest Airline menolak berkomentar soal penanganan pada karyawannya.

“Kami menyesali pengalaman tidak positif yang dihadapi pelanggan di pesawat kami. Southwest tidak sama sekali menoleransi diskriminasi dalam bentuk apa pun,” kata mereka dalam pernyataan.

Makhzoomi hanya ingin maskapai ini minta maaf atas perlakukan yang diterimanya. Menurut Makhzoomi, ia dan keluarganya sudah cukup sabar juga menganggap ini sebagai kenangan buruk.

“Jika mereka minta maaf, mungkin ini akan mengajarkan pada mereka untuk memperlakukan orang sama rata,” katanya. (pojoksatu)

Respon Anda?

komentar